Hati-Hati Whataboutism: Seni Mengelak yang Mengalihkan Fokus
Lain-Lain | 2026-05-23 20:48:21
Pernah tidak, saat kamu sedang diskusi dan memaparkan satu persoalan, lawan diskusimu malah membelokkannya kepada kasus yang sama sekali tidak berhubungan? Hati-hati! Bisa jadi dia menggunakan teknik whataboutism, teknik retorika yang mengalihkan kritik dengan mengangkat isu lain yang dianggap setara atau lebih buruk.
Saat ada pemberitaan tentang aksi kemanusiaan untuk Palestina misalnya, tiba-tiba ada segelintir orang yang mengomentari dengan nada tak enak, "Bagaimana dengan kriminalitas tinggi di negeri ini? Jauh-jauh peduli ke negeri orang, negeri sendiri juga belum diurus, tuh!"
Apa yang dikatakan orang-orang itu termasuk whataboutism.
Dampak dari praktik whataboutism adalah dapat merusak argumen lawan dan menghentikan pemikiran kritis karena memperkuat pembelaan kelompok daripada mencari kebenaran objektif (Dykstra, 2020).
Whataboutism digunakan untuk menarik perbandingan yang palsu dan dangkal sebagai dua hal yang tidak sebanding. Ini membuat yang mendengarkan kebingungan seolah-olah menunjukkan bahwa lawan bicaranya adalah sosok yang tidak adil dan munafik.
Padahal, kembali kepada persoalan isu Palestina tadi, baik memedulikan Palestina atau isu kemanusiaan di dalam negeri adalah sama-sama hal yang harus kita pedulikan. Bukan untuk memunculkan polarisasi siapa yang mendukung A dan siapa yang tidak.
Memedulikan Palestina adalah tugas kita sebagai manusia. Kita sering dengar bahwa kemanusiaan tidak punya batas batas agama dan negara. Membenturkan Palestina dan isu di dalam negeri hanya akan memperkeruh suasana, bukannya menjadi solusi bagi kedua permasalahan. Bukan berarti mereka yang memedulikan Palestina melupakan kondisi di negeri sendiri. Bahkan, sering ada bukti tentang mereka aktivis yang juga ikut membantu di dalam negeri.
Kita harus paham bagaimana orang-orang yang sudah tak suka ikut bekerja untuk melemahkan aktivitas kepalestinaan dan membenci tanpa alasan yang jelas. Maka sudah tugas kita semua untuk terus bersuara dan tak pernah terpancing orang-orang yang memprovokasi sebagai bagian dari penyempurnaan peran-peran yang bisa kita lakukan.
Cara Mengatasi Whataboutism
Beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menghadapi serangan whataboutism adalah pertama mengenali upaya argumen tersebut dan mencari kebenaran pertanyaannya. Kemudian kita harus dapat mengurai perbedaan kompleksitas argumen yang disampaikan dari dua kasus yang dibandingkan sehingga yang lain akan paham bahwa kedua hal tersebut tidak sebanding dan memiliki prioritasnya masing-masing.
Saat kita sedang mendiskusikan tentang aktivitas pembelaan Palestina, langkah-langkah diskusi yang hadir adalah bagaimana caranya strategi membela Palestina tersebut semakin meluas. Bukan memperkeruh dengan membandingkan nasib untuk membela negeri sendiri.
Daripada membuat keruh, lebih baik ikut membuat aktivitas aksi-aksi lain sehingga selalu ada yang fokus pada aktivitas-aktivitas kemanusiaan di berbagai tempat sesuai dengan peran dan kebutuhannya. Di Indonesia ada, di Palestina ada, di negeri-negeri lain juga bisa ada.
Whataboutnism memang senjata yang hanya mengalihkan fokus bukan menyelesaikan masalah yang ada. Kita harus menanamkan dalam diri kita bahwa setiap agenda selalu memiliki porsinya masing-masing. Diskusi yang sehat selalu butuh kepedulian bukan pengalihan dan adu nasib tanpa menemukan solusi akhirnya.
Semoga kita dapat tahu dan bereaksi dengan tenang saat mendapat serangan whataboutism yang menerpa kita dari berbagai arah tak terduga.
Sumber:
Dykstra, A. (2020). The rhetoric of "whatabouttism" in American journalism and political identity. Res Rhetorica, 7(2), 2-16
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
