Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Rupa di Balik Kabut Kampung Durian Runtuh

Sastra | 2026-01-23 15:41:55

Cerpen ini mengisahkan pengalaman traumatis Badrol dan Lim di Kampung Durian Runtuh pada suatu malam Jumat Kliwon yang berselimut kabut tebal. Keheningan malam berubah menjadi teror mencekam saat mereka bertemu dengan sesosok entitas yang menyerupai Opah, nenek dari Upin dan Ipin, di sebuah cakruk tua. Makhluk tersebut tampil dengan ciri-ciri uncanny—gerakan patah-patah, aroma decaying flesh, dan sepasang mata cekung yang memancarkan aura malignant.

Melalui narasi yang penuh ketegangan, pembaca dibawa menyaksikan bagaimana batas antara realitas dan hallucination menipis ketika sosok penyamar (shapeshifter) tersebut mulai meneror fisik dan mental kedua pemuda itu. Kehadiran Opah yang asli dengan ancestral wisdom miliknya memang berhasil mengusir entitas tersebut, namun menyisakan sebuah revelation yang mengganggu pikiran: apakah pelindung kampung tersebut benar-benar manusia biasa, ataukah bagian dari kekuatan primordial yang sama gelapnya? Cerita ini mengeksplorasi tema duality, ketakutan akan rusaknya citra orang yang dicintai, serta misteri yang tersembunyi di balik veil of mist sebuah kampung yang tampak bersahaja.

Malam di Kampung Durian Runtuh biasanya hanya diisi oleh simfoni jangkrik dan gesekan daun bambu yang memekik telinga. Namun, malam Jumat Kliwon kali ini terasa berbeda. Kabut tebal merayap turun dari perbukitan, menyelimuti jalanan tanah hingga menyisakan jarak pandang yang pendek. Di ujung persimpangan, sebuah cakruk tua berdiri merana dengan atap rumbia yang mulai lapuk. Lampu minyak yang tergantung di sana bergoyang pelan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas tanah.

Badrol, yang baru saja pulang dari kota, duduk menyandar di tiang bambu cakruk sembari menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. Di sampingnya, Lim tampak gelisah, sesekali membetulkan letak kacamatanya yang berembun.

"Kau rasa ada yang tak kena malam ni, Bad?" bisik Lim pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam kesunyian yang mencekam.

Badrol hanya mendengus, mencoba terlihat berani. "Alah, kau ni terlalu banyak dengar cerita hantu urban legend. Ini kampung kita, mana ada apa-apa."

"Tapi tengoklah kabut tu, pekat sangat. Macam ada yang bersembunyi di baliknya," balas Lim lagi, matanya terus melirik ke arah jalan setapak menuju rumah Upin dan Ipin.

Tiba-tiba, suara gesekan kain di atas tanah terdengar. Srak... srak... srak...

Dari balik kabut, muncul sesosok siluet tubuh renta yang sangat mereka kenali. Sosok itu mengenakan kebaya panjang berwarna pudar dengan kain jarik yang menyapu tanah. Sanggulnya sedikit berantakan, dan ia berjalan dengan punggung yang membungkuk dalam, tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu yang mengetuk tanah dengan irama yang janggal.

"Opah?" gumam Badrol, matanya membelalak. "Eh, Opah! Buat apa keluar malam-malam buta macam ni?"

Sosok yang menyerupai nenek si kembar itu berhenti tepat di batas cahaya lampu cakruk. Wajahnya tertunduk, tertutup bayangan rambut putihnya yang menjuntai. Tidak ada jawaban. Hawa dingin yang tidak wajar tiba-tiba menusuk tulang, membuat bulu kuduk kedua pemuda itu berdiri tegak.

"Opah mau ke mana? Bahaya lah jalan sendiri, biar kami hantarkan," tawar Lim dengan suara gemetar, meski hatinya berteriak untuk segera lari.

Perlahan, sosok itu mulai mendongak. Bukannya wajah teduh penuh kasih sayang yang mereka temukan, melainkan sepasang mata yang cekung dan gelap total, seolah-olah seluruh kehidupan telah tersedot keluar dari sana. Bibirnya yang pucat perlahan terbuka, membisikkan sesuatu yang bukan terdengar seperti suara manusia, melainkan suara angin yang melewati celah gua.

"Upin... Ipin... belum pulang..."

"Tapi Opah... Upin dan Ipin kan sudah tidur dari tadi," sahut Badrol dengan nafas yang mulai memburu.

Sosok itu kemudian menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi yang menghitam. Ia mulai melangkah masuk ke dalam area cakruk, bergerak dengan gerakan patah-patah yang uncanny. Seketika itu juga, bau tanah kuburan yang basah dan aroma bunga kamboja busuk menyerbak, memenuhi rongga paru-paru mereka. Badrol dan Lim terpaku, menyadari bahwa yang berdiri di hadapan mereka bukanlah manusia, melainkan sesuatu yang meminjam rupa sang nenek untuk tujuan yang jauh lebih gelap.

Udara di sekitar cakruk mendadak terasa seberat timah. Sosok yang menyerupai Opah itu tidak lagi berjalan, melainkan menyeret kakinya dengan irama staccato yang menyayat keheningan. Badrol mencoba berdiri, namun lututnya terasa lemas seolah sendi-sendinya telah berubah menjadi jeli. Di sampingnya, Lim sudah berada di ambang histeria; napasnya tersengal, menciptakan kabut tipis di depan kacamatanya.

"Bad... itu bukan Opah... look at her neck!" bisik Lim dengan suara yang tercekik.

Badrol mempertajam penglihatannya. Di bawah temaram lampu minyak yang berkedip flickering, ia melihat pemandangan yang memuakkan. Kulit di leher sosok itu tampak mengelupas, menampakkan urat-urat hitam yang berdenyut layaknya parasit yang sedang berpesta. Sosok itu berhenti tepat dua langkah di depan mereka. Bau decaying flesh atau daging busuk yang bercampur dengan wangi bunga kamboja kini begitu menyengat, membuat perut Badrol mual.

"Mana cucu-cucuku...?" suara itu kembali terdengar, namun kali ini lebih berat, seolah berlapis-lapis suara makhluk yang berbeda berbicara secara bersamaan. "Kalian... sembunyikan mereka, ya?"

"Tak ada, Opah! Eh, maksud saya... kami tak tahu!" teriak Badrol sambil menyambar gelas kopinya sebagai senjata darurat yang sia-sia. "Pergi kau! Jangan ganggu kami!"

Sosok itu tiba-tiba berhenti bergerak. Keheningan yang eerie menyelimuti mereka selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Secara mendadak, kepala sosok itu berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang dengan suara krak yang mengerikan—seperti dahan kering yang dipatahkan paksa. Tubuhnya tetap menghadap ke depan, namun wajah yang cekung itu kini menatap mereka dari posisi yang mustahil.

"Tipu..." desis makhluk itu. Ia tertawa kecil, suara tawa yang lebih mirip dengan rintihan anjing yang sekarat.

Tiba-tiba, lampu minyak di langit-langit cakruk pecah. Pyarr! Api menyambar lantai bambu sebentar sebelum padam total, meninggalkan mereka dalam kegelapan pitch black. Dalam kegelapan itu, Lim merasakan sebuah tangan yang dingin, keriput, dan kasar mencengkeram pergelangan kakinya.

"Bad! Tolong aku! Dia pegang kaki aku!" jerit Lim histeris. Ia menendang-nendang ke segala arah, namun cengkeraman itu terasa seperti catut besi yang panas.

Badrol meraba-raba saku celananya, mencari korek api dengan tangan gemetar. Saat api kecil menyala dari koreknya, ia melihat pemandangan yang akan menghantuinya seumur hidup. Sosok "Opah" itu kini sedang merangkak di langit-langit cakruk seperti seekor predatory insect. Kain jariknya menjuntai ke bawah, menutupi wajah Lim yang pucat pasi.

"Kau bukan Opah! Opah orang baik, kau setan!" teriak Badrol memberanikan diri. Ia melemparkan korek api yang menyala ke arah sosok itu.

Makhluk itu melompat turun dengan kecepatan unhumanly fast, mendarat di atas meja kayu cakruk hingga hancur berkeping-keping. Ia berdiri tegak, namun kali ini tinggi tubuhnya seolah memanjang, melampaui tinggi manusia normal. Jari-jarinya yang semula pendek berubah menjadi kuku-kuku hitam yang panjang dan tajam.

"Di mana... Upin... Ipin...?" makhluk itu menggeram, wajahnya kini tepat berada di depan wajah Badrol. Hawa napasnya berbau tanah kuburan yang lembap dan dingin, the scent of death yang begitu nyata.

Lim yang berhasil melepaskan diri segera menarik baju Badrol. "Lari, Bad! Jangan pandang belakang! Just run!"

Namun, saat mereka hendak melompat keluar dari cakruk, kabut di sekitar mereka mendadak memadat menjadi dinding putih yang tak tertembus. Jalan setapak menuju kampung hilang ditelan halusinasi putih. Di balik kabut itu, terdengar suara tawa anak-anak yang riang—suara Upin dan Ipin—namun bernada ganjil dan melengking, memanggil-manggil nama mereka dari arah yang berbeda-beda. Mereka terjebak dalam limbo di tengah Kampung Durian Runtuh yang kini terasa seperti alam lain.

Dinding kabut itu seolah menjadi penjara supernatural yang mengisolasi mereka dari dunia nyata. Badrol dan Lim terengah-engah, berdiri berhimpitan di tengah kepungan putih yang mencekam. Suara tawa "Upin dan Ipin" yang melengking kian mendekat, tumpang tindih dengan derak tulang dari sosok yang menyerupai Opah.

"Bad, kita tak boleh diam saja! Ini hallucination atau apa pun, kita harus keluar!" teriak Lim dengan suara pecah. Ia mencoba menerobos kabut, namun setiap kali ia melangkah, ia seolah kembali ke titik semula—tepat di depan cakruk yang hancur.

Tiba-tiba, sosok "Opah" itu melayang rendah, kakinya tidak lagi menyentuh tanah. Wajahnya yang semula hanya cekung kini mulai meleleh seperti lilin yang terbakar, meneteskan cairan hitam pekat ke tanah. The uncanny valley yang mereka rasakan berubah menjadi teror murni saat makhluk itu mengeluarkan jeritan high-pitched yang memekakkan telinga.

"Bawa... aku... pada mereka!" raung makhluk itu. Tubuhnya yang memanjang kini menekuk secara grotesque, tangan dengan kuku hitamnya menyambar leher Badrol.

Badrol tercekik, kakinya menendang udara. "Lim... lari... cari Opah... yang asli!"

Lim, yang awalnya lumpuh karena ketakutan, mendadak melihat sebuah anomalous cahaya redup di kejauhan. Itu bukan cahaya lampu minyak, melainkan cahaya kuning keemasan yang terasa hangat. Ia teringat sesuatu. "Bad! Ingat kata Tok Dalang? Kalau tersesat dalam the veil of mist, jangan pakai mata, pakai hati!"

Dengan nekat, Lim mengambil sisa kayu dari meja cakruk yang hancur dan melemparkannya ke arah "Opah" palsu itu. "Lepaskan dia, setan! Kau takkan dapatkan mereka!"

Saat makhluk itu menoleh ke arah Lim, cengkeramannya pada Badrol mengendur. Di saat kritis itu, suara langkah kaki yang mantap terdengar dari arah jalan setapak. Bukan langkah kaki yang menyeret, melainkan langkah kaki yang berwibawa.

"Berhenti!" sebuah suara serak namun tegas membelah kabut.

Dari balik kegelapan, muncul sesosok wanita tua lain. Kali ini, ia membawa lampu badai yang menyala terang dan sebuah tas anyaman. Itu Opah yang asli. Wajahnya tidak cekung; wajah itu penuh dengan guratan usia yang memancarkan ketenangan.

"Opah?!" jerit Lim dan Badrol bersamaan.

Makhluk yang menyamar itu menggeram, tubuhnya bergetar hebat menunjukkan hostility yang luar biasa. Ia tampak mengecil, seolah terintimidasi oleh kehadiran sang nenek yang sesungguhnya.

"Kau berani meminjam rupaku untuk mengganggu pemuda-pemuda ini?" Opah melangkah maju tanpa rasa takut. Ia mengeluarkan segenggam garam kasar dan butiran lada hitam dari kantongnya. "Pulanglah ke lubangmu! Kampung ini bukan tempat untuk shapeshifter kotor macam kau!"

Opah melemparkan garam itu ke arah sosok tersebut. Saat butiran garam menyentuh kulit melenting makhluk itu, terjadi reaksi combustion yang aneh. Asap hitam membubung tinggi disertai bau belerang yang menyengat. Makhluk itu melolong, suaranya perlahan berubah dari suara Opah menjadi lengkingan binatang yang terluka, sebelum akhirnya meledak menjadi serpihan kabut hitam yang lenyap ditelan angin.

Seketika itu juga, dinding kabut yang memenjarakan mereka meluruh. Suara tawa anak-anak yang ganjil menghilang, digantikan kembali oleh simfoni jangkrik yang damai. Badrol jatuh terduduk, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah baru saja kembali dari ambang asphyxiation.

"Kalian tak apa-apa?" tanya Opah lembut, sambil membantu Badrol berdiri. "Maafkan Opah, malam ini penjaga hutan sedang gelisah, makanya 'dia' berani turun ke cakruk."

Lim masih gemetar, menunjuk ke arah tempat makhluk itu tadi berdiri. "Tapi Opah... dia... dia cari Upin dan Ipin..."

Opah tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan namun menyimpan misteri. "Cucu-cucuku sudah tidur nyenyak di rumah sejak Isya tadi. Mari balik, jangan biarkan nightmare ini mengikut kalian sampai ke mimpi."

Keheningan kembali menyelimuti persimpangan itu, namun kali ini bukan keheningan yang mengancam, melainkan kesunyian yang membawa kelegaan luar biasa. Badrol dan Lim berjalan gontai mengekor di belakang Opah. Lampu badai di tangan wanita tua itu menjadi satu-satunya beacon of hope di tengah sisa-sisa kabut yang mulai menipis. Langkah Opah begitu tenang, seolah-olah konfrontasi dengan entitas malignant tadi hanyalah bagian dari rutinitas malamnya.

"Opah," suara Badrol memecah kesunyian, masih terdengar shaky dan parau. "Macam mana Opah tahu kami dalam bahaya? Dan... benda apa itu sebenarnya?"

Opah berhenti sejenak, namun tidak menoleh. Ia menatap lurus ke arah rumah panggungnya yang mulai terlihat di kejauhan. "Di kampung ini, Bad, batas antara yang nyata dan yang unseen itu kadangkala setipis kulit bawang. Dia itu penunggu lama yang haus akan perhatian. Dia meminjam rupa orang yang paling dipercayai agar mangsanya menyerah tanpa lawan."

Lim membetulkan kacamatanya yang kini retak sebelah. "Tapi dia sebut nama Upin dan Ipin, Opah. Dia nak bawa mereka!"

Opah terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat kontras dengan situasi harrowing yang baru saja mereka lalui. "Upin dan Ipin itu ada 'pelindungnya' sendiri. Syaitan macam itu cuma boleh menggertak, tapi takkan mampu menyentuh mereka. Kalian saja yang terlalu lemah semangat sampai dia boleh buat hallucination macam tadi."

Sesampainya di halaman rumah, Opah berbalik dan menatap kedua pemuda itu dengan tatapan yang dalam. "Dah, pergilah balik ke rumah masing-masing. Sebelum masuk, basuh kaki dengan air garam yang Opah beri tadi. Jangan menoleh belakang, apa pun yang kalian dengar."

"Terima kasih, Opah. Kami minta maaf sebab dah susahkan Opah," kata Lim sambil membungkuk hormat, diikuti oleh Badrol yang masih tampak dazed.

Saat Badrol dan Lim mulai berjalan menjauh, Badrol tidak tahan untuk tidak melirik sedikit ke arah jendela kamar Upin dan Ipin di lantai atas. Di sana, di balik tirai yang tersingkap sedikit, ia melihat dua siluet anak kecil sedang berdiri diam mematung, menatap ke arahnya. Namun, yang membuat darahnya kembali membeku adalah fakta bahwa kedua siluet itu tidak bergerak sedikit pun, bahkan ketika angin malam berhembus kencang.

"Bad! Cepatlah!" seru Lim dari kejauhan, menyadari temannya tertinggal.

Badrol segera mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa dingin yang kembali menjalar di tengkuknya. Di belakang mereka, Opah masih berdiri di bawah pohon mangga, mematikan lampu badainya. Dalam kegelapan yang total sebelum fajar menyingsing, Badrol sempat bersumpah melihat mata Opah berkilat kekuningan selama satu micro-second sebelum benar-benar padam.

Pagi harinya, Kampung Durian Runtuh kembali normal. Matahari bersinar cerah, dan suara riang Upin serta Ipin yang mengejar ayam terdengar hingga ke cakruk yang kini hanya menyisakan puing-puing kayu lapuk. Badrol dan Lim hanya bisa saling berpandangan saat melewati tempat itu, menyadari bahwa the encounter malam itu telah meninggalkan luka permanen dalam ingatan mereka. Mereka tahu, di balik keramahan kampung ini, ada rahasia yang terkunci rapat di balik kabut, dan Opah adalah pemegang kuncinya yang paling setia.

Tiga hari telah berlalu sejak malam yang mencekam di cakruk tua itu, namun atmosfer di Kampung Durian Runtuh seolah tak pernah benar-benar kembali seperti semula bagi Badrol dan Lim. Matahari memang bersinar terik di atas kebun karet, dan suara tawa betul, betul, betul milik si kembar masih menggema di penjuru kampung, tetapi bagi mereka, setiap sudut bayangan kini tampak menyimpan ancaman.

Badrol berdiri di depan teras rumah Tok Dalang, menatap ke arah rumah panggung Opah yang berdiri tenang di bawah naungan pohon mangga. Dari kejauhan, ia melihat Opah sedang menjemur kain jarik—kain yang sama dengan yang ia lihat menyeret tanah dalam kabut itu.

"Masih memikirkan malam itu, Bad?" suara berat Tok Dalang memecah lamunan. Pria tua itu muncul sambil membawa parang untuk membersihkan semak.

"Susah mau lupa, Tok," sahut Badrol jujur. "Lim sampai sekarang masih demam. Dia kata, setiap kali dia tutup mata, dia nampak muka Opah yang melting macam lilin tu."

Tok Dalang menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah bukit yang masih diselimuti sisa-sisa morning mist. "Kampung ini sudah tua, jauh lebih tua dari yang kau bayangkan. Opah itu... dia bukan sekadar nenek bagi Upin dan Ipin. Dia adalah the silent guardian kampung ini. Tanpa dia, mungkin 'benda-benda' dari hutan itu sudah lama masuk ke ruang tamu kita."

Tiba-tiba, Upin dan Ipin berlari melintasi halaman dengan ceria. Mereka berhenti sejenak di depan Badrol.

"Abang Bad! Kenapa muka pucat? Macam nampak hantu saja!" seloroh Upin sambil tertawa kecil.

"Ha'ah, macam nampak I!" timpal Ipin dengan gaya khasnya.

Badrol tersenyum dipaksakan, namun matanya tak sengaja melirik ke arah pergelangan kaki kedua anak itu. Ada bekas kemerahan berbentuk lingkaran, menyerupai bekas cengkeraman tangan yang sangat kecil. Ia teringat suara tawa ganjil di dalam kabut yang memanggil nama mereka.

"Upin, Ipin... malam Jumat lepas, kalian pergi mana?" tanya Badrol dengan nada subtle.

Kedua bocah itu saling berpandangan. "Kami tidur lah. Opah bagi minum susu cokelat yang sedap sangat, terus kami mengantuk," jawab Upin polos.

"Tapi..." Ipin menyambung dengan suara yang tiba-tiba merendah, "Ipin mimpi nampak Abang Bad kat cakruk. Abang Bad tengah main hide and seek dengan Opah yang tinggi sangat."

Darah Badrol serasa berhenti mengalir. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara Opah memanggil dari seberang jalan dengan nada yang sangat berwibawa namun menenangkan.

"Upin! Ipin! Mari balik makan! Jangan kacau Abang Bad kamu tu!"

Anak-anak itu pun berlari pulang. Dari ambang pintu, Opah menatap lurus ke arah Badrol. Ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk kecil, sebuah gestur yang seolah-olah berkata, "Cukup sampai di sini, jangan digali lagi."

Malamnya, Badrol menuliskan sesuatu di buku catatannya sebelum ia kembali ke kota keesokan harinya. Ia menyadari satu hal yang luput dari perhatian Lim: malam itu, saat Opah yang asli muncul membawa lampu badai, bayangannya di tanah sama sekali tidak bergerak mengikuti cahaya. Bayangan itu diam, memanjang, dan memiliki kuku yang tajam—persis seperti sosok shapeshifter yang diusirnya.

Apakah Opah yang menyelamatkan mereka adalah benar-benar manusia, ataukah ia adalah entitas yang lebih kuat yang sedang menjaga "wilayah perburuannya" dari gangguan makhluk lain? Jawaban itu terkubur bersama aroma decaying flesh yang perlahan menghilang, digantikan oleh wangi bunga melati yang mekar di bawah sinar rembulan yang pucat. Di Kampung Durian Runtuh, kebenaran seringkali lebih mengerikan daripada urban legend yang paling kelam sekalipun.

Peristiwa di cakruk tua itu bukan sekadar fragmen horror yang singgah lalu pergi, melainkan sebuah revelation atau penyingkapan tentang betapa tipisnya tabir yang memisahkan logika manusia dengan misteri alam semesta. Kita sering kali merasa telah menaklukkan dunia dengan rasionalitas dan teknologi, namun di tempat-tempat seperti Kampung Durian Runtuh, hukum alam yang kita kenal sering kali tunduk pada kekuatan yang lebih primordial. Fenomena shapeshifter atau makhluk penyamar yang meminjam rupa Opah mengajarkan sebuah amanat yang getir: bahwa ketakutan terbesar manusia bukanlah pada sosok monster yang asing, melainkan pada rusaknya citra sesuatu yang paling kita cintai dan percayai.

Kisah ini memberikan pesan mendalam bahwa keberanian sejati bukan terletak pada ketiadaan rasa takut, melainkan pada ketajaman nurani untuk melihat kebenaran di tengah hallucination yang menyesatkan. Badrol dan Lim selamat karena mereka masih memiliki spiritual awareness untuk mengenali bahwa ada yang salah, namun mereka juga diingatkan untuk tidak bersikap overconfident di hadapan rahasia jagat raya. Sering kali, perlindungan yang kita terima dalam hidup datang dari sumber-sumber yang tidak terlihat, atau bahkan dari sosok yang selama ini kita anggap biasa saja.

Namun, bagian paling kelam dari amanat ini adalah tentang duality manusia dan alam. Opah—entah dia manusia dengan karamah tertentu atau entitas guardian yang lebih kuno—menunjukkan bahwa untuk melawan kegelapan yang buas, terkadang dibutuhkan kekuatan yang sama besarnya, yang mungkin juga menyimpan sisi gelapnya sendiri. Kita harus belajar menghormati batas-batas yang telah ditetapkan oleh kearifan lokal. Jangan pernah meremehkan ancestral wisdom yang diwariskan turun-temurun, karena di balik larangan-larangan yang terdengar kolot, tersimpan perlindungan terhadap ancaman yang tak sanggup dinalar oleh akal sehat.

Pada akhirnya, Kampung Durian Runtuh tetap berdiri tenang, namun kini kita tahu bahwa kedamaian itu hanyalah sebuah facade atau tampak depan yang dijaga dengan harga yang mahal. Tetaplah waspada, karena terkadang, yang menjaga kita dari balik kabut adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada apa yang sedang ia usir. Jangan pernah menantang kegelapan jika kau belum siap melihat apa yang menatap balik dari sana dengan mata yang unhumanly terang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image