Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image haura Insiyah

Kedelai Impor Mahal, Ketahanan Pangan Dipertanyakan

Bisnis | 2026-06-07 12:46:33

Oleh: Nisa Kholifah, M.Pd

Nilai rupiah terus melemah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar terus meroket. Tentu kondisi ini berdampak serius terhadap harga kedelai yang selama ini masih bergantung pada impor dari luar negeri. Para perajin tempe pun semakin terhimpit. Harga kedelai yang terus melambung membuat para perajin kebingungan. Pasalnya, kenaikan harga mencapai Rp100 hingga Rp200 per kilogram. Dana yang sebelumnya dapat disimpan sebagai tabungan kini harus digunakan sebagai tambahan modal usaha.

Berdasarkan wawancara yang dilansir Kompas.com, seorang perajin tempe bernama Fajar (32) mengaku terpaksa memperkecil ukuran tempe karena khawatir kehilangan pelanggan. Ukuran tempe yang semula 35 × 12 cm kini menjadi 30 × 10 cm. Langkah ini dilakukan agar pelanggan tetap dapat menikmati protein nabati dengan harga yang masih terjangkau, meskipun biaya produksi terus meningkat. Jika protein hewani saja belum dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat berpenghasilan rendah karena harganya mahal, kini sumber protein nabati yang selama ini dianggap lebih terjangkau juga ikut terdampak. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat menjadi semakin sulit.

Belum lagi kenaikan harga plastik yang turut menambah biaya produksi tempe dan tahu. Tidak banyak yang menyadari bahwa plastik memiliki peran penting dalam proses fermentasi kedelai. Melemahnya nilai rupiah membuat harga bahan baku dan bahan pendukung produksi ikut meningkat sehingga para produsen harus mencari alternatif lain. Kondisi ini semakin menekan para perajin tahu dan tempe karena biaya operasional terus membengkak.

Indonesia yang dikenal memiliki sumber daya alam melimpah dan disebut sebagai negara agraris, pada kenyataannya masih bergantung pada impor kedelai hingga mencapai triliunan rupiah. Persoalannya bukan terletak pada kualitas kedelai lokal. Kedelai yang dihasilkan petani Indonesia pada dasarnya mampu bersaing dengan kedelai impor. Namun, dukungan negara terhadap petani masih sangat terbatas. Berbeda dengan negara lain yang meskipun memiliki kondisi musim yang tidak menentu, tetap mampu menghasilkan produk pertanian berkualitas karena didukung teknologi modern dan kebijakan yang memadai.

Kondisi perajin tempe yang semakin memprihatinkan menjadi bukti bahwa negara belum mampu mewujudkan keadilan ekonomi yang sesungguhnya. Sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan saat ini, menurut pandangan penulis, lahir dari aturan manusia yang lemah dan terbatas sehingga menimbulkan berbagai persoalan. Negara yang seharusnya mampu menstabilkan perekonomian rakyat kecil justru belum mampu melindungi mereka dari dampak gejolak ekonomi. Pelemahan rupiah dan mahalnya kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan ketergantungan dan menyulitkan rakyat kecil.

Jeritan para perajin tahu dan tempe pun seakan tidak didengar oleh penguasa. Padahal, rendahnya nilai rupiah membuat harga bahan baku seperti kedelai dan plastik terus meningkat sehingga melemahkan perekonomian rakyat kecil. Kondisi ini menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat, khususnya usaha kecil. Ketergantungan pada kedelai impor juga mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi negara.

Sudah saatnya umat Muslim bangkit dari keterpurukan. Kembali kepada Islam kaffah dipandang sebagai solusi karena banyak umat Muslim mencari jalan keluar yang tidak bersumber dari ajaran Islam secara utuh. Padahal, Islam dipahami sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh yang mengatur berbagai aspek kehidupan, mulai dari urusan individu hingga urusan negara.

Pertama, Islam dipandang mampu mengatasi persoalan pelemahan nilai mata uang dengan menerapkan sistem berbasis emas dan perak sehingga nilai uang lebih stabil dan tidak mudah dispekulasikan. Kedua, ketika Islam diterapkan, negara akan mendorong pengelolaan lahan-lahan pertanian yang terbengkalai agar kembali produktif. Dengan demikian, kemandirian pangan dapat terwujud tanpa bergantung pada impor kedelai dari luar negeri. Ketiga, politik ekonomi Islam berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu. Negara akan mengelola sumber daya alam dan mendistribusikan manfaatnya kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga perajin tempe skala kecil sekalipun memperoleh perlindungan dari tekanan ekonomi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image