Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nabila Maskhurotil Jauza'

Duduk Terlalu Lama Bisa Mengancam Kesehatan

Gaya Hidup | 2026-08-09 20:03:15

Masalah kurang bergerak juga perlu mendapat perhatian di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018, proporsi penduduk Indonesia berusia lebih dari 10 tahun yang kurang melakukan aktivitas fisik meningkat dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018 (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2019). Kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun kebiasaan hidup yang lebih aktif.

Perilaku sedentari yang berkepanjangan dapat memengaruhi berbagai proses dalam tubuh. Park et al. (2020) menjelaskan bahwa gaya hidup sedentari berkaitan dengan perubahan metabolisme glukosa dan lipid serta penurunan aktivitas enzim lipoprotein lipase. Dalam jangka panjang, perilaku sedentari juga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan

https://pin.it/5PmskIwDH

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan metabolisme. Duduk terlalu lama juga dapat berhubungan dengan low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah. Berdasarkan systematic review dan meta-analysis, terdapat hubungan antara perilaku sedentari dan peningkatan risiko LBP, terutama pada orang dewasa (Mahdavi et al., 2021).

Selain aktivitas fisik, kebiasaan makan juga perlu diperhatikan. Penelitian Calella et al. (2024) menunjukkan bahwa individu yang tidak aktif memiliki waktu sedentari lebih tinggi dan pola kebiasaan makan yang berbeda dibandingkan individu yang aktif. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan perlu dilakukan melalui kombinasi aktivitas fisik dan pola makan yang baik.

Lalu, apa yang dapat dilakukan? Kita tidak perlu menghindari duduk sepenuhnya. Kurangi waktu tidak bergerak dengan menyelingi aktivitas statis melalui berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan. Lakukan aktivitas fisik secara rutin dan lengkapi dengan pola makan bergizi dan seimbang.

Jadi, jangan biarkan duduk menjadi kebiasaan tanpa jeda. Bangun, bergerak, dan berikan tubuh kesempatan untuk tetap aktif. Karena tubuh tidak hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2019). Laporan nasional Riskesdas 2018. Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Calella, P., Di Dio, M., Pelullo, C. P., Di Giuseppe, G., Liguori, F., Paduano, G., Valerio, G., Liguori, G., & Gallè, F. (2024). Sedentary behaviors and eating habits in active and inactive individuals: A cross-sectional study in a population from Southern Italy. Behavioral Sciences, 14(3), 208. https://doi.org/10.3390/bs14030208

Mahdavi, S. B., Riahi, R., Vahdatpour, B., & Kelishadi, R. (2021). Association between sedentary behavior and low back pain: A systematic review and meta-analysis. Health Promotion Perspectives, 11(4), 393–410. https://doi.org/10.34172/hpp.2021.50

Park, J. H., Moon, J. H., Kim, H. J., Kong, M. H., & Oh, Y. H. (2020). Sedentary lifestyle: Overview of updated evidence of potential health risks. Korean Journal of Family Medicine, 41(6), 365–373. https://doi.org/10.4082/kjfm.20.0165

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image