Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Novri Nelly

Mengapa Laba-Laba Justru Disukai Petani?

Riset dan Teknologi | 2026-06-30 15:58:24

Oleh : Novri Nelly
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Pada sebuah lahan sawah, ditemukan setidaknya enam jenis laba-laba berbeda hidup berdampingan di satu petak padi mulai dari laba-laba serigala, laba-laba rahang panjang, laba-laba bermata jalang, hingga laba-laba kecil yang jumlahnya bisa mencapai puluhan ekor per petak. Bukan hama. Bukan ancaman. Semuanya predator yang setiap hari memburu wereng dan serangga kecil lain yang sebenarnya merugikan tanaman padi.

Sementara banyak orang merinding melihat laba-laba, petani yang memahami ekosistem sawah justru menyambut kehadirannya.

Bukan serangga, tapi sekutu yang sama berharganya

Penting digarisbawahi sejak awal: laba-laba bukan serangga. Secara taksonomi, ia tergolong Arachnida berkaki delapan, bukan enam seperti serangga pada umumnya. Tapi soal manfaatnya bagi petani, laba-laba berada di liga yang sama dengan musuh alami terbaik dari golongan serangga.

Ada beberapa jenis laba-laba yang paling sering dijumpai di sawah padi Indonesia, masing-masing dengan strategi berburu yang berbeda.

Si pemburu aktif: laba-laba serigala

Laba-laba serigala (Lycosa pseudoannulata) adalah pemburu yang aktif mencari dan mengejar mangsanya secara langsung. Kemampuannya memangsa bergantung pada ukuran dan tingkat keaktifan target ia cenderung lebih efektif menangkap hama yang kurang lincah, seperti nimfa wereng hijau yang belum bisa terbang jauh.

Si bermata enam segi yang lincah

Laba-laba bermata jalang (Oxyopes javanus) punya ciri khas yang mudah dikenali: mata berbentuk segi enam dan tungkai berduri panjang, dengan ukuran tubuh sekitar 7 hingga 10 milimeter. Laba-laba ini tergolong sangat produktif mampu memangsa delapan ekor wereng punggung putih dalam sehari. Rentang hidupnya sekitar 150 hari, dan satu ekor betina bisa menghasilkan hingga 350 butir telur sepanjang hidupnya artinya populasi predator ini bisa terus regenerasi dengan cepat selama habitatnya dijaga.

Si penjebak diam-diam di malam hari

Berbeda dari dua jenis sebelumnya, laba-laba berahang panjang (Tetragnatha spp.) punya strategi berburu yang lebih pasif. Pada siang hari ia cenderung diam, tapi begitu malam tiba, ia aktif membangun sarang berbentuk jaring. Mangsa yang terjebak di jaring itulah yang kemudian ditangkap dan dimakan. Jenis laba-laba ini tercatat memangsa berbagai jenis wereng, termasuk wereng coklat, wereng hijau, dan wereng punggung putih.

Dalam beberapa penelitian di lahan sawah, Tetragnatha justru tercatat sebagai spesies laba-laba paling dominan dibandingkan jenis lainnya terutama di lahan dengan populasi wereng coklat yang tinggi, karena wereng menjadi mangsa utama bagi laba-laba dari famili ini.

Mengapa keberadaannya menjadi indikator kesehatan sawah

Salah satu prinsip ekologi paling mendasar adalah: kelimpahan predator berbanding lurus dengan kelimpahan mangsanya. Semakin tinggi populasi wereng di suatu lahan, semakin tinggi pula populasi laba-laba yang hidup di sana karena makanan yang tersedia berlimpah.

Inilah yang membuat keberadaan laba-laba menjadi indikator yang bisa dibaca petani berpengalaman. Sawah yang dipenuhi laba-laba bukan sawah yang bermasalah justru sebaliknya, itu adalah sawah di mana sistem pertahanan alami sedang bekerja secara aktif menanggapi keberadaan hama.

Ancaman terbesar bagi sang pelindung

Sayangnya, laba-laba sangat rentan terhadap penggunaan insektisida berspektrum luas. Penelitian yang membandingkan lahan dengan penerapan Pengendalian Hama Terpadu dan lahan dengan praktik konvensional secara konsisten menemukan populasi laba-laba yang jauh lebih rendah di lahan yang sering disemprot pestisida kimia. Ketika laba-laba ikut musnah bersama hama yang menjadi target semprotan, sistem pertahanan alami sawah pun ikut runtuh.

Sahabat yang tidak butuh dirayu

Tidak seperti musuh alami yang perlu dibudidayakan secara khusus di laboratorium, laba-laba akan datang dan berkembang biak sendiri selama habitatnya tidak diganggu dengan pestisida yang tidak perlu. Petani tidak perlu melakukan apa pun yang istimewa untuk mendapatkan jasa laba-laba cukup membiarkannya hidup, dan ia akan bekerja tanpa diminta.

Lain kali melihat jaring laba-laba di antara rumpun padi, alih-alih merasa jijik atau terganggu, mungkin saatnya melihatnya sebagai apa yang sebenarnya: jaring pengaman gratis yang sedang bekerja menjaga hasil panen.

Fakta menarik: Salah satu spesies laba-laba berahang panjang, Tetragnatha maxillosa, tercatat sebagai arthropoda predator paling dominan di beberapa varietas padi yang diteliti di Indonesia mengungguli jumlah spesies predator lain, termasuk dari golongan serangga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image