Komentar Lebih Murah daripada Empati
Teknologi | 2026-07-11 14:36:44Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Kini, setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat hanya melalui layar ponsel. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat dibanjiri ribuan komentar dari berbagai kalangan. Sayangnya, kemudahan ini sering kali tidak diiringi dengan kebijaksanaan dalam berkomunikasi. Alih-alih menunjukkan kepedulian, banyak orang justru lebih cepat menghakimi. Akibatnya, komentar menjadi sesuatu yang murah, sedangkan empati semakin sulit ditemukan.
Fenomena ini semakin sering terlihat ketika sebuah kasus menjadi viral. Sebelum fakta terungkap, media sosial sudah dipenuhi berbagai opini. Banyak pengguna internet merasa harus ikut berkomentar agar tidak tertinggal dari percakapan yang sedang ramai. Padahal, mereka belum tentu memahami duduk persoalannya secara utuh. Potongan video beberapa detik, tangkapan layar, atau judul berita yang provokatif sering kali cukup untuk membuat seseorang dijadikan sasaran penilaian publik.
Kasus yang dialami Freya JKT48 beberapa waktu lalu menjadi salah satu contoh nyata. Freya melaporkan dugaan penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) setelah fotonya diduga dimanipulasi menjadi konten yang tidak pantas dan disebarkan di media sosial. Peristiwa ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi juga membawa ancaman baru terhadap privasi dan martabat seseorang.
Namun, yang terjadi di ruang digital justru memperlihatkan sisi lain masyarakat. Di tengah proses hukum yang masih berjalan, kolom komentar dipenuhi berbagai spekulasi. Sebagian orang memberikan dukungan kepada Freya sebagai korban dugaan penyalahgunaan teknologi, tetapi tidak sedikit pula yang melontarkan candaan, menyalahkan korban, bahkan membuat narasi yang belum tentu benar. Reaksi semacam ini menunjukkan bahwa banyak pengguna media sosial lebih terdorong untuk memberikan komentar daripada mencoba memahami situasi yang sebenarnya.
Padahal, teknologi seperti AI generatif telah memunculkan tantangan baru yang tidak sederhana. Manipulasi foto atau video dapat dilakukan dengan semakin mudah sehingga siapa pun berpotensi menjadi korban. Dalam kondisi seperti itu, yang dibutuhkan adalah dukungan terhadap korban serta penghormatan terhadap proses hukum, bukan penghakiman yang didasarkan pada asumsi atau rasa ingin tahu semata.
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada kasus Freya. Hampir setiap kali ada selebritas, influencer, atau bahkan masyarakat biasa yang mengalami musibah, media sosial berubah menjadi ruang sidang tanpa hakim. Ribuan orang merasa berhak menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, padahal mereka hanya mengetahui sebagian kecil dari keseluruhan cerita. Ironisnya, semakin keras komentar yang ditulis, semakin besar pula peluang komentar tersebut mendapatkan perhatian.
Budaya ini diperkuat oleh algoritma media sosial. Konten yang memicu emosi—baik kemarahan, kebencian, maupun kontroversi—cenderung memperoleh interaksi lebih tinggi. Semakin banyak komentar dan perdebatan, semakin luas pula penyebaran konten tersebut. Tanpa disadari, pengguna media sosial ikut menjadi bagian dari sistem yang lebih menghargai reaksi cepat daripada pemahaman yang mendalam.
Di sisi lain, empati justru membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diperoleh secara instan. Empati menuntut kita untuk mendengarkan, memahami konteks, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu tampak di balik layar. Sayangnya, dalam budaya digital yang serba cepat, proses tersebut sering diabaikan. Yang lebih penting adalah menjadi orang pertama yang berkomentar.
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa komentar di media sosial hanyalah candaan atau bentuk kebebasan berpendapat. Padahal, kata-kata yang ditulis di balik layar tetap memiliki dampak nyata. Komentar yang merendahkan, menghina, atau menyalahkan korban dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang. Luka akibat perkataan memang tidak terlihat secara fisik, tetapi efeknya bisa bertahan jauh lebih lama.
Kebebasan berekspresi memang merupakan hak setiap orang. Namun, kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab moral. Kritik tetap diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi kritik yang baik lahir dari fakta, disampaikan dengan sopan, dan bertujuan memberikan solusi. Sebaliknya, komentar yang hanya berisi hinaan atau spekulasi tidak memberikan manfaat apa pun selain memperkeruh suasana.
Kasus Freya JKT48 menjadi pengingat bahwa siapa pun dapat menjadi korban penyalahgunaan teknologi digital. Hari ini mungkin seorang publik figur, tetapi besok bisa saja masyarakat biasa. Oleh karena itu, membangun budaya digital yang sehat bukan hanya tugas pemerintah atau platform media sosial, melainkan tanggung jawab seluruh pengguna internet.
Sebelum menekan tombol "Kirim", ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah komentar ini akan membantu menyelesaikan masalah, atau justru menambah beban bagi orang lain? Pertanyaan sederhana tersebut mungkin terdengar sepele, tetapi dapat menjadi awal dari perubahan besar dalam cara kita berinteraksi di ruang digital.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya diikuti oleh kemajuan cara berpikir. Jika kecerdasan buatan terus berkembang, maka kecerdasan emosional manusia juga harus ikut berkembang. Jangan sampai kita hidup di zaman yang semakin modern, tetapi semakin kehilangan rasa peduli terhadap sesama. Sebab, masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang paling cepat berkomentar, melainkan masyarakat yang mampu menempatkan empati di atas keinginan untuk menghakimi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
