Masih Menganggap Semua Obat Herbal Sama? Ini yang Perlu Diketahui Masyarakat
Edukasi | 2026-06-09 10:36:27Obat herbal telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Mulai dari jamu tradisional hingga berbagai produk herbal modern, semuanya banyak digunakan untuk menjaga kesehatan maupun membantu mengatasi keluhan penyakit tertentu. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, penggunaan obat herbal juga semakin populer.
Namun, di balik tingginya minat masyarakat terhadap produk herbal, masih terdapat kesalahpahaman yang cukup sering ditemui. Tidak sedikit orang yang menganggap seluruh obat herbal memiliki kualitas, keamanan, dan tingkat khasiat yang sama. Padahal, setiap produk herbal memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang berbeda.
Berdasarkan klasifikasi yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat bahan alam di Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Ketiga kelompok tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, terutama dari sisi pembuktian keamanan dan khasiatnya.
Jamu merupakan obat tradisional yang digunakan berdasarkan pengalaman turun-temurun. Produk ini telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia dan masih banyak digunakan hingga saat ini. Meski demikian, khasiat jamu umumnya didasarkan pada pengalaman empiris yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, Obat Herbal Terstandar atau OHT merupakan obat bahan alam yang telah melalui proses standardisasi bahan baku dan pengujian praklinik. Dengan adanya tahapan tersebut, kualitas dan keamanan produk menjadi lebih terjamin dibandingkan produk yang hanya mengandalkan pengalaman penggunaan.
Pada tingkatan yang lebih tinggi terdapat fitofarmaka. Produk ini telah melalui uji klinik pada manusia sehingga memiliki bukti ilmiah yang lebih kuat mengenai keamanan dan efektivitasnya. Karena telah memenuhi standar tertentu, fitofarmaka sering disebut sebagai bentuk tertinggi dari obat bahan alam di Indonesia.
Pemahaman mengenai perbedaan ketiga kelompok tersebut menjadi penting, terutama bagi kelompok lanjut usia (lansia). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk lansia di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan terhadap informasi kesehatan yang benar juga semakin besar.
Lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami berbagai masalah kesehatan dan sering kali mengonsumsi lebih dari satu jenis obat. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan produk herbal tanpa pemahaman yang memadai dapat menimbulkan risiko, terutama jika dikonsumsi bersamaan dengan obat lain tanpa konsultasi kepada tenaga kesehatan.
Selain memahami penggolongan obat herbal, masyarakat juga perlu membiasakan diri untuk memeriksa informasi pada kemasan produk. Nomor izin edar, aturan penggunaan, komposisi, dan informasi produsen merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan suatu produk kesehatan.
Di tengah maraknya informasi kesehatan yang beredar melalui media sosial, kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang benar menjadi semakin penting. Tidak semua klaim manfaat yang beredar memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis sebelum memutuskan untuk menggunakan suatu produk herbal.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga turut melaksanakan edukasi mengenai penggolongan obat bahan alam kepada kelompok lansia di Dusun Bulu Gondang, Desa Bulumargi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan informasi sederhana namun akurat mengenai penggunaan obat herbal.
Pada akhirnya, penggunaan obat herbal tidak hanya berkaitan dengan tradisi dan kebiasaan, tetapi juga membutuhkan pengetahuan yang tepat. Dengan memahami perbedaan antara jamu, OHT, dan fitofarmaka, masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih produk kesehatan sehingga manfaat yang diperoleh menjadi lebih optimal dan risiko penggunaan yang tidak tepat dapat diminimalkan.
Penulis: Kelompok 4 GR-2A Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga
Pembimbing: Hafna Ilmy Muhalla
Sumber:
- Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM).
- Badan Pusat Statistik. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. Profil Penduduk Lanjut Usia Provinsi Jawa Timur 2024.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
