Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image 039_Faza Candraditya

Damai yang Retak karena Intoleransi: Saat Perbedaan tidak Lagi Dihargai

Eduaksi | 2026-05-21 11:17:07

Saat ini kita hidup di zaman modern, zaman dimana teknologi berkembang pesat, pendidikan semakin maju, dan komunikasi antar manusia menjadi semakin mudah. Namun sangat disayangkan, di tengah kemajuan tersebut masih ada satu masalah sosial yang terus muncul dan mengganggu kehidupan bermasyarakat, yaitu intoleransi. Intoleransi adalah sikap tidak menghargai perbedaan, baik perbedaan agama, suku, budaya, ras, bahasa, maupun pandangan hidup. Padahal Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai negara majemuk yang berdiri di atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Keberagaman tersebut merupakan identitas bangsa yang seharusnya dijaga bersama oleh seluruh masyarakat.

Menurut Shofiah Fitriani dalam jurnal Keberagaman dan Toleransi Antar Umat Beragama, toleransi merupakan sebuah keniscayaan dalam masyarakat plural karena mampu menjaga stabilitas sosial dan mencegah konflik antar kelompok. Perbedaan seharusnya menjadi sarana saling mengenal, saling belajar, dan saling bekerja sama, bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan. Sikap toleransi juga mencerminkan kedewasaan seseorang dalam berpikir serta bertindak di tengah lingkungan sosial yang beragam.

Namun pada kenyataannya, tindakan intoleransi masih sering ditemukan di masyarakat. Bentuknya dapat berupa ejekan terhadap kelompok tertentu, diskriminasi, penolakan terhadap hak orang lain, ujaran kebencian di media sosial, hingga konflik sosial yang merusak kerukunan. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang belum memahami pentingnya hidup berdampingan secara damai. Jika terus dibiarkan, intoleransi dapat menjadi ancaman besar bagi persatuan bangsa dan menghambat kemajuan sosial.

Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Terdapat ratusan suku bangsa, bahasa daerah, budaya, serta berbagai agama dan kepercayaan yang hidup berdampingan. Justru keberagaman inilah yang menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia. Menurut Maykel Verkuyten dalam buku The Social Psychology of Tolerance, toleransi sangat penting bagi masyarakat yang beragam karena membantu menciptakan kehidupan yang damai, terbuka, dan setara di tengah perbedaan yang nyata. Dengan adanya toleransi, masyarakat akan lebih mudah bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Yang menjadi permasalahan utama adalah masih adanya sikap merasa kelompok sendiri paling benar, lalu memandang rendah kelompok lain. Sikap seperti ini dapat tumbuh karena kurangnya pendidikan karakter, fanatisme berlebihan, lingkungan pergaulan yang sempit, serta mudah terpengaruh informasi palsu yang beredar di internet. Dalam jurnal Toleransi dalam Keberagaman: Mewujudkan Kehidupan Damai di Indonesia dijelaskan bahwa intoleransi, fanatisme, dan ketimpangan sosial menjadi tantangan utama dalam menciptakan kehidupan harmonis di Indonesia. Oleh sebab itu, masyarakat harus lebih cermat dalam menerima informasi dan tidak mudah terpancing emosi.

Intoleransi juga sering tumbuh dari hal-hal kecil yang dianggap sepele. Misalnya mengejek logat bicara seseorang, merendahkan adat daerah lain, menolak berteman karena perbedaan agama, atau menyerang pendapat orang lain tanpa alasan yang jelas. Perilaku seperti ini jika dibiarkan akan menjadi kebiasaan buruk yang merusak hubungan sosial. Seseorang yang terus hidup dalam lingkungan intoleran akan terbiasa melihat kebencian sebagai hal yang wajar.

Gejala yang biasa terlihat dari tumbuhnya intoleransi adalah mudah marah terhadap perbedaan pendapat, menolak bergaul dengan orang yang berbeda, senang menghina budaya lain, menyebarkan kebencian di internet, dan sulit menerima kritik. Jika hal ini dibiarkan, hubungan antar masyarakat akan semakin renggang dan dipenuhi rasa curiga. Pada akhirnya, lingkungan yang seharusnya damai berubah menjadi tempat yang penuh konflik dan ketegangan.

Peran generasi muda sangat penting dalam melawan intoleransi. Anak muda saat ini hidup di era digital yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan banyak orang dari latar belakang berbeda. Oleh karena itu, generasi muda harus menjadi pelopor persatuan dengan menunjukkan sikap terbuka, saling menghormati, dan tidak mudah menyebarkan kebencian. Sekolah, kampus, dan organisasi juga perlu menjadi tempat yang aman untuk belajar menghargai perbedaan.

Solusi yang bisa ditawarkan oleh penulis untuk mengurangi sikap intoleransi adalah:

 

  • Menanamkan pendidikan toleransi sejak usia dini di rumah dan sekolah
  • Menghargai keyakinan, budaya, dan pendapat orang lain
  • Memperbanyak dialog antar kelompok agar saling memahami
  • Bijak menggunakan media sosial dan menolak ujaran kebencian
  • Mengutamakan persatuan bangsa di atas kepentingan golongan
  • Mengadakan kegiatan bersama antar masyarakat yang berbeda latar belakang

Intoleransi adalah masalah sosial yang tidak dapat diremehkan. Namun, masih banyak cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, yaitu dengan menjaga ucapan, berteman tanpa membeda-bedakan, terbuka terhadap perbedaan, dan menumbuhkan rasa saling menghormati. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan bangsa yang seragam, melainkan bangsa yang mampu hidup rukun di tengah keberagaman. Jika toleransi terus dijaga, maka Indonesia akan menjadi negara yang damai, kuat, dan dihormati oleh dunia.

REFERENSI

Fitriani, S. (2020). Keberagaman dan Toleransi Antar Umat Beragama. Analisis: Jurnal Studi Keislaman.

Verkuyten, M. (2023). The Social Psychology of Tolerance. Routledge.

Najid, N. A. D. (2025). Toleransi dalam Keberagaman: Mewujudkan Kehidupan Damai di Indonesia. Maliki Interdisciplinary Journal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image