Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Izzel Charissa Aurelya Wahyu

Artikel Kasus Osteoarthritis (OA)

Hospitality | 2026-06-08 13:49:15

Radiologi adalah bidang kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan untuk mendeteksi atau mendiagnosis dan mengobati penyakit.

Radiologi dibagi menjadi dua jenis:

  • Radiologi Diagnostik: Digunakan untuk menemukan atau mengidentifikasi penyakit. Contoh teknologi yang digunakan meliputi sinar-X, CT scan, MRI, USG, dan kedokteran nuklir.
  • Radiologi Intervensional: Digunakan untuk membantu dokter melakukan prosedur medis dengan bantuan dari alat pencitraan.

Pelvis adalah struktur tulang berbentuk cincin di dasar batang tubuh yang berfungsi menopang berat badan dan melindungi organ vital seperti kandung kemih, rektum, serta organ reproduksi. Secara anatomi, pelvis terdiri dari tulang ilium, ischium, dan pubis yang bersatu di acetabulum, serta diperkuat oleh sendi (sacroiliaca, symphysis pubis, hip joint) dan ligamen untuk menjaga stabilitas. Morfologi pelvis berbeda berdasarkan gender, yaitu :

1. Pelvis wanita didesain lebih.

2. Sedangkan pelvis pria lebih sempit dan kuat.

Osteoarthritis (OA) adalah gangguan sendi degeneratif kronis akibat penuaan dan penggunaan berulang yang ditandai dengan kerusakan tulang rawan artikular serta peradangan ringan. Untuk mendiagnosis kelainan ini, salah satu prosedur yang digunakan adalah radiografi pelvis, yaitu pemeriksaan medis menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambaran struktur tulang dan jaringan di area panggul. Prosedur pencitraan ini sangat efektif untuk mendiagnosis, mengevaluasi, dan memantau kondisi medis yang melibatkan tulang panggul, sendi panggul, tulang belakang bawah, hingga tulang paha bagian atas.

Berikut adalah bedah komprehensif mengenai teknik pemeriksaan radiografi pelvis untuk kasus Osteoarthritis (OA) yang disusun dalam bentuk teks terstruktur tanpa menggunakan tabel. Pembahasan ini sangat cocok untuk menyusun bab teknik pemeriksaan dan tinjauan pustaka pada Karya Tulis Ilmiah Anda.

1. Proyeksi dan Posisioning (Positioning)

Tujuan utama posisioning pada kasus OA adalah untuk memperlihatkan penyempitan celah sendi (hip joint) secara akurat saat sendi tersebut menerima beban tubuh secara nyata.

Proyeksi Antero-Posterior (AP) Weight Bearing (Ereksi/Berdiri)

  • Posisi Pasien: Pasien berdiri tegak membelakangi stand bucky (tempat kaset). Berat atau beban tubuh bertumpu secara seimbang pada kedua kaki (weight bearing). Kedua tangan diposisikan santai di samping tubuh atau berpegangan pada alat penyangga untuk menjaga stabilitas agar pasien tidak goyang.
  • Posisi Objek:
  • Mid-sagittal plane (garis tengah tubuh) pasien diatur tepat berada pada garis tengah kaset.
  • Pastikan tidak ada rotasi pada panggul pasien, di mana jarak antara SIAS (Spina Iliaca Anterior Superior) kanan dan kiri ke permukaan kaset harus sama.
  • Kunci Utama Kasus OA: Kedua kaki dibuka sedikit, kemudian kedua tungkai dirotasikan ke dalam (internal rotasi) sebesar 15 hingga 20 derajat sampai kedua ujung jempol kaki saling bersentuhan. Rotasi internal ini berfungsi agar collum femoris (leher tulang paha) tampak memanjang maksimal dan tidak tertutup (superposisi) oleh struktur lain.
  • Arah Sinar (Central Ray): Tegak lurus secara horizontal menuju ke pertengahan kaset.
  • Titik Pusat Sinar (Central Point): Diarahkan tepat pada pertengahan antara Symphysis Pubis dan Garis Inter-SIAS (atau sekitar 5 cm di bawah tingkat SIAS).
  • Fokus Jarak (FFD): Diatur pada jarak 100 cm.

2. Faktor Eksposi

Karena area pelvis merupakan bagian tubuh yang tebal dan memiliki struktur tulang yang padat, diperlukan pengaturan radiasi yang cukup tinggi dengan kontras yang optimal agar dapat menembus densitas tulang panggul tersebut.

  • Tegangan Tabung (kV): Menggunakan rentang 75 kV hingga 85 kV. Nilai kV yang tinggi ini sangat diperlukan untuk menghasilkan latitude kontras tulang yang baik, sehingga batas-batas sendi terlihat jelas.
  • Arus dan Waktu (mAs): Menggunakan rentang 20 mAs hingga 32 mAs. Nilai ini bersifat fleksibel dan harus disesuaikan kembali dengan ketebalan tubuh pasien (ukuran S, M, atau L).
  • Grid: Wajib menggunakan grid (dengan rasio 10:1 atau 12:1). Penggunaan grid di dalam bucky sangat penting untuk menyerap radiasi hambur, sehingga detail area sendi panggul yang menyempit tetap tajam.
  • Focal Spot: Menggunakan Large Focal Spot (fokus besar) pada tabung sinar-X untuk mengantisipasi penggunaan mAs yang tinggi agar tabung tidak cepat panas dan memicu kerusakan alat.

3. Kriteria Gambaran (Anatomi Imejing) dan Tanda OA

Hasil citra radiograf pelvis AP yang ideal harus menampilkan struktur anatomi secara simetris, mulai dari batas atas krista iliaka hingga batas bawah sepertiga atas tulang paha (femur).

Khusus pada kasus Osteoarthritis (OA), komponen anatomi spesifik yang wajib dievaluasi meliputi:

  • Penyempitan Celah Sendi (Joint Space Narrowing): Celah sendi di antara caput femoris (kepala tulang paha) dan acetabulum tampak menyempit. Pada OA panggul, penyempitan ini biasanya bersifat asimetris dan paling parah terjadi di area superior (bagian atas) yang paling banyak menahan beban.
  • Osteofit (Osteophytes): Tampak tumbuhnya taji tulang atau jaringan tulang muda yang abnormal di sekitar pinggiran mangkuk acetabulum atau di sekitar tepi caput femoris.
  • Sklerosis Subkondral: Terjadinya pengerasan atau peningkatan densitas tulang tepat di bawah tulang rawan sendi yang rusak. Pada hasil foto, area ini akan tampak jauh lebih putih atau radiopak mengkilap dibanding tulang sehat di sekitarnya.
  • Kista Subkondral (Geoda): Tampak adanya kantung-kantung cairan atau lumen kecil berbentuk bulatan hitam (radiolusen) pada struktur tulang di bawah sendi panggul.

Secara kualitas posisi, posisi internal rotasi kaki yang berhasil ditandai dengan collum femoris yang tampak penuh tanpa distorsi, serta struktur trochanter minor yang hanya terlihat sedikit sekali di bagian medial tulang femur.

4. Kualitas Citra (Image Quality)

Agar dokter spesialis radiologi dapat menegakkan diagnosis derajat keparahan OA secara tepat, citra radiograf harus memenuhi standar kualitas berikut:

  • Kontras Radiografis: Gambar harus mampu membedakan dengan sangat jelas antara jaringan lunak (soft tissue), bagian luar tulang yang padat (korteks), serta struktur anyaman tulang di dalam (trabekula) panggul.
  • Ketajaman (Sharpness): Batas-batas tepi struktur penting seperti acetabulum dan caput femoris harus bebas dari kekaburan gambar (blurring). Kekaburan akibat pergerakan pasien (terutama lansia yang menahan nyeri akibat berdiri) dapat diminimalisir dengan instruksi yang jelas agar pasien tidak bergerak dan menahan napas saat eksposi dilakukan.
  • Densitas: Tingkat kehitaman keseluruhan gambar harus cukup seimbang. Gambar tidak boleh terlalu gelap (overexposure) yang dapat menghilangkan visualisasi trabekula, dan tidak boleh terlalu terang (underexposure) yang membuat sendi tidak tertembus sinar.

5. Proteksi Radiasi

Mengingat pemeriksaan pelvis secara langsung memapar area sensitif tubuh manusia (organ reproduksi), penerapan asas ALARA (As Low As Reasonably Achievable) mutlak dilakukan melalui tindakan berikut:

  • Proteksi untuk Pasien:
  • Kolimasi: Lapangan penyinaran harus dibatasi secukupnya dan tidak boleh melebihi ukuran kaset (maksimal 35x43 cm) demi mengurangi paparan radiasi sekunder pada organ tubuh di sekitarnya.
  • Pertimbangan Gonad Shielding: Pada kasus OA pelvis, penggunaan pelindung gonad (gonad shield) sering kali dihindari karena lembaran timbal tersebut berisiko menutupi anatomi penting seperti symphysis pubis atau bagian bawah acetabulum. Oleh karena itu, optimasi kolimasi yang ketat menjadi bentuk proteksi terbaik untuk pasien.
  • Ketepatan Teknik: Memastikan pemosisian dan faktor eksposi sudah tepat sejak awal untuk mencegah terjadinya foto mati/gagal (re-take) yang dapat menambah dosis radiasi pasien secara sia-sia.
  • Proteksi untuk Petugas dan Pengantar Pasien:
  • Radiografer wajib berdiri di balik tabir timbal (Pb barrier) di dalam ruang kontrol (control room) selama proses eksposi berlangsung.
  • Jika pasien merupakan lansia dengan OA parah yang tidak stabil saat berdiri dan membutuhkan bantuan fisik, pihak pengantar yang menjaga di dalam ruangan wajib mengenakakan Apron Pb dengan ketebalan minimal 0.25 mm serta diatur posisinya agar tidak berada di jalur berkas sinar utama.

referensi : https://eprints.uwhs.ac.id/2749/

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image