Wabah yang Tak Bisa Diselesaikan oleh 'Orang Pintar'
Sastra | 2026-06-09 23:03:30
Pernahkah kita mencium bau busuk yang begitu menyengat hingga membuat kita menutup hidung dan segera mencari sumbernya? Kita menoleh ke kanan, ke kiri, lalu menunjuk sesuatu yang dianggap menjadi penyebab. Namun, bagaimana jika bau itu ternyata berasal dari diri kita sendiri?
Pertanyaan itulah yang terasa terus bergema setelah membaca cerpen Wabah karya Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Meski ditulis sudah beberapa tahun lalu, cerpen ini terasa seolah sedang berbicara tentang kehidupan hari ini. Tentang masyarakat yang sibuk mencari kesalahan di luar dirinya, tetapi enggan menengok ke dalam.
Cerpen tersebut menceritakan mengenai masyarakat yang digemparkan oleh bau busuk yang secara tiba-tiba menyebar dengan cepat. Bau yang sangat mengganggu itu membuat setiap orang merasa tidak nyaman, dan perlahan menimbulkan kepanikan. Berbagai dugaan bermunculan, orang-orang mulai mencurigai satu sama lainnya. Mereka semua merasa dirinya bersih, sementara sumber masalah pasti berasal dari orang lain.
Situasi itu terasa begitu dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika terjadi persoalan sosial, yang pertama kali dicari sering kali bukanlah solusi, melainkan pihak yang dapat disalahkan. Seperti media sosial, suatu tempat yang penuh dengan penghakiman. Kolom komentar dipenuhi tudingan, semua orang berlomba menjadi hakim, sementara hanya sedikit yang bersedia menjadi terdakwa bagi dirinya sendiri. Ironisnya, semakin mudah kita mengomentari kehidupan orang lain, semakin sulit pula kita mengomentari diri sendiri.
Di tengah kebingungan tersebut, muncul satu adegan yang menurut saya menarik untuk diperhatikan, yakni ketika masyarakat mendatangi seorang "orang pintar". Mereka berharap mendapatkan jawaban mengenai sumber wabah yang sedang terjadi, ternyata upaya mereka nihil. Adegan ini mungkin tampak sederhana, tetapi menyimpan kritik yang cukup tajam. Sebab, Ketika menghadapi masalah, manusia sering kali lebih senang mencari jawaban dari luar dirinya daripada menelusuri kemungkinan bahwa dirinya sendiri Adalah bagian dari masalah tersebut.
Sering kali, ketika menghadapi masalah, manusia tergoda untuk mencari jalan pintas. Kita mencari seseorang yang dianggap mampu memberikan jawaban instan, sosok yang dapat menunjukkan siapa yang salah, siapa yang harus bertanggung jawab, sekaligus menawarkan penyelesaian yang cepat. Padahal, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan cara seperti itu.
Menariknya, penyelesaian dalam cerpen Wabah tidak datang dari kesaktian siapa pun. Wabah tidak hilang karena ramalan, petunjuk ajaib, atau kemampuan luar biasa seseorang. Perubahan justru terjadi ketika masyarakat mulai menyadari bahwa bau busuk itu tidak hanya berasal dari luar, melainkan juga dari diri mereka sendiri. Kesadaran tersebut mendorong mereka untuk membersihkan rumah, lingkungan, dan diri mereka masing-masing.
Kekuatan cerpen Wabah berada di sinilah. Gus Mus tidak hanya membawa kritik sosial tetapi juga menawarkan solusi. Ia tidak berhenti pada gambaran masyarakat yang suka menyalahkan orang lain. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk berkaca.
Bagi saya, "wabah" dalam cerpen ini bukan sekadar bau busuk. Gus Mus sengaja tidak menghadirkan wabah dalam bentuk penyakit yang kasatmata. Ia memilih bau busuk, sesuatu yang tidak terlihat tetapi dapat dirasakan oleh semua orang. Pilihan simbol ini membuat pesan cerpen terasa lebih kuat, sebab kebusukan moral memang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Ini merupakan simbol dari berbagai penyakit sosial yang sering kali dianggap biasa, seperti kesombongan, kemunafikan, prasangka buruk, kebiasaan menghakimi, hingga keengganan untuk mengakui kesalahan sendiri. Penyakit-penyakit itu tidak datang dari satu orang saja, ia menyebar dan hidup di tengah masyarakat karena banyak orang merasa dirinya tidak terlibat.
Sayangnya, kebiasaan tersebut masih mudah ditemukan hingga hari ini. Kita hidup di zaman yang canggih dimana informasi bergerak sangat cepat, tetapi refleksi diri sering berjalan sangat lambat. Kita lebih mudah menemukan kekurangan pada orang lain dibandingkan kekurangan pada diri sendiri. Kita lebih suka mencari kambing hitam daripada bertanya, "Apakah saya juga menjadi bagian dari masalah ini?"
Melalui cerpen Wabah, Gus Mus seolah mengingatkan bahwa tidak semua persoalan membutuhkan ‘orang pintar’. Justru, masalah yang kita hadapi seharusnya dapat kita temukan jalannya sendiri. Sebagian persoalan terkadang hanya membutuhkan keberanian yang lebih sederhana, tetapi jauh lebih sulit, yaitu keberanian untuk jujur kepada diri sendiri.
Mungkin karena itulah cerpen ini terasa tetap relevan. Sebab wabah yang diceritakan Gus Mus sesungguhnya belum benar-benar berakhir. Ia masih ada dalam bentuk yang berbeda-beda. Terkadang hadir dalam ujaran kebencian, terkadang muncul dalam kesombongan, dan bisa saja bersembunyi dalam keyakinan bahwa diri kita selalu lebih benar daripada orang lain.
Dalam cerpen itu, jalan keluarnya mungkin bukan dengan terus mencari siapa yang salah, melainkan dengan sesekali berhenti, lalu berkaca.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
