Rupiah Melemah Lagi, dan Lagi-Lagi Rakyat yang Jadi Korban
Ekonomi Syariah | 2026-05-21 17:07:36
Gais, akhir-akhir ini siapa yang langsung deg-degan tiap buka aplikasi m-banking atau lihat berita ekonomi di media sosial? Rupiah kita lagi benar-benar berada dalam tekanan setelah sempat menyentuh angka sekitar Rp17.670 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar statistik biasa, tapi jadi sinyal bahwa kondisi ekonomi global dan domestik sedang tidak baik-baik saja.
Bank Indonesia pun bergerak cepat dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen demi menjaga stabilitas moneter. Namun di sisi lain, banyak masyarakat mulai bertanya: apakah kebijakan ini benar-benar mampu melindungi ekonomi rakyat kecil, atau justru makin menambah tekanan hidup sehari-hari?Kalau ditelusuri lebih dalam, pelemahan Rupiah sebenarnya lahir dari kombinasi banyak faktor yang saling bertabrakan. Konflik geopolitik global membuat situasi dunia makin tidak pasti, sementara harga minyak internasional yang terus naik memperbesar beban impor Indonesia. Di saat yang sama, terjadi capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, tekanan terhadap Rupiah makin besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih sangat rentan terhadap gejolak eksternal dan terlalu bergantung pada dinamika pasar global.
Bank Indonesia memang punya alasan kuat menaikkan suku bunga. Langkah ini dilakukan untuk menjaga inflasi agar tidak semakin liar sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap Rupiah. Secara teori, kebijakan tersebut bisa membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun realitanya, setiap kebijakan moneter selalu punya efek samping yang langsung dirasakan masyarakat. Ketika suku bunga naik, biaya pinjaman ikut naik, cicilan makin berat, dan akses modal bagi pelaku usaha menjadi lebih sulit. Stabilitas moneter akhirnya terasa seperti kemenangan di atas kertas, tetapi belum tentu menghadirkan rasa aman bagi masyarakat bawah yang sedang berjuang bertahan hidup.Dampaknya mulai terasa di berbagai lini kehidupan. Daya beli masyarakat melemah karena harga kebutuhan pokok terus meningkat, sementara pendapatan banyak orang cenderung stagnan. Pelaku UMKM yang sebelumnya ingin mengembangkan usaha kini memilih menahan ekspansi karena khawatir tidak mampu menutup biaya operasional dan bunga pinjaman. Dunia industri juga mulai menghadapi ancaman perlambatan produksi hingga risiko pengurangan tenaga kerja. Dalam situasi seperti ini, masyarakat bukan hanya menghadapi krisis angka, tetapi juga krisis rasa aman terhadap masa depan ekonomi mereka sendiri.Kalau dilihat dari perspektif ekonomi syariah, kondisi ini memperlihatkan bagaimana sistem ekonomi berbasis bunga memiliki banyak kerentanan struktural.
Ekonomi syariah memandang bahwa sistem yang terlalu bertumpu pada instrumen bunga dan spekulasi finansial cenderung mudah memicu ketimpangan serta instabilitas. Prinsip utama ekonomi Islam bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keadilan sosial (al-‘adl) dan kemaslahatan masyarakat (maslahah). Karena itu, sektor riil seperti produksi, perdagangan, dan distribusi kebutuhan pokok seharusnya menjadi fondasi utama ekonomi, bukan sekadar pergerakan uang di pasar keuangan.Di tengah situasi seperti sekarang, pendekatan ekonomi syariah menawarkan solusi yang lebih berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan. Penguatan sektor riil berbasis produksi lokal menjadi penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor. Dukungan pembiayaan tanpa riba bagi UMKM juga perlu diperluas supaya pelaku usaha kecil tetap punya ruang bertahan dan berkembang. Selain itu, optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif bisa menjadi instrumen distribusi kekayaan sekaligus perlindungan sosial bagi kelompok rentan. Penguatan ketahanan pangan dan energi domestik juga harus menjadi prioritas agar ekonomi nasional tidak mudah goyah setiap kali dunia mengalami krisis geopolitik.Pada akhirnya, menjaga stabilitas nilai tukar memang penting, tetapi itu saja tidak cukup.
Ekonomi yang sehat seharusnya tidak hanya terlihat stabil dalam angka statistik, melainkan juga mampu menghadirkan rasa aman, keadilan, dan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat luas. Ke depan, Indonesia membutuhkan arah pembangunan ekonomi yang lebih berpihak pada sektor riil, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Sebab ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya seberapa kuat Rupiah bertahan, tetapi juga seberapa kuat rakyat mampu menjalani hidup dengan layak di tengah situasi yang terus berubah.Menurutmu, apakah kebijakan moneter saat ini sudah cukup melindungi masyarakat kecil dan pelaku UMKM di Indonesia?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
