Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mefta Maudia

Percintaan Gen Z dan Fenomena Third Person: Cerpen Ave Maria Karya Idrus

Sastra | 2026-05-28 09:25:45
Cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus (sumber: https://share.google/zwgBxaPkp0cvSENFe)

“Kalau masih saling cinta, kenapa harus pisah?” Pertanyaan seperti ini sering muncul dalam hubungan percintaan anak muda zaman sekarang. Banyak hubungan yang kandas bukan karena rasa cintanya hilang, tetapi karena keadaan, kurangnya komunikasi, hadirnya orang ketiga, atau perasaan yang perlahan berubah. Fenomena tersebut ternyata sudah tergambar dalam cerpen Ave Msulit

Cerpen Ave Maria menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang menghadirkan kisah tentang cinta, pengorbanan, dan konflik batin manusia. Melalui cerita ini, Idrus memperlihatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Perasaan manusia sering kali dipengaruhi oleh keadaan, tanggung jawab, dan pilihan hidup yang sulit.

Hubungan Cinta yang Perlahan MerenggangDalam cerpen Ave Maria, hubungan antara Zulbahri dan Wartini digambarkan mulai merenggang karena keadaan. Zulbahri yang sibuk dengan pekerjaan membuat dirinya semakin jauh dari rumah tangganya. Meskipun masih saling mencintai, hubungan mereka perlahan kehilangan kedekatan emosional.

Kondisi tersebut sangat relevan dengan percintaan Gen Z saat ini. Banyak hubungan yang sebenarnya masih dipenuhi rasa sayang, tetapi perlahan retak karena kesibukan, kurang hadirnya pasangan, atau komunikasi yang tidak lagi sehangat dulu. Akibatnya, hubungan yang awalnya terasa nyaman justru berubah menjadi asing.

Kesepian dan Hadirnya Orang Ketiga

Kesepian yang dirasakan Wartini membuat dirinya merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang. Dalam kondisi tersebut, hadirlah kembali orang lama, yaitu Syamsu. Syamsu dengan wartini pernah menjalin hubungan (orang lama) yang perlahan memberikan kenyamanan emosional bagi Wartini. Kedekatan itu kemudian berkembang menjadi hubungan perasaan yang rumit.

Melalui cerita ini, Idrus menunjukkan bahwa hadirnya orang ketiga sering kali berawal dari kekosongan emosional dalam sebuah hubungan. Hal tersebut juga banyak terjadi dalam hubungan anak muda masa kini. Tidak sedikit hubungan kandas karena salah satu pihak merasa tidak lagi dipahami atau diperhatikan oleh pasangannya sendiri.Pengorbanan Zulbahri demi Kebahagiaan Wartini.

Pengorbanan Zulbahri demi Kebahagiaan Wartini

Dalam cerpen Ave Maria, tokoh Zulbahri digambarkan sebagai sosok yang menyadari perubahan perasaan dalam rumah tangganya. Ia melihat kedekatan antara Wartini dan Syamsu yang perlahan tumbuh karena keadaan. Meskipun masih memiliki rasa cinta terhadap Wartini, Zulbahri memilih untuk mengalah dan merelakan hubungan tersebut.

“Tidak, Syam, bukan maksudku hendak mengatakan kelakuanmu kurang senonoh. Akan tetapi, aku hanya hendak mengatakan bahwa perasaan hatiku benar adanya. Wartini adalah hakmu.” hlm. 8

Dalam kutipan tersebut, sikap Zulbahri menunjukkan bentuk pengorbanan yang tidak mudah dilakukan. Ia menahan rasa sakit dan kecewa demi kebahagiaan orang yang masih dicintainya. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, tetapi juga tentang keikhlasan untuk melepaskan ketika seseorang merasa orang yang dicintainya dapat lebih bahagia bersama orang lain.

Hal tersebut juga sering ditemukan dalam percintaan Gen Z saat ini. Banyak anak muda memilih melepaskan pasangannya bukan karena sudah tidak cinta, tetapi karena merasa tidak mampu lagi mempertahankan hubungan yang perlahan berubah.

Makna yang Terkandung dalam Cerpen Ave Maria

Melalui cerpen ini, Idrus memperlihatkan bahwa kehidupan tidak selalu memberikan akhir yang bahagia. Ada perasaan yang tetap tertinggal meskipun seseorang mencoba melanjutkan hidupnya. Cerpen Ave Maria juga mengajarkan bahwa manusia sering kali dihadapkan pada pilihan sulit yang dapat memengaruhi hubungan dan perasaannya.Pada akhirnya, Ave Maria bukan hanya cerita tentang cinta, tetapi juga tentang pergulatan batin manusia dalam menghadapi keadaan hidup. Itulah yang membuat cerpen ini tetap menarik dan relevan untuk dibaca hingga sekarang, terutama bagi anak muda yang sedang menghadapi rumitnya hubungan percintaan di era ini.

Mefta Maudia, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.




Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image