Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Donny Syofyan

Bayang Kegelapan Masa Depan: Hibridasi dan Estetika Gothic dalam Sinema Fiksi Ilmiah

Sastra | 2026-06-08 12:27:01

Donny Syofyan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Sejak akhir tahun 1950-an, hubungan antara fiksi ilmiah (Science Fiction atau SF) dan elemen horor-Gothic telah memicu perdebatan sengit di kalangan kritikus. Richard Hodgens (1959), misalnya, sempat mengecam film-film SF awal seperti Destination Moon (1950) dan The Thing from Another World (1951). Ia menganggap sinema SF saat itu telah merusak reputasi versi sastranya karena menyajikan film horor murahan yang dibungkus dengan kulit fiksi ilmiah. Hodgens melihat fenomena ini sebagai kemunduran selera ke arah sesuatu yang lebih usang dan "lebih Gothic daripada Novel Gothic itu sendiri".

Secara akademis, menyatukan Gothic dan fiksi ilmiah bukanlah perkara mudah. Kedua konsep ini dikenal sangat tidak stabil, memiliki elemen yang tersebar, dan batas-batasnya sering dipertahankan secara teritorial oleh para ahli masing-masing. Gothic sering kali sulit diidentifikasi secara murni sebagai mode atau genre, begitu pula dengan fiksi ilmiah. Namun, sejarah mencatat bahwa hibridasi ini sangat nyata. Contoh paling awal dan paling terkenal dalam literatur adalah novel Frankenstein (1818) karya Mary Shelley.

Bagi para pengkaji film, tantangannya bukan lagi sekadar memperdebatkan apakah SF tumbuh dari Gothic, melainkan melihat seberapa tanggap teks-teks SF jika dibedah menggunakan kacamata dan praktik-praktik Gothic. Artikel ini mengajukan sebuah kerangka bahasa untuk memeriksa elemen Gothic dalam sinema fiksi ilmiah, yang biasanya memanifestasikan dirinya ke dalam dua aspek utama: secara visual melalui desain produksi, atau secara tematik di dalam narasi dramatis.

Mendefinisikan Fiksi Ilmiah dalam Sinema

Untuk memahami bagaimana Gothic menyusup ke dalam fiksi ilmiah, kita perlu melihat bagaimana film SF didefinisikan. Vivian Sobchack dalam bukunya Screening Space (1998) menyatakan bahwa literatur murni mungkin bisa mempertahankan bentuk SF yang "suci", namun dalam dunia sinema, film SF hampir selalu merupakan sebuah hibrida. Sobchack mendefinisikan film SF sebagai genre yang menekankan sains aktual, ekstrapolatif, atau spekulatif dan metode empiris, yang berinteraksi dalam konteks sosial. Namun, ia menambahkan satu klausul penting: adanya elemen transendentalisme sihir dan agama yang meskipun kurang ditekankan, tetap hadir untuk mendamaikan manusia dengan ketidaktahuan.

Di sisi lain, akademisi terkemuka Darko Suvin menawarkan istilah novum (kehaluan atau kebaruan yang aneh) dan konsep estrangement kognitif (cognitive estrangement). Konsep ini menjelaskan bagaimana hal-hal yang dianggap normal atau diketahui secara ilmiah/sosial dibuat menjadi asing atau baru bagi penonton.

Menariknya, Suvin menganggap fiksi spekulatif seperti kisah hantu, horor, dan Gothic tidak cocok dengan SF karena memasukkan hukum "anti-kognitif" ke dalam lingkungan empiris. Namun, dalam sinema, batasan kaku Suvin melunak. Elemen anti-kognitif atau transendental ini sering kali mewujud secara nyata di layar kaca melalui desain produksi (set dekorasi yang sepenuhnya fantasi dan tidak dijelaskan secara empiris dalam cerita) serta tindakan protagonis yang merespons situasi secara emosional dan instingtual, bukan secara empiris.

Studi Kasus 1: Alien (1979) dan Gothic Visual

Film Alien karya Ridley Scott adalah contoh utama (Ur-example) bagaimana sebuah ruang horor fiksi ilmiah dibangun secara kosmetis melalui Gothic Visual. Pengaruh Gothic langsung terasa sejak shot pertama pesawat ruang angkasa Nostromo. Alih-alih terlihat seperti pesawat masa depan yang higienis dan canggih, pesawat penambang ini secara visual menyerupai katedral luar angkasa yang masif dan gelap.

Desain interior Nostromo dan kilang minyaknya adalah labirin membingungkan yang penuh dengan koridor rendah, ruang-ruang tinggi yang saling terhubung, serta pencahayaan berkabut mirip katedral. Sutradara Ridley Scott sengaja menggunakan asap dupa untuk menciptakan kedalaman dan kualitas tiga dimensi, yang memancing tatapan penonton ke dalam ruang-ruang gelap yang tidak bisa mereka kuasai.

Gothic Visual ini dipertegas oleh kontribusi seniman surealis H.R. Giger. Jika elemen bumi pada Nostromo dirancang secara spasial Gothic oleh Ron Cobb, maka Giger bertanggung jawab atas Gothic Organik pada lanskap planet asing dan interior pesawat alien yang tampak seperti "tenggorokan raksasa" atau susunan tulang belulang. Dekorasi arsitektur alien ini memberikan kesan pertumbuhan organik seperti tanaman, sebuah estetika yang melahirkan kengerian biomekanis.

Secara tematik, Alien sebenarnya mengabaikan banyak pakem narasi Gothic konvensional (tidak ada gadis malang yang butuh diselamatkan, tidak ada plot romantis, dan monster aliennya murni makhluk biologis, bukan makhluk supranatural). Namun, film ini mengadopsi formula Male Gothic (Gothic Pria), di mana plotnya tragis, ancaman diterima sebagai realitas, dan para penyintas keluar dengan trauma mendalam yang permanen.

Studi Kasus 2: Moon (2009) dan Transisi ke Female Gothic

Jika Alien didominasi oleh estetika visualnya, film Moon karya Duncan Jones menggunakan hibridasi Gothic untuk menggerakkan narasi dramatisnya melalui pergeseran modus antara Male Gothic dan Female Gothic.

Pangkalan penambangan bulan dalam Moon secara sengaja meniru interior Nostromo milik Alien untuk membangun atmosfer isolasi yang akrab dengan bahaya. Tokoh utama, Sam Bell, mengira dirinya adalah pekerja tunggal yang menjelang akhir kontrak tiga tahunnya. Namun, setelah mengalami kecelakaan, ia menemukan fakta mengejutkan: ada klon dirinya yang lain di pangkalan tersebut.

Novum kloning di sini berfungsi ganda: sebagai konsep fiksi ilmiah sekaligus konsep inti Gothic tentang doppelgänger (kembaran gaib). Narasi Moon menjadi "lebih Gothic" karena Sam dihantui oleh halusinasi transendental—ia melihat visi anak perempuannya yang beranjak dewasa, sesuatu yang secara logis sains-fiksi seharusnya tidak bisa ia akses dari memori implan tubuh klonnya.

Puncak ke-Gothic-an film ini terjadi saat Sam menemukan ruang rahasia di bawah tempat tinggalnya yang ternyata menjadi tempat penyimpanan ratusan tubuh klon. Ruang ini bukan sekadar gudang fungsional, melainkan sebuah "womb and tomb" (rahim sekaligus makam)—sebuah konsep yang diperkenalkan Diana Wallace untuk menggambarkan Female Gothic (Gothic Wanita). Penemuan rahim-makam bawah tanah ini mengubah arah film. Jika awalnya penonton disajikan misteri ironis khas Male Gothic, paruh kedua film bergeser ke Female Gothic yang menghasilkan ketegangan dari keterbatasan sudut pandang, di mana situasi mistis tersebut akhirnya rasional terjelaskan, diendap, dan dilawan. Film ini pun berakhir dengan pelarian dan harapan, bukan kehancuran tragis.

Studi Kasus 3: Ex Machina (2015) dan Distorsi Fiksi Ilmiah

Berbeda dengan Moon yang merupakan film SF dengan elemen Gothic, Ex Machina karya Alex Garland adalah sebuah psikodrama Gothic yang diganggu oleh konvensi fiksi ilmiah. Film ini merupakan penceritaan ulang modern dari dongeng klasik Gothic Bluebeard (Sijanggut Biru) yang dikombinasikan dengan mitos Frankenstein.

Nathan Bateman adalah sang ilmuwan jenius sekaligus figur Bluebeard modern yang mengurung Ava, sebuah Kecerdasan Buatan (AI) berwujud perempuan (gynoid), di dalam rumah laboratorium bawah tanah yang terisolasi di tengah alam liar yang megah (sublime). Caleb, seorang programmer muda, diundang dan diposisikan layaknya "pengantin baru" yang diberi kunci untuk menjelajahi kastil, namun dilarang memasuki area tertentu.

Secara fondasi, Ex Machina menggunakan kerangka Female Gothic yang berfokus pada penahanan dan upaya emansipasi seorang wanita. Namun, intervensi novum SF (tubuh Ava yang terbuat dari kaca transparan dan daging sintetis) justru mendistorsi pesan feminis tersebut. Tubuh Ava dieksploitasi lewat tatapan pria (scopophilic male gaze), menjadikannya objek fetisisme meskipun ia berhasil melarikan diri.

Ketika Caleb menemukan rekaman prototipe Ava terdahulu yang dihancurkan secara brutal oleh Nathan, film ini bergeser kembali ke arah horor Male Gothic—sebuah kisah tragis tentang kesombongan pria (male overreacher) yang dihancurkan oleh monster ciptaannya sendiri.

Warisan Visual yang Abadi

Hibridasi antara Gothic dan Fiksi Ilmiah terbukti melahirkan spektrum simbol yang luar biasa luas. Kehadiran elemen Gothic—baik berupa teror Female Gothic, horor Male Gothic, maupun estetika arsitektur visual—terbukti berhasil mengisi ruang "transendentalisme, magis, dan agama" yang sering kali absen dari penjelasan empiris fiksi ilmiah murni.

Pengaruh intertekstual ini terus berputar tanpa akhir. Kita bisa melihat warisan ini terus hidup dalam sinema modern, seperti dalam serial televisi Orphan Black (2016), di mana salah satu set laboratorium bawah tanahnya yang minimalis dan terisolasi di alam liar secara visual mereplikasi langsung arsitektur Gothic modern dari Ex Machina. Pada akhirnya, Gothic bukan sekadar masa lalu yang usang; ia adalah bayang-bayang gelap yang akan selalu membayangi masa depan fiksi ilmiah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image