Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image gadis eka salsabila

Menguji Esensi Iman: Mengapa Banyak Orang Rajin Ibadah tapi Abai Tanggung Jawab Sosial?

Agama | 2026-05-21 20:33:01

Oleh: Gadis Eka Salsabila & Dr. Hamidullah Mahmud, M.A.

Di lingkungan religius, kita sering kali mendewakan simbol-simbol lahiriah. Seseorang yang berpakaian sangat islami, selalu berada di barisan depan dalam majelis, atau menjadi "tangan kanan" yang paling takzim kepada seorang guru besar, otomatis akan mendapat label sebagai orang yang saleh. Pandangan publik mengunci mereka sebagai sosok yang tidak mungkin berbuat cacat moral.

Namun, di balik layar formalitas itu, sering kali ada realitas yang kontradiktif. Saya sendiri menyaksikan sebuah fenomena yang cukup ironis di lingkungan sekitar. Ada seorang oknum yang di depan gurunya tampak begitu luar biasa patuh dan taat beribadah. Sayangnya, kesalehan itu runtuh ketika dihadapkan pada urusan muamalah (hubungan sesama manusia). Beliau ternyata meninggalkan jejak utang yang sangat besar—mencapai puluhan juta rupiah—kepada banyak orang, termasuk ke keluarga saya sendiri. Lebih ironisnya lagi, setelah itu ia menghilang tanpa ada niat baik untuk menyelesaikannya, sementara sang guru besar tetap menganggapnya sebagai sosok yang tanpa cela.

Fenomena "hilang tanpa kabar bersama utang" yang dibungkus dengan jubah religiusitas ini seakan menjadi tamparan keras. Mengapa seseorang bisa begitu fokus mengejar kesalehan spiritual di mata otoritas agama, namun abai total terhadap tanggung jawab sosialnya kepada sesama manusia?

Tafsir Surah Al-Ma'un: Gugatan untuk Kesalehan Semu

Jika kita membuka kembali lembaran Tafsir Surah Al-Ma'un (surah ke-107), fenomena di atas sebenarnya sudah digugat oleh Al-Qur'an sejak belasan abad yang lalu. Surah ini dibuka dengan kecaman keras kepada mereka yang "mendustakan agama". Uniknya, indikasi mendustakan agama yang disebut oleh Allah SWT bukan karena mereka tidak salat, melainkan karena perilaku sosial yang buruk: menghardik anak yatim dan enggan menggerakkan bantuan untuk orang miskin.

Kritik sosial dalam surah ini bahkan mencapai puncaknya pada ayat keempat: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.”

Kata "lalai" (sahun) di sini oleh para mufasir tidak hanya diartikan sebagai terlambat salat atau lupa rakaat. Lebih dalam dari itu, lalai yang dimaksud adalah kegagalan seseorang dalam mentransfer nilai-nilai salat ke dalam kehidupan nyata. Seseorang terjebak dalam penyakit riya—hanya sibuk membangun citra suci di depan manusia (seperti di hadapan guru atau komunitasnya)—namun di saat yang sama, mereka enggan memberikan bantuan (al-ma'un) atau justru merugikan hak-hak materi orang lain melalui utang yang tidak dibayar.

Jebakan Pujian Duniawi dan Salah Kaprah Spiritual

Mengapa kondisi paradoks ini bisa terjadi? Logikanya sederhana: manusia sering kali tergoda oleh pujian duniawi. Menjadi sosok yang terlihat saleh di depan figur otoritatif mendatangkan status sosial dan privilese tersendiri. Akhirnya, ibadah bergeser esensinya menjadi sekadar alat untuk mencari validasi manusia.

Di sisi lain, ada salah kaprah spiritual yang akut di masyarakat kita. Sebagian orang berpikir bahwa urusan agama itu hanya urusan vertikal antara dirinya dengan Allah (habluminallah). Mereka mengira bahwa dengan rajin salat atau berzikir, dosa-dosa sosial mereka otomatis terhapus. Padahal, Islam secara tegas menyatakan bahwa kezaliman kepada sesama manusia (termasuk memakan harta orang lain dengan batil) tidak akan diampuni Allah sebelum orang yang bersangkutan meminta maaf dan menyelesaikan hak hamba tersebut.

Keseimbangan Iman untuk Generasi Muda

Sebagai bagian dari generasi muda yang tengah belajar, fenomena ini harus menjadi alarm pengingat yang bunyinya sangat keras bagi kita semua. Kita jangan sampai terjebak dalam rutinitas "kesalehan kosmetik"—repot mendandani tampilan luar agar dinilai religius, tapi membiarkan etika sosial kita keropos.

Iman tidak boleh dinikmati sendirian di dalam ruang hampa. Salat, zikir, dan segala bentuk ketakziman kita kepada guru harus melahirkan sensitivitas sosial yang nyata. Jujur dalam bermuamalah, bertanggung jawab atas hak orang lain, dan tidak merugikan sesama adalah bentuk nyata dari pengamalan tafsir Surah Al-Ma'un.

Jalan menuju rida Allah tidak pernah tunggal. Ia tegak lurus di atas hamparan sajadah, namun ia juga membekas nyata pada bagaimana cara kita menghargai dan memperlakukan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image