Guru hingga Kepala Dinas, Alumni UAD Berbagi Kisah
Info Terkini | 2026-05-25 13:36:38
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Talkshow Alumni pada Jumat, 15 Mei 2026, bertempat di Ruang Amphitarium Lantai 9, Kampus IV UAD. Acara ini menghadirkan alumni inspiratif dari berbagai bidang, salah satunya Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd. yang kini menjabat sebagai Kepala DP3ACSKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan, Pencatatan Sipil, dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Pada kesempatan ini, Bapak Asyraf mengenang masa kuliahnya di Yogyakarta pada era 1980-an. Beliau masuk kuliah pada 1985 dan lulus pada 1990 melalui jalur skripsi, yang saat itu masih sedikit diminati mahasiswa. Kehidupan mahasiswa masa itu masih sangat sederhana, ia menggunakan bus kota dan sepeda untuk aktivitas sehari-hari.
“Waktu itu saya naik bus kota, terminal masih dekat Kampus 2 UAD. Saya juga pakai sepeda balap warna merah,” kenangnya.
Setelah menyelesaikan studi, Bapak Asyraf kembali ke Bangka Belitung dan mengabdi sebagai guru di beberapa sekolah swasta, termasuk SMA Muhammadiyah sekitar tahun 1991. Tak lama kemudian, beliau ditugaskan menjadi guru SMP di wilayah terpencil yang berjarak cukup jauh dari pusat kota.
“Jarak sekolah sekitar 100 kilometer. Pernah pulang naik truk dan tidur di sekolah,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya mengajar, beliau tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Jakarta, kemudian mengajar di sekolah unggulan milik PT Timah sebelum melanjutkan studi doktoral di Universitas Negeri Jakarta.
Selain berkiprah di bidang pendidikan, beliau juga aktif di organisasi keagamaan. Saat Bangka Belitung resmi menjadi provinsi, ia dipercaya menjadi ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor tingkat provinsi. Meskipun berlatar belakang dari Muhammadiyah, beliau tetap dipercaya memimpin organisasi tersebut sebagai pengabdian lintas golongan.
Karier birokrasi Bapak Asyraf dimulai ketika beliau berpindah ke Dinas Pendidikan. Beliau turut terlibat sebagai sekretaris tim pendirian Universitas Bangka Belitung saat daerah tersebut belum memiliki perguruan tinggi negeri.
“Waktu Bangka Belitung jadi provinsi, universitas negeri belum ada. Kami memproses penggabungan beberapa perguruan tinggi hingga berdiri universitas,” ungkapnya.
Dalam kiprahnya di pemerintahan, Bapak Asyraf menyoroti tingginya angka pernikahan usia anak di Bangka Belitung ini berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Sebagai solusinya, beliau menginisiasi program pendidikan kesetaraan melalui paket A, B, dan C serta inovasi pembaruan data pendidikan pada kartu keluarga agar data penduduk tetap akurat.
Menjelang masa pensiunnya sebagai ASN pada 1 Juni 2026, Bapak Asyraf mengaku akan kembali fokus di dunia pendidikan sebagai bagian dari Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Baginya, pendidikan tetap menjadi ruang utama untuk mengabdi dan memberikan manfaat kepada masyarakat. (Mei)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
