Dibayar Mencabut Uban di Atas Septictank: Kenangan yang tak Pernah Ikut Digusur Waktu
Senggang | 2026-06-09 09:36:14Dibayar Mencabut Uban di Atas Septictank : Kenangan yang Tak Pernah Ikut Digusur Waktu
Oleh : Tun Ahmad Gazali*)
Ada kenangan masa kecil yang tidak datang pelan pelan. Ia datang seperti bau angin sore, tiba tiba, tak diundang, tapi langsung memenuhi dada. Hari ini entah kenapa ingatan saya ditarik jauh. Bukan ke Jepang, bukan ke ruang kerja, bukan ke usia hampir 57 tahun ini, melainkan ke sebuah tempat yang mungkin sudah tidak lagi ada dalam peta, yaitu Komplek Sekolahan SDN Pasar Turi, Surabaya.
Surabaya awal 1980 an bukan kota yang bising seperti sekarang. Panasnya memang sama masih terasa keras hingga 40 tahunan setelahnya di tahun ini, tetapi terasa ada keakraban dan kenangan masa kecil yang tak bisa begitu saja sirna. Matahari sore itu menyeruak di balik bangunan megah Pasar Turi yang berlantai 4 (atau berlaintai 3 , saya agak lupa). Dan bunyi nyaring klakson Lokomotif Kereta api Trem uap, B 1239, yang melintas direl pinggir jalan antara Pasar Turi dan Komplek sekolahan tempat saya bermukim kala itu. Sirine “montor kloneng” , begitu saya seumuran menyebut mobil armada PMK Pasar Turi, yang tiap pagi jam 07.00, jam 14.00 dan jam 22.00 selalu berbunyi menandakan ganti shift personilnya. Bunyinya selalu sama dan itu menjadi semacam jam dinding otomatis bagi kami yang bermukim dekat PMK Tasar Turi; kami tidak pernah melihat arloji, tetapi kami tahu waktu. Juga gema nyaring klakson kereta api yang relnya berada dibelakang PMK Pasar Turi beberapa kali menyalak member tanda ingin segera berjalan kembali tetapi terhenti karena sinyal yang menandakan jalurnya sudah bisa dilalui masih belum dibuka oleh petugas di Rumah Sinyal seberang Pasar Turi. Bercampur debu jalanan dan asap bemo yang mangkal di terminal kecil depan komplek sekolahan kami, dipadukan dengan aroma tape, gorengan, soto Madura Oyek, Rawon Gule Bu Badrun dan gemuruhnya suara es gronjong yang diaduk Paklik-paklik penjualnya. Semua berpadu nikmat seolah mengajak menikmati hari yang bukan hanya sebuah latar, tetapi ada kehidupan sesungguhnya dibelakangnya.
Di belakang hiruk pikuk itu ada kehidupan sebuah dunia kecil saya dan teman seumuran kami yang bermukin di sebuah komplek Sekolahan SDN di Jalan pasar Turi No. 10 dan 12 Surabaya. Rumah rumah guru berdiri sederhana dari papan, triplek dan ada yang dari papa hardboard. Menempel dinding gedung sekolah dan atau memanfaatkan area yang lama tak terpakai lagi. Tanpa pagar. Halaman tanahnya yang halaman sekolahan itu yang dipakai bersama. Anak anak bebas bermain disana, bermain ke rumah tetangga yang bias dibilang hamper berdempetan, bahkan sering makan di rumah teman tanpa harus permisi. Ibu ibu duduk di kursi kayu bikinan sendiri sambil kipas tangan disore yang agak “sumuk” itu. Bapak-bapak ngobrol tentang harga beras dan Persebaya serta Niac Mitra, yang dimusim itu tidak sering menang lagi. Dan kami hanya punya satu aturan, yaitu kudu pulang ketika suara adzan maghrib terdengar berkumandang dari Masjid kemayoran yang jaraknya sekitar 800 meteran ke arah barat laut Komplek sekolah kami itu. Begitu terdengar, permainan berhenti tanpa perlu disuruh. Kami buyar pulang sendiri sendiri-sendiri. Kaki kotor, baju berdebu tapi hati penuh puas. Dan sampai hari inipun masih saya suara Ibu yang hanya berkata, “Wis maghrib.” Dan itu sudah cukup.
Di ujung paling belakang komplek, dekat deretan WC sekolah, tinggal seorang guru SD bernama Pak Darmojo. Beliau tinggal sendirian di ruangan ukuran kira kira 1 x 2 meter. Bukan rumah dinas. Bukan kamar guru. Itu bekas WC sekolah. Dindingnya lembab, lantainya dingin, pintunya bercat hijau dan disisi dinding belakang deretan WC itu berdiri cerobong septictank terbuat dari gulungan lembaran seng bak cerobong pabrik kecil yang didirikan tepat di atas tutup semen tiap septicktank. Kalau angin berbalik arah setelah menabrak dinding belakang WC, bau isi septictank kadang menyergap hidung kami yang sedang duduk-duduk di atas tutup septicktank itu. Tetapi anehnya, bagi kami itu bukan gangguan. Karena setiap Minggu sore, di situlah pusat kebahagiaan kami. Pak Darmojo duduk santai di atas tutup cor septictank sambil membawa sisir kecil. Kami mengerubungi beliau.
“Sing nemu entuk sak ripis,” katanya. Setiap satu helai uban yang kami cabut, kami mendapat satu rupiah.
Setiap satu helai rambut uban yang berhasil kami cabut, kami dibayar satu rupiah. Kami sangat serius. Ada yang membuka rambut perlahan, ada yang meniup dulu supaya ubannya kelihatan, ada yang pura pura membantu tapi sebenarnya ikut mencari. Dan saya sering menggunakan teknik, menggosok-gosokkan jemari ke dinding belakang WC yang berlapis kapur. Ya, karena kapur itu jemari menjadi tak licin saat mencabut uban Pak Darmojo. Sesekali Pak Darmojo meringis.
“Alon alon rek iki duduk tegalan jagung.”
Kami tertawa.
Pak Darmojo tidak pernah marah ketika rambut ubannya kami cabut. Beliau seperti mengerti bahwa anak anak ini bukan sedang mengambil rambut ubannya. Mereka sedang belajar menunggu hasil, belajar sabar, belajar arti upah dari usaha kecil.
Bau yang sesekali menyeruak dari ujung cerobong Septicktank tak lagi penting. Yang penting menemukan uban Pak dDarmojo sebanyak-banyaknya. Saya sering mendapatkan sampai seratus helai. Ada teman yang pernah dua ratus. Artinya dalam sebulan kami bisa memperoleh 400 sampai 800 rupiah, dan Pak Darmojo selalu membayar tepat tanggal 1 ketika gaji beliau cair. Itu bukan sekadar uang jajan. Itu kenikmatan merasakan bagaimana serasa punya “gaji pertama” dalam hidup kami. Malamnya kami menghitung uang sambil duduk di teras. Seratus rupiah berarti es lilin berhari hari, berarti jajan gedhang goreng, bakso dan manisan dondong, berarti main kelereng tanpa harus meminjam.
Masa kecil kami tidak banyak yang punya televisi warna, tak banyak yang mengenal atau punya permainan elektronik, apalagi telepon genggam. Tetapi kami tidak pernah merasa bosan. Kami main kelereng sampai kuku hitam. Main gobak sodor di halaman sekolah yang luas. Main layangan. Naik, atap bangunan semi permanen Toko Kios sementara yang didirikan ketika kebakaran hebat melumat Pasar Turi, naik ke atap gelombang kios tersebut untuk lebih mudah dan dekat mengambil jambu air di rumah tingkat besar dan Nampak saat itu yang berada berdampingan dengan dinding pagar sekolah Jalan pasar Turi Nomor 12nya. Main benteng-bentengan sambil teriak – teriak khas anak kecil yang menikmati permainan. Kalau malam, kami main petak umpet. Bersembunyi di balik rombong-rombong jualan yang dititipkan di halaman sekolah, di balik pohon, bahkan di belakang gerobak es batu nya Cak Mat, yang kami sering bersembunyi serta main rumah-rumahan dari lembaran-lembaran plastik yang ada di gerobak itu.
Kadang kami menggiring ban sepeda bekas sepanjang jalan depan Pasar Turi, merasa seperti mengendarai mobil balap. Kami mengenal semua sudut, semua batu, semua pohon, bahka hingga ke perempatan Jalan Tembaan, tempat saya sering disuruh Ibuk membeli tepung tribu dan minyak tanah ke took klontong yang penjualnya kami biasa panggil “ Cino Keple tanpa ada rasa bersalah atau rasa takut bahwa panggilan seperti itu bila dilakukan saat ini, pasti kita akan kena pasal SARA. Dunia terasa luas tetapi aman.
Hingga pada suatu hari semuanya berhenti. Saya lupa tepatnya tahun berapa, Kalo tidak salah sekitar akhir 1982. Truk datang. Orang orang mengukur tanah. Komplek digusur. Rumah diratakan. Kami pindah tanpa benar benar pamit. Teman teman hilang arah dan alamat. Di atas tanah tempat kami bermain, kini berdiri ruko-ruko di Jalan Pasar Turi depan PMK dan seberang Pasar Turi yang saat ini sudah dibangun kembali tetapi khabarnya masih belum difungsikan. Bangunan ruko-ruko itu mungkin tidak tahu bahwa pernah ada anak anak yang tertawa di atas tutup septictank sambil nyabutin uban pak Darmojo.
Sejak 1982 itu, tali pertemanan kami putus. Kala itu boleh dibilang tidak ada telepon, tidak ada media social, dan tidak ada jejak tercatat yang pernah saya bisa baca. Hari ini, setelah puluhan tahun, saya baru sadar bahwa kami bukan hanya kehilangan tempat tinggal. Kami kehilangan satu zaman.
Karena itu saya menulis ini. Siapa tahu ada yang pernah tinggal di Komplek Sekolahan SDN Pasar Turi tersebut. Siapa tahu ada yang mengenal Pak Darmojo. Siapa tahu ada anak atau cucu keluarga guru di sana. Atau juga alumninya yang ternyata punya akses informasi tersebut.
Kini saya hidup jauh di negeri yang rapi dan bersih. Tidak ada debu halaman sekolah. Tidak ada bau septictank. Tidak ada anak berteriak benteng-bentengan.
Dan justru itu yang paling saya rindukan.
Bukan uang satu rupiahnya. Bukan permainan kelerengnya. Bukan bahkan Pasar Turinya.
Rindu yang menyeruak adalah perasaan pulang sebelum gelap tanpa rasa takut, berteman tanpa curiga, dan bahagia tanpa alasan.
Sekarang saya mengerti, bangunan bisa digusur, kota bisa berubah, manusia bisa berpindah negara, tetapi masa kecil tidak pernah benar benar pergi.
Ia hanya menunggu satu sore sunyi, ke masa kecil yang sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi, karena ia hanya diam, lalu suatu hari datang lagi dan kita baru sadar betapa kayanya dulu kita, bahkan ketika hanya dibayar satu rupiah per helai uban.
Salam, Tun Ahmad Gazali, SH.,M.Eng.,Ph.D. Anak Pak Guru Maksum yang kini bermukim dan berkarier di Jepang.
*) Pensiunan PNS PemProv. Jawa Timur yang sejak 2020 melanjutkan karir dan kehidupan di Jepang sebagai engineering leader dan peneliti independen. Lulusan FH-UWP Surabaya (2001), meraih M.Eng dari Saga University (2004-2006) dan Ph.D hanya dalam 2,5 semester (Oktober 2015-Maret 2018), hingga Postdoc di Yamaguchi University (Maret-Desember 2018). Penerima beasiswa Monbukagakusho dan Yamaguchi University Scholarship. Pernah menjadi dosen tetap di INI Dalwa Bangil, dosen tamu di Universitas Wijaya Putra dan ITATS Surabaya. Penikmat berpetualang, travelling dan mengemudi extra super jauh. Pemerhati lingkungan serta sosial budaya yang mengintegrasikan hukum, teknologi, sosial, budaya dan manajemen dalam kerja lintas negara, khususnya Indonesia-Jepang, dengan fokus pada kolaborasi strategis, sosial, regulasi bisnis global, dan inovasi berbasis teknologi. Akun Instagram : @tunahmad_gazali.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
