Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Egalitas Nisrani Hulu

FOMO di Kalangan Mahasiswa: Ketika Takut Tertinggal Menjadi Beban Sosial

Lainnnya | 2026-06-10 11:02:18
Gambar utama: Ilustrasi mahasiswa menggunakan media sosial.

Mengapa Fenomena FOMO Banyak Terjadi pada Mahasiswa di Era Digital?

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran internet memudahkan manusia untuk memperoleh informasi, berkomunikasi, serta menjalin hubungan sosial tanpa batas ruang dan waktu. Salah satu dampak dari perkembangan tersebut adalah meningkatnya penggunaan media sosial di berbagai kalangan, terutama mahasiswa.Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia didominasi oleh kelompok usia produktif yang aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi dan pencarian informasi. Melalui berbagai platform digital, mahasiswa dapat mengikuti perkembangan berita, aktivitas teman, hingga berbagai tren yang sedang populer.Kemudahan akses informasi tersebut memang memberikan banyak manfaat. Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat memunculkan fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FoMO.

Apa Itu FOMO?

Fear of Missing Out (FoMO) merupakan kondisi ketika seseorang merasa cemas atau khawatir akan tertinggal informasi, pengalaman, kegiatan, maupun kesempatan yang sedang dialami orang lain. Perasaan ini mendorong individu untuk terus mengikuti perkembangan terbaru agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Menurut Przybylski dan rekan-rekannya (2013), FoMO adalah perasaan takut kehilangan momen berharga yang sedang dialami oleh orang lain, sementara dirinya tidak dapat ikut terlibat dalam momen tersebut. Kondisi ini sering kali muncul akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial.

Melalui media sosial, seseorang dapat melihat berbagai pencapaian, aktivitas, maupun gaya hidup orang lain. Paparan informasi tersebut dapat memunculkan perasaan bahwa kehidupan orang lain terlihat lebih menarik, lebih sukses, atau lebih menyenangkan dibandingkan dirinya sendiri.Fenomena FoMO banyak ditemukan pada mahasiswa karena mereka berada pada fase kehidupan yang penuh dengan proses pencarian jati diri, pengembangan kemampuan, serta perluasan relasi sosial. Pada masa ini, mahasiswa cenderung ingin diterima oleh lingkungan pertemanan dan tidak ingin dianggap tertinggal dari kelompoknya.

Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Mahasiswa?

Selain itu, mahasiswa merupakan kelompok yang sangat dekat dengan teknologi digital. Aktivitas akademik, organisasi, komunikasi, hingga hiburan sebagian besar dilakukan melalui internet dan media sosial. Akibatnya, mahasiswa terus-menerus terpapar berbagai informasi mengenai kehidupan orang lain.Media sosial sering menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, seperti prestasi akademik, keberhasilan organisasi, pencapaian karier, maupun aktivitas hiburan. Paparan tersebut dapat menimbulkan perasaan bahwa orang lain selalu lebih produktif dan lebih berhasil. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu munculnya FoMO.Keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial juga menjadi faktor yang memperkuat fenomena tersebut. Banyak mahasiswa merasa perlu mengikuti berbagai tren, kegiatan, atau peristiwa tertentu agar tetap dianggap aktif dan relevan dalam lingkungan sosialnya.

Dampak FOMO bagi Mahasiswa?

FoMO dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan mahasiswa, baik dalam aspek akademik maupun kesehatan mental.

Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah meningkatnya kecemasan. Mahasiswa yang mengalami FoMO cenderung merasa khawatir ketika tidak mengetahui informasi terbaru atau tidak dapat mengikuti aktivitas yang sedang dilakukan oleh teman-temannya. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis yang berkepanjangan.

Selain itu, FoMO juga dapat menyebabkan ketergantungan terhadap media sosial. Mahasiswa menjadi terdorong untuk terus memeriksa notifikasi, melihat unggahan terbaru, atau mengikuti berbagai perkembangan yang terjadi di dunia maya. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi produktivitas dan mengganggu konsentrasi dalam belajar.

Dampak lainnya adalah terganggunya kualitas tidur. Keinginan untuk selalu terhubung dengan media sosial membuat sebagian mahasiswa tetap aktif menggunakan gawai hingga larut malam. Akibatnya, waktu istirahat menjadi berkurang dan kondisi fisik maupun mental dapat menurun.

Dalam jangka panjang, FoMO juga dapat memengaruhi prestasi akademik. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau menyelesaikan tugas sering kali tersita untuk mengakses media sosial. Kondisi ini dapat menurunkan fokus dan efektivitas belajar mahasiswa.

Cara Mengatasi FOMO di kalangan Mahasiswa itu bagaimana sih?

Mengatasi FoMO memerlukan kesadaran dan pengendalian diri yang baik. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membatasi penggunaan media sosial sesuai kebutuhan. Mahasiswa perlu mengatur waktu penggunaan media sosial agar tidak mengganggu aktivitas akademik maupun kehidupansosial secara langsung.Selain itu, mahasiswa perlu memahami bahwa media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya. Oleh karena itu, membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus bukanlah hal yang sehat.Mahasiswa juga perlu menetapkan tujuan hidup yang jelas sesuai dengan minat, kemampuan, dan potensi yang dimiliki. Dengan memiliki tujuan yang terarah, perhatian akan lebih fokus pada pengembangan diri dibandingkan pada pencapaian orang lain.

Interaksi sosial secara langsung juga perlu ditingkatkan. Berkomunikasi dan beraktivitas bersama keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap media sosial serta meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Selain itu, literasi digital perlu ditanamkan agar mahasiswa mampu menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab. Pemahaman yang baik mengenai dampak positif dan negatif media sosial dapat membantu mahasiswa menghindari perilaku yang memicu FoMO.

Kesimpulan

Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) menjadi salah satu tantangan yang banyak dialami mahasiswa di era digital. Tingginya penggunaan media sosial serta keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi membuat mahasiswa rentan mengalami perasaan takut tertinggal dari orang lain. Kondisi tersebutdapat berdampak pada kesehatan mental, kualitas tidur, hubungan sosial, hingga prestasi akademik. Oleh karena itu, diperlukan kontrol diri, penggunaan media sosial secara bijak, serta pemahaman bahwa setiap individu memiliki proses dan waktu pencapaian yang berbeda. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjalani kehidupan akademik dan sosial secara lebih sehat, seimbang, dan produktif.

Referensi

APJII. (2017). Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia.

APJII. (2024). Laporan Survei Internet Indonesia 2024.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out.

Stillman, D., & Stillman, J. (2018). Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru.

Jamaludin, dkk. (2022).

Nasiruddin, & Rapa'. (2022).

Zaidhan, dkk. (2023).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image