Mengapa Indonesia Masih Bergantung pada Alat Kesehatan Impor?
Teknologi | 2026-05-21 20:44:49
Seiring berkembangnya sektor kesehatan di Indonesia, kebutuhan terhadap alat kesehatan terus meningkat setiap tahun. Alat kesehatan menjadi komponen penting dalam pelayanan medis karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien dan kualitas layanan kesehatan. Namun hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada produk impor untuk memenuhi kebutuhan alat kesehatan nasional. Berdasarkan data izin edar alat kesehatan, sekitar 92% alat kesehatan di Indonesia masih berasal dari luar negeri, sedangkan produk dalam negeri hanya sekitar 8%.
Ketergantungan terhadap impor alat kesehatan juga memberikan dampak besar terhadap sistem kesehatan nasional. Harga alat kesehatan menjadi lebih mahal karena dipengaruhi biaya impor, pajak, dan distribusi. Selain itu, ketergantungan terhadap bahan baku luar negeri membuat rantai pasok alat kesehatan menjadi rentan saat terjadi krisis global. Kondisi tersebut terlihat saat pandemi COVID-19, ketika banyak negara mengalami kesulitan memperoleh alat kesehatan akibat terganggunya distribusi internasional dan meningkatnya permintaan secara mendadak. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan kesehatan suatu negara tidak hanya bergantung pada rumah sakit dan tenaga medis, tetapi juga kemampuan memproduksi alat kesehatan secara mandiri.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan barang modal dari luar negeri. Pada tahun 2023, nilai impor Indonesia mencapai USD221,8 miliar dan sekitar 72,63% di antaranya berasal dari impor bahan baku atau bahan penolong. Selain itu, pada tahun 2025 nilai impor alat kesehatan Indonesia tercatat mencapai sekitar US$738 juta. China menjadi negara pemasok terbesar dengan nilai impor sekitar US$198 juta, diikuti Amerika Serikat sebesar US$107 juta dan Jerman sebesar US$80 juta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri alat kesehatan nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap produk dan bahan baku luar negeri, terutama untuk alat kesehatan berteknologi tinggi.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri alat kesehatan dalam negeri seiring meningkatnya kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi manufaktur modern. Namun pengembangannya masih menghadapi tantangan seperti standar kualitas internasional, proses sertifikasi, dan tingginya biaya riset. Oleh karena itu, dukungan pemerintah, kerja sama industri dan akademisi, serta penguatan teknologi dan sumber daya manusia diperlukan untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kemandirian alat kesehatan nasional.
Referensi :
Cahaya, N., Pramestutie, H. R., Hati, A. K., & Untari, E. K. (2022). Insurance , Policy , Knowledge Level and Epidemiology As Factors Affecting Demand And Supply of Pharmaceutical Product. Pharmaceutical Journal of Indonesia, 7(2), 79–88. https://doi.org/10.21776/ub.pji.2022.007.02.2
Mohammed, M., & Kunnipurayil, S. (2026). American Journal of Artificial Intelligence and computing Mechanical Design and Manufacturing Processes in Medical Device Development. 2(1), 2026. https://doi.org/10.70445/ajac.2.1.2026.68-91
Satrio, A., & Helvis. (2021). The Role of Health Equipment Directorate Supervision and Household Health Supplies Over Legal Importing Protection. Journal of Multidisciplinary Academic, 5(2), 191–195.
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia Impor 2023 Buku III. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
