Bahaya Konten Viral
Gaya Hidup | 2026-05-22 09:18:04
Ada satu ruang yang sering luput dari perhatian kita, ruang sunyi di balik layar gawai. Di sana, anak-anak belajar, tertawa, meniru, sekaligus mengambil risiko, yang sering kali tanpa kita sadari. Ruang itu tidak berisik, tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata. Tragedi di Lombok Timur menjadi bukti yang tidak bisa diabaikan, dua anak, usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar, meninggal dunia setelah meniru aksi “freestyle” yang mereka lihat di media sosial dan permainan digital seperti Garena Free Fire. (Kumparan.com, 7 Mei 2026)
Jika kita berhenti sejenak dan merenung, persoalan ini tidak hanya tentang satu kejadian, satu daerah, atau satu jenis permainan. Ia membuka tabir tentang bagaimana anak-anak berinteraksi dengan dunia yang jauh lebih besar dari dirinya, tanpa filter yang memadai.
Anak pada dasarnya adalah peniru ulung. Dalam teori perkembangan kognitif, fase awal kehidupan didominasi oleh proses imitasi. Apa yang dilihat akan dicoba. Apa yang menarik akan diulang. Dalam kondisi normal, proses ini adalah bagian dari pembelajaran. Namun, ketika objek yang ditiru adalah sesuatu yang berbahaya, maka proses belajar berubah menjadi potensi musibah.
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam: anak berhadapan dengan dunia yang dirancang untuk menarik perhatian, tetapi tidak selalu dirancang untuk keselamatan mereka. Konten yang viral sering kali mengedepankan sensasi, keunikan, atau tantangan ekstrem. Bagi orang dewasa, ini mungkin sekadar hiburan. Namun, bagi anak, ini bisa menjadi instruksi tidak langsung.
*Pandangan Islam*
Islam memandang anak sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh kesadaran. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menempatkan orang tua pada posisi sentral sebagai penjaga. Kepemimpinan dalam konteks ini bukan sekadar memberi nafkah atau fasilitas, tetapi memastikan keselamatan dan arah tumbuh kembang anak. Dalam realitas hari ini, menjaga anak berarti juga memahami dunia digital yang mereka akses.
Al-Qur’an memberikan penguatan nilai yang sangat mendasar, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan...” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini sering dipahami dalam konteks yang luas, termasuk larangan melakukan hal-hal yang membahayakan diri. Dalam konteks anak, larangan ini menjadi tanggung jawab orang dewasa untuk memastikan bahwa anak tidak terjerumus ke dalam aktivitas yang berisiko, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Namun, penting untuk dicatat bahwa pendekatan dalam melihat persoalan ini perlu tetap proporsional. Teknologi bukanlah musuh. Ia adalah alat yang, jika digunakan dengan tepat, justru dapat menjadi sarana pembelajaran yang luar biasa. Tantangannya terletak pada bagaimana alat ini dihadirkan dalam kehidupan anak, apakah sebagai sarana edukasi yang terarah, atau sekadar hiburan tanpa batas.
Selain itu, ada dimensi lingkungan yang tidak bisa diabaikan. Anak tidak hidup dalam isolasi. Ia tumbuh dalam interaksi sosial yang membentuk kebiasaannya. Ketika lingkungan sekitar menganggap wajar penggunaan gawai tanpa pengawasan, maka pola tersebut akan terus berulang. Sebaliknya, jika lingkungan memiliki kesadaran kolektif untuk saling menjaga, maka risiko dapat diminimalkan.
Peran kebijakan publik juga menjadi bagian penting dalam ekosistem ini. Upaya untuk menghadirkan ruang digital yang lebih aman bagi anak perlu terus diperkuat. Ini bukan semata soal pembatasan, tetapi juga tentang menghadirkan alternatif yang lebih mendidik dan aman. Dalam konteks ini, sinergi antara berbagai pihak menjadi kunci: keluarga, pendidik, masyarakat, dan pemangku kebijakan.
*Penutup*
Refleksi dari peristiwa ini mengajak kita untuk melihat kembali cara kita memaknai “kehadiran” dalam kehidupan anak. Apakah kehadiran itu cukup diukur dari fisik yang berada di dekat mereka? Ataukah ia juga mencakup keterlibatan dalam memahami apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan?
Ruang sunyi di balik gawai tidak akan pernah benar-benar sunyi. Ia selalu terisi oleh konten, pesan, dan pengaruh. Pertanyaannya adalah: siapa yang mengisi ruang itu? Jika bukan kita sebagai orang tua dan pendidik, maka pihak lain akan mengambil peran tersebut, dengan nilai dan tujuan yang belum tentu sejalan dengan keselamatan anak.
Peristiwa di Lombok Timur adalah pengingat yang pahit, tetapi penting. Ia tidak hadir untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan. Bahwa di era ini, menjaga anak memerlukan cara pandang yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih adaptif.
Pada akhirnya, setiap anak adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Menjaga mereka bukan hanya soal hari ini, tetapi juga tentang masa depan yang sedang kita siapkan. Dari ruang-ruang kecil yang sering kita abaikan, keputusan besar tentang keselamatan mereka sedang berlangsung. Dan di situlah, peran kita benar-benar diuji.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
