Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Hantavirus, Tikus, dan Lingkungan Kotor: Alarm Zoonosis bagi Indonesia

Info Sehat | 2026-05-19 10:54:25

Oleh: Nur Rusdiana, drh., M.Si

Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner, Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA), Universitas Airlangga.

Kasus zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia kembali menjadi perhatian dunia kesehatan global. Salah satu penyakit yang mulai banyak diperbincangkan adalah hantavirus, virus yang ditularkan terutama melalui rodensia atau tikus. Meski belum menjadi wabah besar di Indonesia, ancaman hantavirus tetap perlu diwaspadai mengingat tingginya interaksi manusia dengan lingkungan yang berpotensi menjadi habitat tikus.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat dan kedokteran hewan, hantavirus menjadi contoh nyata bagaimana kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan erat. Oleh karena itu, pendekatan One Health menjadi sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini.

Bagaimana Hantavirus Menular dari Hewan ke Manusia?

Hantavirus dapat berpindah dari hewan ke manusia melalui berbagai jalur transmisi. Penularan paling sering terjadi melalui aerosol, yaitu partikel kecil dari urin, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering kemudian terbawa debu dan terhirup manusia.

Situasi ini sering terjadi saat seseorang membersihkan gudang, membuka rumah kosong, kabin, atau ruangan tertutup yang lama tidak digunakan sehingga menjadi tempat bersarang tikus. Ketika area tersebut disapu atau dibersihkan tanpa perlindungan diri yang memadai, partikel virus dapat beterbangan di udara dan masuk melalui saluran pernapasan.

Selain melalui udara, hantavirus juga dapat menular melalui kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi, kemudian tangan menyentuh hidung atau mulut. Penularan juga dapat terjadi melalui makanan yang terpapar urin dan kotoran tikus, bahkan melalui gigitan tikus meskipun kasusnya lebih jarang.

Virus ini diketahui cukup stabil pada lingkungan tertutup dan lembab. Kondisi tersebut membuat area kotor dan minim sirkulasi udara menjadi tempat yang ideal bagi tikus sekaligus meningkatkan risiko penularan penyakit.

Tikus sebagai Reservoir Utama Hantavirus

Tidak semua tikus memiliki peran yang sama dalam penyebaran hantavirus. Salah satu reservoir utama yang sering dikaitkan dengan hantavirus adalah brown rat atau tikus cokelat yang hidup berdampingan dengan manusia.

Tikus jenis ini kerap ditemukan di selokan, gudang, area lembab, tempat sampah, hingga permukiman padat dengan sanitasi buruk. Selain itu, tikus liar di area persawahan, ladang, dan ekosistem alami juga dapat menjadi reservoir virus.

Perilaku ekologis tikus sangat memengaruhi risiko zoonosis. Tikus memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, berkembang biak cepat, serta mudah berpindah habitat mengikuti ketersediaan makanan dan tempat berlindung. Lingkungan yang kotor, banyak sampah, dan minim pengelolaan sanitasi akan memperbesar peluang kontak antara manusia dan rodensia pembawa virus.

Foto generasi dari kecerdasan buatan

Lingkungan Kotor dan Sanitasi Buruk Memperbesar Risiko

Kondisi lingkungan memiliki hubungan erat dengan peningkatan risiko hantavirus. Ruangan lembab, tertutup lama, kotor, dan jarang dibersihkan sering menjadi tempat ideal bagi tikus untuk bersarang.

Ketika tikus bebas mengeluarkan urin dan kotoran di area tersebut, risiko kontaminasi lingkungan menjadi semakin tinggi. Permasalahan ini semakin kompleks apabila masyarakat belum memahami cara membersihkan area terkontaminasi secara aman.

Membersihkan ruangan dengan cara menyapu kering tanpa masker atau sarung tangan justru dapat meningkatkan risiko aerosol virus. Oleh karena itu, edukasi mengenai sanitasi lingkungan dan penggunaan alat pelindung diri sederhana menjadi langkah penting dalam pencegahan.

Pada dasarnya, faktor lingkungan seperti pengelolaan sampah, kepadatan permukiman, kualitas sanitasi, hingga keberadaan ekosistem liar semuanya saling berkesinambungan dalam memperbesar potensi zoonosis hantavirus.

Pendekatan One Health Menjadi Kunci

Hantavirus tidak dapat dikendalikan hanya dari satu sektor saja. Dibutuhkan pendekatan One Health, yaitu konsep kolaborasi lintas disiplin yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

Dalam penerapannya, sektor kesehatan manusia memiliki peran dalam melakukan surveilans, deteksi dini, serta pelaporan kasus. Sementara sektor kesehatan hewan bertugas memantau dan mengendalikan populasi tikus sebagai reservoir utama.

Di sisi lain, sektor lingkungan bertanggung jawab terhadap pengelolaan higiene, sanitasi, pengendalian sampah, dan pengurangan habitat tikus. Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam edukasi masyarakat serta mitigasi apabila terjadi peningkatan kasus.

Akademisi dan peneliti turut berkontribusi melalui penelitian epidemiologi, pengembangan metode deteksi, dan analisis pola penyebaran penyakit.

Kolaborasi ini idealnya dilakukan secara rutin dengan sistem pelaporan data terpadu agar potensi kasus dapat dipantau lebih cepat dan ditangani secara efektif sebelum berkembang menjadi wabah.

Strategi Pengendalian dari Perspektif Kedokteran Hewan

Dari sisi kedokteran hewan, pengendalian hantavirus berfokus pada pengurangan populasi tikus dan pengelolaan habitatnya.

Langkah utama yang dapat dilakukan adalah memperbaiki sanitasi lingkungan, mengurangi sumber makanan tikus, serta menghilangkan tempat persembunyian dan sarang rodensia. Gudang pakan, kandang ternak, maupun tempat penyimpanan bahan makanan harus dijaga tetap bersih dan tertutup rapat.

Penerapan biosekuriti juga penting, misalnya dengan menutup celah bangunan yang memungkinkan tikus masuk ke area tertentu. Penyimpanan pakan dalam wadah aman dan tahan gigitan tikus dapat membantu menurunkan risiko kontaminasi.

Selain itu, edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam pengendalian zoonosis. Masyarakat perlu memahami cara membersihkan kotoran tikus dengan aman, penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area tertutup, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Pengendalian populasi tikus juga dapat dilakukan menggunakan perangkap mekanik yang lebih aman bagi lingkungan dibanding penggunaan bahan kimia secara berlebihan.

Ancaman yang Tidak Boleh Diremehkan

Hantavirus mungkin belum sepopuler penyakit zoonosis lain seperti rabies atau flu burung di Indonesia. Namun, meningkatnya urbanisasi, kepadatan penduduk, perubahan lingkungan, dan buruknya pengelolaan sampah dapat memperbesar risiko munculnya kasus zoonosis di masa mendatang.

Karena itu, kesadaran masyarakat terhadap sanitasi lingkungan dan pentingnya pengendalian rodensia perlu terus ditingkatkan. Upaya pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibanding penanganan ketika wabah sudah terjadi.

Pendekatan One Health menjadi pengingat bahwa kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Ketika ketiganya dijaga secara seimbang, maka ancaman zoonosis seperti hantavirus dapat ditekan bersama-sama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image