Sri Sumarah dan Bawuk: Perempuan, Keluarga, dan Zaman yang Berubah
Pendidikan dan Literasi | 2026-06-04 18:30:04
Membaca Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam rasanya seperti menonton kisah keluarga yang sederhana, tetapi perlahan meninggalkan banyak pertanyaan tentang hidup, pilihan, dan hubungan antara orang tua dengan anak. Novel yang pertama kali terbit pada era 1970-an ini tidak menawarkan konflik yang meledak-ledak, tetapi justru menghadirkan drama yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Umar Kayam dikenal sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang sering mengangkat kehidupan masyarakat Jawa dengan sangat manusiawi. Dalam Sri Sumarah dan Bawuk, ia menghadirkan dua cerita yang berbeda, tetapi sama-sama berbicara tentang perempuan, keluarga, dan perubahan zaman. Tokoh Sri Sumarah digambarkan sebagai perempuan Jawa yang menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan kepasrahan. Sementara itu, Bawuk hadir sebagai sosok yang lebih berani mengambil jalan hidupnya sendiri, bahkan ketika pilihan tersebut membuatnya berseberangan dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Dari segi sejarah, karya ini lahir pada masa Indonesia sedang mengalami banyak perubahan sosial dan politik setelah masa kemerdekaan. Konflik politik, perubahan struktur masyarakat, hingga pergeseran nilai-nilai tradisional menjadi latar yang memengaruhi kehidupan para tokohnya. Karena itu, cerita dalam novel ini bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Indonesia berusaha beradaptasi dengan zaman yang terus berubah.
Salah satu kekuatan terbesar karya Umar Kayam terletak pada bahasanya. Ia menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Namun, di dalamnya terdapat banyak nuansa budaya Jawa yang membuat cerita terasa hidup. Pembaca tidak hanya mengikuti jalan cerita, tetapi juga diajak memahami cara berpikir masyarakat Jawa yang menjunjung kesabaran, hormat kepada keluarga, dan kemampuan menerima kenyataan hidup. Bahasa yang digunakan juga tidak rumit.
Ketika membaca kisah Sri Sumarah, pembaca mungkin akan melihat gambaran seorang ibu yang rela berkorban demi keluarganya. Ia menjalani berbagai kesulitan tanpa banyak mengeluh. Sikapnya mencerminkan nilai yang selama ini sering dianggap sebagai kebajikan dalam budaya Jawa, yaitu nrimo atau menerima keadaan dengan lapang dada. Namun, Umar Kayam tidak sekadar memuji sikap tersebut. Ia juga mengajak pembaca berpikir tentang harga yang harus dibayar seseorang ketika terlalu lama memendam perasaan dan kepentingannya sendiri.
Sementara itu, kisah Bawuk menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Bawuk adalah sosok yang tumbuh di tengah perubahan zaman dan memiliki keberanian untuk menentukan jalannya sendiri. Pilihan hidupnya tidak selalu diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Melalui tokoh ini, Umar Kayam menunjukkan bahwa hubungan antara orang tua dan anak sering kali dipenuhi perbedaan pandangan. Orang tua ingin melindungi, sementara anak ingin menentukan masa depannya sendiri.
Menariknya, meskipun cerita ini ditulis puluhan tahun lalu, temanya masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Banyak anak muda masa kini yang menghadapi dilema serupa. Mereka ingin mengejar cita-cita, memilih pasangan, menentukan pendidikan, atau membangun karier sesuai keinginan mereka sendiri. Di sisi lain, keluarga sering memiliki harapan yang berbeda. Perbedaan generasi yang dialami tokoh-tokoh dalam Sri Sumarah dan Bawuk ternyata tidak jauh berbeda dengan yang terjadi sekarang.
Jika dikaitkan dengan era media sosial, kisah ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang tidak selalu terlihat. Di dunia digital, kehidupan sering tampak sempurna. Namun, seperti Sri Sumarah dan Bawuk, banyak orang sebenarnya sedang berjuang menghadapi masalah keluarga, tekanan sosial, atau konflik batin yang tidak diketahui orang lain.
Secara keseluruhan, Sri Sumarah dan Bawuk adalah karya yang menunjukkan keahlian Umar Kayam dalam menggambarkan manusia secara apa adanya. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Semua tokoh memiliki alasan, kelemahan, dan pergulatannya masing-masing. Itulah yang membuat cerita ini terasa begitu nyata.
Pada akhirnya, novel ini mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Setiap generasi memiliki cara pandangnya sendiri, setiap orang membuat pilihan yang berbeda, dan setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing. Melalui kisah yang tenang tetapi menyentuh, Umar Kayam mengingatkan pembaca bahwa memahami orang lain sering kali jauh lebih penting daripada sekadar menghakimi mereka. Itulah sebabnya Sri Sumarah dan Bawuk tetap menarik untuk dibaca, bahkan oleh generasi sekarang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
