Dalam Hening Sepiku Rindu di Negeri Sakura
Lain-Lain | 2026-06-09 09:40:18DALAM HENING SEPIKU RINDU DI NEGERI SAKURA
Oleh : Tun Ahmad Gazali,SH.M.Eng.,Ph.D. *)
Malam merangkak cepat di kamar hotel bernomor 627 di sebuah ujung jalan kota Ishikari-Hokkaido. Saya masih terngiang ucapan suara anak muda diujunbg ponsel saya siang tadi. Dia berada di Kota Ottaru, kota kecamatan kecil di Hokkaido yang cukup sepi yang berpagar laut Jepang di sisi barat dan deretan perbukitan di sisi utrara, timur dan selatannya. Mas Resa sebut saja begitu namanya. Dia bercerita baru datang melaut dan disela obrolan tadi dia sempat bercerita bahwa semalam ketika dilaut, dia dimarahi oleh Leadernya, karena salah mengartikan perintah yang terdengar kacau diantara deru suara ombak dan mesin kapal.
Diwaktu lain saya pernah melihat di sebuah asrama pekerja di ketika saya bertugas di sebuah desa kecil di Kota Iida Prefektur Nagano. Salju tipis melayang di lampu jalanan, dan dari jendela kamar nomor B-12 apartemen itu terdengar suara mesin cuci otomatis berdengung lembut. Di sana, seorang perempuan asal Jawa Timur menggenggam ponsel, menatap video panggilan keluarga di kampung halaman. Saya sempat melihat ada senyum tipis muncul di wajahnya ketika yang mendadak lalu menghilang saat ada orang Jepang yang mungkin supervisornya mengetuk pintunya “Kaisha, shigoto ga arimasu!” (“Perusahaan, kerja ada!”). Saya melihatnya menarik napas panjang kala membuka pintu. Mengangguk, dan dia berjalan menuruni tangga apato menuju pabrik yang bersebelahan, dengan jaket tebal dan sarung tangan. Di sana, kata teman Indonesia yang saya tamuin malam itu bercerita lanjut bahwa setiap hari anak itu menerima instruksi keras, terkadang dicaci ketika alat tidak disentuh tepat waktu. Tapi malam ini, saat dingin menggigit dan suara mesin seakan tak pernah berhenti, teman saya itu mengucap bahwa hal itupun sering terjadi padanya meski disaat yang sama ada sesuatu yang lebih menghiburnya yaitu pandangan jauh melayang ke rumah ibunya yang saya tinggal sendirian, ke adik-adiknya yang masih sekolah, dan ke janji sederhana, “Buk, tunggu sebentar, aku pasti kirim uang dan nanti-nanti pasti akan pulang bawa hasil.”
Saya mencermati kalimat alasan serupa yang mungkin tak terucap, tetapi saya merasa masih sulit untuk mengertinya. Mengapa mereka tetap bertahan di negeri yang asing, di mana mereka sering merasa di-apungkan antara harapan dan kenyataan yang keras? Meski baru sekitar 6 tahunan ini saya secara nyata bergelut sebagai orang asing yang berkarir profesional negeri Samurai, saya menemukan beberapa alasan yang saya rangkum dari berulang kali bertemu sesama anak negeri, berbicara ngobrol terkait makna hidup mereka yang saya barengi dengan data yang valid sebagai referensi. Aalasan itu antara lain :
1. Tanggung Jawab terhadap keluarga
Meskipun jumlah pasti pekerja migran Indonesia di Jepang hingga November 2025 belum tersedia secara publik, estimasi dari beberapa sumber yang bisa penulis kutip berdasarkan riset yang merujuk data Jepang menyebut angka sekitar 121.507 orang untuk kelompok pekerja migran Indonesia di Jepang dalam lima tahun terakhir (naik sekitar 192 % dalam lima tahun) .Itu hanyalah angka resmi merujuk pada jumlah pekerja migran Indonesia yang baru/teridentifikasi sebagai pekerja migran Indonesia di Jepang, dan bukan keseluruhan WNI di Jepang/yang sudah menetap lebih lama dengan jumlah sudah sekitar 200 ribuan orang , karena ada masih banyak WNI yang bukan dikategorikan dalam data “pekerja migran” atau terdapat kondisi klaifikasi lain seperti sebagai pelajar, dependensi, magang, visa lainnya yang tidak tercakup.
Kembali pembicaraan terkait berkarir di Jepang, bagi banyak dari mereka, keberangkatan bukan soal petualangan tapi keharusan: membayar sekolah adik, membangun atap rumah yang bocor, membantu ibu yang semakin renta. Walau setiap hari mereka mendengar kata-kata keras, tenggat, dan tekanan—mereka menjalani itu demi suara di kampung yang menanti. Mereka sadar bahwa meski di Jepang dimarahi setiap hari, setidaknya gajinya dibayar tepat waktu dan nilainya cukup besar dibandingkan upah di kampung halaman. “Lebih baik dimarahin di Jepang tapi bisa kirim uang, daripada diam di rumah tapi dompet kosong,” begitu ungkapan yang sering terdengar.
2. Stabilitas finansial
Pendapatan perantau tangguh yang berkarir di Jepang bervariasi, mulai dari sekitar Rp 10 juta hingga Rp 150 juta per bulan. Untuk program pemagangan, gaji awal biasanya lebih rendah, sekitar Rp 10 juta hingga Rp 23 juta per bulan, namun akan naik seiring dengan masa kerja dan jenis magang. Sementara pendapatan pekerja migran Indonesia di Jepang dengan visa engineering berkisar antara ¥ 3.500.000 hingga ¥ 15.000.000 (sekitar Rp 375 juta hingga Rp1,5 miliar+ per tahun) belum termasuk bonus tahunan dan manfaat tambahan lainnya yang itu tergantung pengalaman dan spesialisasi.
”Miturut” KP2MI, di Indonesia gaji senilai itu untuk satu bulan saja sudah menjadi impian banyak keluarga. Jadi, meskipun mereka dibentak saat salah mencet tombol mesin, uang yang dikirim bisa menjadi pelita kecil di rumah kampung, pelita yang tak pernah padam.
Setelah di Jepang, meski keras, pekarir dari tanah air tadi lebih mengetahui bahwa disini aturan jelas dan upah pasti. Di Indonesia, kerja bisa lebih “manusiawi” secara sosial, tapi sering tidak stabil secara ekonomi dimana gaji kecil, telat dibayar, atau bahkan kerja tanpa kontrak jelas. Jadi, bertahan di Jepang menjadi pilihan rasional yaitu menukar kenyamanan sosial dengan kepastian finansial.
3. Kesadaran akan kebutuhan Jepang
Negeri Sakura bukan hanya “tempat kerja”, tetapi juga sebagai tempat Jepang “memenuhi kebutuhannya”. Jepang menghadapi fenomena usia tua yang sangat cepat . Menurut sebuah kajian, sekitar 30 % penduduk Jepang berusia di atas 60 tahun. Bloomberg Technoz pernah merilis bahwa di balik gemerlap kereta bullet dan teknologi tinggi, ada ruang kosong untuk bantalan manusia yang mau bekerja keras. Banyak pekerja migran yang akhirnya menyadari bahwa di negeri Samurai ini mereka bukan tamu sementara, tetapi bagian dari jaringan besar sosial-ekonomi yang saling bergantung.
4. Harga diri dan gengsi tidak boleh gagal yang tak mudah ditinggalkan
Coba bayangkan, pernahkah ada terlontar kalimat ”Pulang lebih cepat tanpa hasil” yang bisa-bisa otomatis memunculkan pertanyaan di kampung: “Kenapa pulang? Gaji habis? Kerja nggak kuat?” .
Untuk banyak pekerja, malu itu lebih tajam daripada dinginnya musim dingin di Nagano atau di Hokkaido sana. Maka mereka bertahan. Harapan kecil itu berupa tabungan, rumah, bebas utang, sapi yang terjual buat modal berangkat serta sertifikat rumah yang terjaminkan saat berangkat akan kembali tertebus, menjadi alasan yang lebih besar daripada keinginan menyerah.
Banyak pekerja migran Indonesia membawa filosofi daerah asalnya yang umumnya bernilai tahan banting, tidak gampang ”nglokro”. Meski jauh dari tanah air, masih ada bawaan untuk sabar, nrimo, dan berjuang dalam diam, padahal dalam diam itu tersimpan tekad: “Aku harus pulang dengan hasil, bukan cerita sedih.”
5. Komunitas sebagai penguat
Walau masih saja ada cerita tentang sering dibully di tempat kerja, dibentak, dikritik, kadang merasa tak dihargai, para perantau tangguh ini menemukan kekuatan dalam kebersamaan yang muncul dalam komunitas sesama perantauan, persekutuan gereja, pengajian, atau kelompok sosial. Makan bersama sesama sesama orang yang jauh dari tanah air, bergilir memasak nasi, berbagi cerita rindu kampung. Suara tawa kecil di ruang tamu asrama/apato/mess, masak bareng, makan bareng, main gitar, inilah pelipur lara sejenak melupakan hari kerja, bentuk “kehangatan pengganti keluarga” yang membuat mereka tetap tegar.
Ketika pulang kerja, keluar kantor dan menyusuri jalanan sepi, mereka kadang masih sempat bisa sekadar berdiri di jembatan kecil, melihat kereta lewat, membayangkan rumah di Indonesia sembari mengobati rindu yang bergejolak dan memanajemen rasa rindu itu sebagai bahan bakar untuk lebih semangat.
Sebagaimana kalimat tak ada jalan yang selalu rata, tidak banyak dari perantau tangguh ini yang mendapat jalan mulus. Banyak yang mendapati jalan berbatu. Mereka sering merasa baru beberapa bulan, belum punya sahabat di tempat kerja baru, Suasana kerja yang katanya tak nyaman ditambah lagi rasa pada rindu yang menumpuk.
Tapi para perantau tangguh ini masih sempat berkata ”menghibur” pada diri sendiri: “Ini pilihan saya. Ini pengorbanan saya. Ini demi mereka, keluarga tercinta di tanah air yang saya banggakan dan membanggakan saya.” Di saat teman-teman sebaya di kampung terutama mereka yang belum bekerja, yang bisanya hanya meminta uang dari orang tua, yang biasanya cuman sering cangkruk dan gitaran di pos kamling sambil nggodain cewek yang lewat; Para perantau tangguh berada di ruang makan asrama/ apato/mess mereka, menyeruput mie instan atau masakan ringan setahunya mereka memasak sambil menyusun rencana agar bisa pulang dengan setidak-tidaknya mengganti berapa banyak sapi yang dijual untuk modal kala mereka berangkat merantau dan atau setidaknya ada dana untuk menebus sertifitat rumah yang tergadai kala butuh modal untuk berangkat dulu.
Bisa jadi Anda membaca ini dari ruang tamu rumah Anda, atau mungkin dari kafe kecil di kota Anda di tanah air, yuk saya ajak Anda membayangkan sejenak dimana salju turun pelan di luar jendela Anda, suara angin menembus celah pintu. Di saat yang sama, di Nagano atau Saitama, seorang pekerja asal Indonesia menarik jaketnya sedikit lebih rapat, melangkah ke ruang kerja, dan berkata dalam hati: “Tahan sebentar lagi.”
Maka saya mengajak Anda untuk jangan melihat mereka hanya sebagai angka. Angka 120 ribuan orang boleh tampak kecil, tapi di balik angka itu ada rindu mendalam, ada luka yang tak tertangisi, ada tanggung jawab yang digenggam erat yang lebih memilih bertahan agar harapan keluarga tetap hidup.
Dalam Hening Sepiku Rindu
Maka apabila suatu hari Anda mendengar berita tentang perantau muda yang menempuh jejak jauh ke Jepang, ingatlah ini, bahwa mereka tidak melarikan diri dari rumah mereka, melainkan mereka memilih untuk pulang nanti, dan bukan sekarang. Mereka menahan hari ini agar esok bisa memberi dan menggapai masa depan yang jauh lebih nyata baiknyadaripada hanya cangkruk di pos kamling sambil scroll hp yang tuk beli pulsanya masih ”nyadong” ke keluarga. Dan ketika salju menutup jejak kaki mereka di negeri yang asing, percayalah, setiap langkah kami yang jauh dari keluar tercinta di tanah air selalu membawa satu doa bahwa usaha kami disini bukan sekadar tugas, tetapi bentuk cinta yang tak bersuara yang tak perlu lebih nyaring daripada teriakan.
Perantau tangguh bukan penganut #kabur aja dulu, tapi meraka sedang menguji seberapa tangguh dan seberapa besar keberanian kami keluar dari zona nyaman yang pasti akan memberikan hadiah terbaik bagi banyak hati yang ditinggalkan jauuuuuuh di tanah air sana. (CTun)
*)Pensiunan PNS Pemprov. Jawa Timur yang sejak awal 2020 bermukim sekeluarga bertujuh orang di Jepang dan berkarir sebagai Engineering Leader serta Independent Researcher di Jepang. Lulusan Fakultas Hukum UWP Surabaya (2001), meraih gelar M.Eng dari Saga University dan meraih Ph.D hingga Postdoc dari Yamaguchi University. Penerima beasiswa Monbukagakusho dan Yamaguchi University Scholarship ini pernah menjadi dosen tetap di INI Dalwa Bangil, serta dosen tamu di Universitas Wijaya Putra dan ITATS Surabaya. Aktif dan berpengalaman mengintegrasikan hukum, teknologi, dan manajemen dalam kerja lintas negara, khususnya Indonesia–Jepang, dengan fokus pada kolaborasi strategis, regulasi bisnis global, dan inovasi berbasis teknologi. Aktif menulis opini, catatan sosial, esai humanis terkait lingkungan,budaya, kehidupan dan karir di Jepang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
