Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alfiyyah Saaddi

Ridha Itu Aktif, Bukan Sekadar Pasrah

Agama | 2026-05-28 13:14:23
Photo by Fatih Kopcal from Pexels: https://www.pexels.com/photo/silhouette-of-a-person-praying-in-a-mosque-32718450/

Pernah dengar orang bilang, "Ya sudahlah, ini sudah takdir, saya ridha saja." Eits, hati-hati. Makna ridha sering sekali disempitkan jadi pasrah fatalistik. Padahal, menurut para mufassir, ridha itu luas dan aktif.

Secara bahasa, ridha artinya senang, rela, puas. Tapi dalam Al-Qur'an, konsep ridha Allah mencakup tujuh hal: amar ma'ruf nahi munkar, jihad di jalan Allah, takwa, infak dan sedekah, berbuat baik (ihsan), mendamaikan orang berselisih, serta iman kepada qadha dan qadar yang tetap diiringi ikhtiar.

Nah poin terakhir ini penting. Imam Al-Ghazali dan Syaikh Al-Qusyairi menjelaskan bahwa ridha adalah ketulusan menerima segala ketentuan Allah, baik nikmat maupun ujian. Namun berbeda dengan "pasrah" yang cuma diam dan meratap. Ridha justru melahirkan optimisme. Ketika ditimpa musibah, orang yang ridha akan bersabar, berusaha, dan yakin Allah punya rencana terbaik.

Dalam hadits, Rasulullah bersabda, "Akan merasakan lezatnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul." (HR. Muslim).

Lalu bagaimana menerapkannya? Contoh sederhana: gagal ujian. Sikap pasrah: "Ya sudah, saya memang bodoh." Sikap ridha: "Ini takdir Allah, tapi saya harus belajar lebih giat, perbaiki cara belajar, dan yakin ada hikmah di balik ini."

Penerapan dalam pendidikan:Tanamkan nilai ridha dengan keteladanan, diskusi moral, dan simulasi. Ajari anak bahwa ridha membuat hati damai, mengurangi stres, mendatangkan pahala, dan meninggikan derajat iman.

Jadi, jangan keliru lagi ya. Ridha itu aktif, bukan hanya pasrah dan menerima.

Wallahu a'lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image