Ketika Tradisi dan Ekonomi Menentukan Masa Depan Bangsa
Edukasi | 2026-06-24 08:01:02Pendidikan merupakan salah satu pembuka jalan untuk menuju kesuksesan. Pendidikan akan membuka pemikiran baru seseorang menjadi lebih luas dan lebih bisa memandang dunia dengan perspektif yang berbeda. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025, Lampiran I, halaman 138 menyatakan bahwa anak-anak di Indonesia wajib belajar hingga 13 tahun, mulai dari prasekolah hingga SMA. Sehingga dengan adanya pernyataan tersebut, ada segelintir orang yang menganggap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itu tidak terlalu penting.
Saya tinggal di sebuah desa yang terpencil dan indah di Sumatera Barat, namun kebanyakan orang-orang di sana tidak terlalu peduli untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya sempat bertanya langsung kepada teman-teman sebaya saya saat akan lulus SMA kemarin.
Saya bertanya, “Apakah Anda akan melanjutkan ke jenjang kuliah setelah ini?” Dia menjawab, “Tidak, saya akan langsung bekerja saja, lagi pula setelah kuliah setinggi apa pun ujung-ujungnya juga akan bekerja, bukan? Lebih baik langsung bekerja saja daripada menghabiskan waktu untuk kuliah.” Kemudian saya bertanya kepada orang tua mereka, “Bu, apakah Ibu tidak ada keinginan untuk memasukkan anak Ibu ke jenjang kuliah?” Dan jawabannya, “Lebih baik langsung kerja saja, berpenghasilan. Daripada kuliah menghabiskan uang untuk biaya saja.”
Layaknya ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang selalu ada di desa saya. Namun, saya tidak menyalahkan keputusan tersebut. Setiap orang punya perspektif yang berbeda terhadap sesuatu. Tetapi, satu hal yang saya amati adalah bahwa faktor ekonomi juga menjadi penyebabnya.
Ternyata kasus seperti ini tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Beberapa jurnal juga mengatakan bahwa rendahnya minat siswa di Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Namun, tentu saja ada faktor yang memengaruhi, mulai dari internal seperti kurangnya motivasi diri, hingga faktor eksternal seperti kurangnya dukungan dan biaya dari keluarga.
Dari beberapa contoh yang saya paparkan, dapat kita lihat bahwa selain tradisi, ekonomi merupakan faktor utama kenapa seseorang tidak melanjutkan ke perkuliahan. Karena berkuliah membutuhkan biaya yang lebih besar. Kalau seseorang berminat ke kedokteran, hukum, arsitektur dan sebagainya, tentu membutuhkan uang lebih dan orang tua harus menanggung biaya yang lebih besar. Kurangnya partisipasi rakyat Indonesia dalam pendidikan tinggi tentu saja akan menimbulkan kekhawatiran di masa depan.
Kenapa Suatu Saat Kasus Ini Dapat Menjadi Kekhawatiran?
Kemakmuran dan kemajuan suatu negara, tergantung pada bagaimana kondisi SDM di suatu negara tersebut. Bisa kita ambil contoh pada negara China, mereka mencurahkan banyak biaya demi pendidikan dan pengetahuan, anak-anak di sana berlomba-lomba masuk pendidikan tinggi terbaik. Maka dari itu, negara mereka sangat maju, apalagi dalam hal teknologi. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka partisipasi pendidikan tinggi hanya mencapai 31-36%. Jika angka ini terus menurun, maka kualitas SDM di Indonesia juga akan menurun. Kapan Indonesia akan menjadi negara maju jika terus begini?
Indonesia merupakan negara yang indah dan kaya akan Sumber Daya Alam. Namun sayang, kurangnya pengetahuan untuk pengolahannya, masyarakat kita lebih memilih untuk mengekspor barang mentah dengan harga tak seberapa, kemudian diolah oleh negara asing, dan negara asing yang berperan sebagai pengolah mendapatkan untung lebih banyak. Bayangkan jika negara kita punya orang-orang yang berpendidikan tinggi dan SDM yang baik, maka negara kita akan bisa mengolah sumber daya alam yang melimpah ini, ekonomi akan membaik, dan negara akan semakin maju.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Pentingnya pendidikan harus ditanamkan sejak dini. Berikan pada anak-anak muda semangat untuk belajar agar mereka nantinya terus-terusan haus akan pengetahuan. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan lagi pengalokasian dana APBN 20% untuk pendidikan secara benar, tidak dipakai untuk keperluan lain. Pemerintah juga seharusnya lebih banyak memberikan peluang kuliah gratis untuk orang-orang yang tidak mampu. Karena seperti yang saya katakan tadi, pendidikanlah yang akan membawa kemajuan untuk negara kita nantinya di masa yang akan datang. Jika pendidikan tak dipedulikan, maka terancamlah negara kita, baik dari segi SDM maupun ekonomi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
