Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syifa Unnafsiah

Mengapa Netizen Indonesia Begitu 'Savage' di Kolom Komentar? Sebuah Tinjauan Etika

Lainnnya | 2026-05-19 19:38:07

Beberapa tahun yang lalu, sebuah laporan digital global sempat membuat heboh publik tanah air. Laporan tersebut menempatkan netizen Indonesia di peringkat bawah dalam hal tingkat kesopanan digital di Asia Tenggara, ironis bukan? Kita yang di dunia nyata dikenal sangat ramah, murah senyum, penuh tata krama, dan menjunjung tinggi adat ketimuran, tepatnya seolah mengalami pembelahan kepribadian massal di ruang siber. Kita menjadi berubah sangat "buas", blak-blakan, bahkan tak jarang cenderung toksik saat sudah berada di balik layar ponsel pintar.

Fenomena jempol netizen yang lebih cepat daripada pikiran ini bukan lagi hal baru, melainkan sudah menjadi komoditas konsumsi sehari-hari. Mulai dari akun selebritas, pejabat publik, atlet internasional, hingga akun masyarakat biasa tak luput dari serbuan komentar pedas, perundungan siber (cyberbullying), hingga ujaran kebencian yang terstruktur. berdasarkan penelitian mengenai perilaku komunikasi digital masyarakat, ruang siber sering kali dianggap sebagai wilayah bebas tak bertuan, di mana garis batas antara kritik yang membangun dan cacian pribadi menjadi sangat kabur akibat dorongan validasi sosial digital yang bias.

Jika dibedah dari kacamata filsafat komunikasi, fenomena ini sangat erat dengan konsep “Yang Lain Yang Tak Terlihat” yang dikombinasikan dengan efek disinhibisi online (online). efek disinhibisi). Di dunia maya, kita tidak dibayangkan langsung dengan lengkungan mata, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh lawan bicara kita sebagai manusia seutuhnya. Kehadiran fisik orang lain menjadi abstrak atau “tidak terlihat”. Ketiadaan kontak mata langsung ini sayamicu penurunan kendali diri dan rasa tanggung jawab moral secara drastis. Netizen merasa identitas mereka dilindungi oleh dinding layar digital yang tebal, sehingga mereka berani melontarkan kata-kata yang mungkin tidak berani mereka ucapkan jika bertatap muka langsung di dunia nyata.

Lebih jauh lagi, opini jurnalisme melihat bahwa media sosial telah beralih fungsi ruang publik (public space) yang awalnya digagas sebagai tempat berdiskusi secara sehat, rasional, dan mencerahkan. Hari ini, kolom komentar beralih fungsi menjadi arena pelampiasan emosi kolektif atau katarsis psikologis yang destruktif. Ada semacam kepuasan semu ketika sebuah komentar pedas mendapatkan banyak suka atau tanggapan dari netizen lain. Di situ letaknyabias moralnya: menghujat di kolom komentar sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah, bagian dari lelucon, atau sekadar hiburan pengisi waktu luang, tanpa memikirkan dampak psikologisnya yang mendalam bagi manusia di balik akun yang menerima komentar tersebut.

Dari sudut pandang etika komunikasi, perilaku ini jelas mencederai prinsip dasar moralitas komunikasi yang digagas oleh para filsafat, seperti konsep etika kepedulian (ethics of care) dan tanggung jawab mutlak terhadap sesama. Kebebasan berpedapat yang diagung-agungkan di era demokrasi digital ini sering kali disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas untuk martabat orang lain. Padahal, komunikasi yang etis menuntut adanya empati, dimana kita harus mampu menempatkan diri kita pada posisi orang lain sebelum memproduksinya pesan.

Pada akhirnya, kesopanan digital adalah cerminan dari kematangan moral dan intelektual ebuah bangsa di era modern. Menjadi kritis di media sosial tentu saja sah-sah saja, bahkan sangat diperlukan untuk mengawali isu-isu publik. Namun, sikap kritis tersebut harus dibarengi dengan etika dan empati yang kokoh. Kita perlu menyadari bahwa di balik akun-akun digital dan kita berkomentar, ada manusia nyata yang memiliki perasaan, keluarga, dan kesehatan mental yang bisa hancur kapan saja. Merawat etika komunikasi di ranah daring bukan bberarti membatasi kebebasan berpendapat melainkan sebagai upaya kolektif untuk memanusiakan manusia di ruang digital.

Penulis: Syifa Unnafsiah, Mahasiswa Program Studi Jurnalistik (FISIP) Universitas Bengkulu.

Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat dan Etika Komunikasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image