Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Figa Phita

Gaya Komunikasi Generasi Z di Tengah Arus Digital

Edukasi | 2026-06-09 18:30:36

Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana cara teman sebayamu berbicara baik secara langsung maupun di media sosial terasa sangat berbeda dari cara orang tua atau guru berkomunikasi atau mungkin kamu sendiri merasakan betapa nyamannya mengekspresikan diri lewat emoji, meme, dan voice note ketimbang percakapan tatap muka yang panjang, Jika ya, kamu sedang mengalami salah satu fenomena sosial paling menarik di era ini: pergeseran gaya komunikasi generasi muda di tengah arus digital.Generasi Z mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 tumbuh bukan hanya berdampingan dengan teknologi, tetapi benar-benar di dalam ekosistem digital. Mereka adalah generasi pertama yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet. Kondisi ini membentuk cara mereka berpikir, berinteraksi, dan mengekspresikan diri secara fundamental berbeda dari generasi sebelumnya.Namun, perubahan ini bukan sekadar soal pilihan platform komunikasi. Lebih dari itu, ini adalah transformasi mendalam tentang bagaimana identitas dibentuk, bagaimana makna dikonstruksi, dan bagaimana hubungan sosial dijalin. Artikel ini akan mengajak pembaca memahami fenomena tersebut secara kritis bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami lebih dalam dinamika komunikasi generasi muda masa kini.

Salah satu ciri paling mencolok dari komunikasi Gen Z adalah penggunaan bahasa gaul atau slang digital yang kaya dan terus berkembang. Kata-kata seperti "no cap", "slay", "ghosting", "lowkey", hingga singkatan seperti "wkwk", atau "gaskeun" bukan sekadar cara bicara asal-asalan. Mereka adalah sistem kode sosial yang berfungsi sebagai penanda identitas kelompok.Penelitian Arfiyanto, Haloho, dan Zufar, (2025) menemukan bahwa penggunaan bahasa gaul di platform X (sebelumnya Twitter) secara signifikan memengaruhi gaya komunikasi digital Generasi Z. Bahasa gaul bukan hanya mencerminkan kreativitas linguistik, tetapi juga menjadi alat untuk mempererat solidaritas kelompok sekaligus membatasi siapa yang "termasuk" dan siapa yang "tidak termasuk" dalam komunitas tertentu.Secara psikologis, fenomena ini dapat dipahami melalui teori identitas sosial. Ketika seseorang menggunakan bahasa yang sama dengan kelompoknya, ia menegaskan keanggotaannya dan memperkuat rasa memiliki. Bahasa menjadi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen pembentukan identitas sosial yang kuat terutama di masa remaja ketika pencarian identitas sedang berada di puncaknya.

Bayangkan media sosial sebagai panggung pertunjukan. Setiap unggahan, setiap caption, setiap foto yang dipilih semuanya adalah bagian dari pertunjukan yang dirancang untuk membentuk kesan tertentu di mata audiens. Inilah yang oleh sosiolog Erving Goffman disebut sebagai impression management pengelolaan kesan diri dalam interaksi sosial.Di era digital, panggung pertunjukan ini tidak pernah tutup. Ia beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan audiensnya bisa mencapai ribuan bahkan jutaan orang. Penelitian Dewi, (2024) yang dilakukan di salah satu SMA kota Pinrang mengungkap bahwa Generasi Z sangat sadar akan konstruksi citra diri mereka di media sosial. Setiap konten yang mereka bagikan merupakan hasil pertimbangan sadar atau tidak sadar tentang bagaimana mereka ingin dipersepsikan oleh orang lain.Yang menarik, citra diri yang dibangun di dunia digital sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan identitas asli seseorang. Ada selective self-presentation: individu cenderung menampilkan versi terbaik, terekstrem, atau paling menarik dari dirinya. Hal ini dapat menciptakan kesenjangan antara "diri digital" dan "diri nyata" sebuah tegangan psikologis yang tidak selalu mudah dikelola, terutama bagi remaja yang masih dalam proses pembentukan identitas.

Di balik gemerlapnya budaya digital, tersimpan tantangan serius yang sering luput dari perhatian: etika berkomunikasi. Kemudahan dan kecepatan komunikasi digital kadang membuat batas-batas kesopanan, empati, dan tanggung jawab sosial menjadi kabur. Sari, Choirunnisa, Ananda, dan Dewi, (2025) menegaskan bahwa literasi media memainkan peran krusial dalam membentuk etika komunikasi digital generasi muda. Individu yang melihat media cenderung lebih bijak dalam menyaring informasi, lebih bertanggung jawab dalam menyebarkan konten, dan lebih empatik dalam berinteraksi secara daring. Sebaliknya, rendahnya literasi media dapat menjadi lahan subur bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan siber.Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi digital bukan hanya persoalan teknis ini adalah persoalan nilai dan karakter. Kecepatan jari mengetik di keyboard tidak boleh melampaui kecepatan hati dalam mempertimbangkan dampak kata-kata yang diucapkan.

Menarik untuk disadari bahwa meski dunia digital awalnya dianggap miskin dimensi non-verbal, kenyataannya justru sebaliknya. Platform seperti TikTok telah menciptakan ekosistem komunikasi non-verbal yang sangat kaya dan kompleks.Penelitian Maghfiroh dan Riswandari, (2025) mengkaji makna etika komunikasi non-verbal Generasi Z di TikTok melalui perspektif interaksi simbolik. Mereka menemukan bahwa gestur, mimik wajah, pilihan musik latar, transisi video, hingga arah pandangan mata semuanya memiliki makna sosial yang disepakati secara kolektif oleh pengguna. Ini adalah bahasa tersendiri yang harus "dipelajari" untuk bisa berpartisipasi penuh dalam ekosistem komunikasi tersebut.Lebih jauh, penelitian tersebut menunjukkan bahwa performativitas digital cara seseorang menampilkan diri melalui konten video telah menjadi bagian tak terpisahkan dari bagaimana Generasi Z mengonstruksi dan mengomunikasikan identitasnya. Sebuah tarian pendek, sebuah transisi kamera, atau bahkan cara seseorang memandang layar bisa menjadi ungkapan identitas yang lebih kuat dari seribu kata.

Lalu, apa yang perlu kita renungkan dari semua fenomena ini? Pertama, perlu diakui bahwa gaya komunikasi Generasi Z bukan sekadar "kerusakan" atau degradasi dari norma komunikasi yang ada. Ini adalah adaptasi kreatif terhadap lingkungan yang terus berubah sebuah bentuk kecerdasan komunikatif yang patut diapresiasi sekaligus terus dikritisi.Namun, di sisi lain, kita juga perlu jujur tentang tantangannya. Tekanan untuk membangun citra diri yang "sempurna" di media sosial bisa mengorbankan keaslian dan kesehatan mental. Kecepatan komunikasi digital yang tinggi sering kali mengorbankan kedalaman dan refleksi. Dan kemudahan berbicara secara anonim bisa melemahkan rasa tanggung jawab moral atas kata-kata yang diucapkan.Oleh karena itu, yang dibutuhkan generasi muda bukan hanya kecakapan digital (digital literacy), tetapi juga kedewasaan emosional dan etis dalam berkomunikasi. Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum mengunggah sesuatu, untuk merasakan empati meski terhalang layar, dan untuk menjaga integritas diri di tengah tekanan untuk terus tampil sempurna inilah kecakapan komunikasi yang paling hakiki.Dunia digital adalah cermin yang memantulkan siapa kita. Pertanyaannya bukan hanya "bagaimana kita berkomunikasi di era digital?", tetapi lebih dalam dari itu: "Siapakah kita, dan bagaimana kita ingin hadir di dunia ini?" Generasi muda, dengan segala kreativitas dan energi yang mereka miliki, sesungguhnya berada di posisi paling strategis untuk menjawab pertanyaan itu dan membentuk budaya komunikasi digital yang lebih sehat, lebih jujur, dan lebih bermakna bagi semua.

Daftar Pustaka

Arfiyanto, Y. A., Haloho, D. A. M., & Zufar, F. S. (2025). Pengaruh penggunaan bahasa gaul di platform X terhadap gaya komunikasi digital Generasi Z. Lentera Jurnal Manajemen, 3(1).

Dewi, D. (2024). Gaya komunikasi Generasi Z dalam membentuk citra diri di era digital di SMA 8 Pinrang [Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin].

Maghfiroh, M. H., & Riswandari, N. (2025). Makna etika komunikasi non verbal Generasi-Z di TikTok: Analisis interaksi simbolik dalam perilaku digital. Al-Qolamuna: Journal Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 2(3), 357–370.

Sari, R., Choirunnisa, C., Ananda, M. F. S., & Dewi, R. U. (2025). Peran literasi media dalam membentuk etika dan komunikasi digital generasi muda. Arus Jurnal Sosial dan Humaniora, 5(3), 5731–5738.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image