Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka
Agama | 2026-06-13 19:53:47Sejak serangan 7 Oktober 2023, Gaza belum juga menemukan kedamaian hingga hari ini. Katrin Glatz Brubakk, seorang psikoterapis anak asal Norwegia, menyampaikan kepada BBC bahwa setiap anak di Gaza saat ini mengalami trauma. Bahkan, tercatat lebih dari satu juta anak telah menderita trauma dalam kategori parah.
Salah satu korban nyata dari kekejaman ini adalah Adam. Sebelum perang berkecamuk, Adam dikenal sebagai anak yang ceria dan banyak bicara. Namun, tepat saat usianya menginjak lima tahun, trauma akibat perang membuat Adam mendadak diam dan berhenti berinteraksi dengan dunia sekitarnya.
Kisah Adam mencerminkan bagaimana dampak trauma mendalam telah merenggut kemampuan berbicara anak-anak Gaza. Mereka dipaksa berhadapan dengan kengerian serangan yang bahkan orang dewasa pun belum tentu sanggup menyaksikannya dengan mata kepala sendiri
Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga kehilangan kemampuan bicara merupakan dampak langsung dari kejahatan entitas Zionis yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan Gaza. Serangan membabi buta tersebut tidak hanya merusak secara fisik melalui terjangan rudal, tembakan, dan kekerasan, tetapi juga menghantam psikis rakyat Gaza secara keji melalui pelecehan fisik hingga pemerkosaan. Tidak mengherankan jika skenario genosida ini sengaja dilakukan oleh Zionis laknatullah untuk menghancurkan fisik sekaligus mental generasi Palestina.
Di sisi lain, dunia seolah tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini dan hanya bisa menyalurkan sedikit bantuan kemanusiaan. Sementara itu, sebagian penguasa Muslim justru dinilai melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan Muslim Palestina. Mereka hanya mampu mengecam dan mengutuk perbuatan Zionis, tanpa berani memberikan bantuan militer yang nyata untuk melawan.
Kondisi memprihatinkan ini terjadi karena saat ini umat Islam telah kehilangan perisai pelindung, yaitu Daulah Islam. Akibat ketiadaan institusi pelindung ini, banyak negeri Muslim yang kini dijajah secara fisik maupun nonfisik tanpa ada kekuatan yang mampu menolong mereka.
Oleh karena itu, derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri. Langkah yang diperlukan tidak sekadar memberikan terapi psikologis, melainkan membebaskan tanah air mereka dari penjajahan Israel. Sebab, hanya melalui kemerdekaan dan kebebasan hakiki inilah rakyat Palestina dapat menemukan kedamaiannya kembali.
Kejahatan entitas Zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan institusi Daulah yang mengonsolidasikan kekuatan dan mengirimkan tentaranya demi membebaskan Palestina.
Seruan jihad inilah yang akan menjadi titik balik perlawanan terhadap Israel, sebab jihad bersenjata dalam Islam sah dan dibenarkan sebagai bentuk pembelaan diri atas genosida yang terjadi.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 39 yang artinya: “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.”
Atas dasar itulah, membangun kesadaran untuk menegakkan Daulah menjadi agenda yang sangat penting bagi pembebasan Palestina sekaligus persatuan kaum Muslimin di seluruh dunia. Wallahua'lam bish-shawab.
Sumber :
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c8d82vr7385o
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
