Memahami Disiplin dan Kebebasan Perempuan Jawa dalam Cerpen Sri Sumarah dan Bawuk
Sastra | 2026-06-11 09:09:30
Memahami Disiplin dan Kebebasan Perempuan Jawa dalam Cerpen Sri Sumarah dan Bawuk
Dalam dunia sastra Indonesia, Umar Kayam dikenal karena kemampuannya menangkap dinamika keluarga Jawa secara mendalam. Melalui cerpen Sri Sumarah dan Bawuk, pembaca diajak memahami bagaimana perempuan menghadapi pilihan hidup yang sulit, sambil menunjukkan ketabahan, pengorbanan, dan kesetiaan terhadap keluarga.
Sri Sumarah
Sri Sumarah adalah cerminan perempuan Jawa yang sabar, tabah, dan penuh pengorbanan. Ia menikah dengan Mas Marto, seorang suami yang awalnya tampak baik, namun kemudian berselingkuh dan tidak selalu hadir dalam kehidupan keluarga. Kehilangan Mas Marto akibat wabah El Tor menambah beban hidupnya, memaksanya menghadapi kesendirian dan tanggung jawab yang berat.
Sumarah harus membesarkan anaknya, Tun, seorang diri. Ia tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik dan materi anaknya, tetapi juga berusaha menjaga ketenangan dan kesejahteraan emosional Tun. Ketika Tun menghadapi situasi sulit, termasuk kehamilan sebelum menikah, Sumarah tetap mendampingi dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.
Selain itu, Sumarah bekerja sebagai tukang pijat tradisional untuk menghidupi diri dan cucunya, Ginuk. Pekerjaan ini menjadi simbol kemandirian dan pengabdian kepada sesama. Ia membantu orang-orang yang datang kepadanya, tidak hanya menyembuhkan keluhan fisik, tetapi juga menjadi tempat mereka bercerita. Pekerjaan itu sekaligus menunjukkan ketabahan Sri setelah berbagai musibah menimpa keluarganya:
“Sejak malam itu Sri telah menetapkan namanya sebagai tukang pijit. Sejak malam itu kabar cepat tersiar di dalam kampung itu bahwa Bu Marto memiliki keahlian memijit yang menakjubkan. Orang mulai berdatangan bergantian minta tolong dipijit.” (Kayam, 1975, hlm. 227)
Tema utama kisah Sri adalah kesabaran, ketabahan perempuan Jawa, pengorbanan seorang ibu, dan kemampuan menerima kenyataan hidup. Akhir cerita menunjukkan Sri sebagai perempuan tua yang tetap memegang prinsip sumarah: berserah diri, tabah, dan menerima hidup apa adanya, sambil tetap menjaga kasih sayang terhadap keluarga.
Bawuk
Bawuk, anak bungsu dari keluarga priyayi, digambarkan bebas, cerdas, dan pemurah. Ia menikah dengan Hasan, seorang aktivis PKI, dan ikut hidup dalam pelarian setelah peristiwa 1965. Ia menjadi buronan bersama suaminya dan terpaksa menitipkan anak-anaknya kepada ibunya, namun tetap setia kepada Hasan meski hidup penuh risiko:
“Akan datang Sabtu malam ini, Wowok dan Ninuk saya bawa. Sudilah Ibu selanjutnya menjaga mereka. Bawuk.” (Kayam, 1975, hlm. 99)
Tema utama kisah Bawuk adalah kesetiaan kepada suami, cinta dan pengorbanan, konflik keluarga dan ideologi, serta dampak tragedi politik 1965 terhadap kehidupan manusia.
Kedua cerita menampilkan perempuan Jawa sebagai tokoh utama yang mengalami pengorbanan besar dan kesetiaan terhadap keluarga. Baik Sri Sumarah maupun Bawuk menghadapi penderitaan hidup yang berat, tetapi tetap menunjukkan kekuatan batin dan komitmen terhadap anak dan keluarga.
Fenomena ini relevan dengan kehidupan saat ini. Banyak anak muda merasa “terjebak” karena dipaksa mengikuti jalur karier mapan ala Sri Sumarah, padahal jiwa mereka lebih mirip Bawuk yang ingin mengejar passion atau tujuan hidup berbeda, misalnya menjadi seniman, entrepreneur mandiri, atau aktivis sosial. Keberanian mengambil risiko, seperti yang ditunjukkan Bawuk, menggambarkan orang yang meninggalkan kenyamanan demi memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar, meski lingkungan sekitar tidak selalu memahaminya.
Kisah mereka mengajarkan dua hal penting: kesabaran dan ketabahan tetap dibutuhkan untuk menghadapi cobaan hidup, tetapi keberanian dan kemampuan membuat pilihan yang selaras dengan nilai diri juga penting. Sri dan Bawuk menunjukkan bahwa pengorbanan, kesetiaan, dan cinta pada keluarga dapat berjalan beriringan dengan kemandirian dan keberanian untuk menghadapi dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
