Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Azkia Auliatus Yahidah

Ikan: Sumber Gizi Lengkap yang Kerap Diremehkan

Info Terkini | 2026-05-18 22:17:38

Di banyak dapur, nasib ikan seringkali berakhir tragis, ia kalah telak bahkan sebelum sempat masuk penggorengan.

Sebagian orang tidak tahan dengan bau amisnya, sementara yang lain enggan berurusan dengan duri yang rasanya lebih banyak daripada dagingnya. Dalam berbagai latar belakang, baik generasi muda yang terbiasa dengan ritme serba cepat maupun mereka yang mengutamakan kepraktisan dalam keseharian, ikan kerap dianggap sebagai lauk “ribet”. Proses pengolahannya dinilai cukup panjang, mulai dari membersihkan, mengolah, hingga mengatasi aroma yang kadang tertinggal di ruangan. Jika dibandingkan dengan pilihan seperti ayam tepung, nugget, atau sosis yang bisa langsung digoreng dan disantap, ikan memang sering dianggap kalah dalam aspek kepraktisan.

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh di tengah budaya serba instan, saya tidak sepenuhnya menolak perspektif ini. Dalam beberapa situasi saya juga terkadang lebih memilih yang praktis daripada ideal. Bukan karena tidak tahu bahwa ikan lebih sehat, tetapi karena kenyamanan seringkali lebih penting daripada pertimbangan jangka panjang.

Kenyamanan sering kali menjadi candu. Kita seolah terjebak dalam siklus yang hanya mengejar kecepatan, tanpa peduli pada konsekuensi jangka panjang bagi organ tubuh. Padahal, usaha kecil seperti memilah duri adalah bentuk kepedulian paling nyata terhadap diri sendiri, sebuah ritual sederhana untuk menghargai apa yang masuk ke dalam tubuh, bukan sekadar mengisi lambung agar kenyang lalu lanjut beraktivitas.

Namun, justru di titik itu saya mulai merasakan sesuatu yang tidak sesuai. Bukankah ada hal lain yang kita abaikan secara bertahap saat kemudahan mengontrol pilihan makanan kita.

Bau amis yang bikin kita terlanjur curiga

Seringkali alasan yang muncul selalu sama. Padahal, bau amis pada ikan sebenarnya adalah hal yang alami yaitu bagian dari karakteristik sebagai hasil pangan laut yang kaya protein dan senyawa khas. Namun, persepsi ini terlanjur berkembang menjadi stigma, ikan dianggap sebagai makanan yang merepotkan bukan menyehatkan.

Tidak heran jika makanan cepat saji malah menjadi trend yang disukai oleh banyak orang. Praktis, cepat, dan tidak banyak kompromi. Sementara ikan? Ia kalah bahkan sebelum sempat dipertimbangkan.

Gizi mewah yang dianggap lauk "biasa"

Padahal secara nutrisi, ikan termasuk salah satu sumber makanan paling lengkap yang bisa kita dapatkan dengan harga terjangkau. Di dalamnya ada protein berkualitas tinggi, omega-3, vitamin D, hingga B12 yang bersifat krusial untuk menjaga fungsi otak dan kesehatan jantung. Ironisnya, lauk yang sering dianggap merepotkan ini sebenarnya bekerja diam-diam menjaga tubuh tetap waras di tengah gempuran makanan olahan.

Omega-3 itu ibarat oli buat otak kita biar terbebas dari karatan pas diajak mikir keras, dan Vitamin B12 itu sebagai penjaga saraf biar kita nggak gampang 'nge-lag' di tengah hari, keduanya adalah nutrisi yang justru sering kurang terpenuhi dari pola makan kita yang serba instan. Dengan kata lain, ikan bukan sekadar lauk sederhana, melainkan paket nutrisi lengkap yang seringkali tidak bisa digantikan oleh makanan-makanan yang terlihat lebih bergengsi.

Lucunya lagi, kita sanggup mengeluarkan uang lebih untuk suplemen minyak ikan sintetis dalam botol, namun merasa rugi waktu untuk harus mengolah ikan segar yang harganya jauh lebih terjangkau. Kita lebih percaya pada kapsul yang diproses pabrik daripada kesegaran alami yang disediakan alam. Ini bukan lagi soal selera, tapi soal bagaimana logika sering kali tersisih oleh kemasan dan janji-janji instan yang dibentuk iklan.

Lebih mencintai kepraktisan daripada kesehatan

Di tengah tren hidup sehat yang ramai, tidak sedikit orang justru enggan menjalani prosesnya. Padahal, tubuh tidak dibangun dari makanan yang sekadar enak difoto atau gampang ditelan. Ia membutuhkan asupan yang konsisten memberi zat yang dibutuhkan, dan ikan ada di daftar itu. Masalahnya, kita sudah terlalu terbiasa menilai makanan dari kenyamanan saat mengunyah, bukan dari manfaat jangka panjangnya.

“Yang penting enak dan gampang dimakan,” celetuk seorang teman saya, Nindy, suatu waktu. Sederhana, tapi rasanya cukup mewakili banyak orang.

Jangan-jangan yang bermasalah bukan ikannya, tapi mental kita

Tidak ada yang salah kalau sesekali pilih makanan instan. Tapi kalau ikan terus-menerus dianggap musuh hanya karena duri dan bau amis, mungkin yang perlu kita curigai bukan rasa ikannya, melainkan standar "nyaman" kita yang telah kebablasan.

Generasi yang hidup ditengah arus globalisasi yang hampir tak lepas dari media sosial, sanggup scroll layar berjam-jam tapi menyerah hanya karena harus memilah duri selama lima menit. Hanya terobsesi pada hidup estetik di media sosial, pamer makanan yang sekadar enak difoto, tapi langsung ciut begitu berhadapan dengan makanan asli yang butuh sedikit usaha manual. Kita perlu berhenti menjadikan "ribet" sebagai alasan untuk menyingkirkan kesehatan. Hidup di dunia nyata memang menuntut kita untuk sedikit berupaya bukan?

Di sisi lain, ikan sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Ia cuma perlu didekati dengan cara yang lebih dekat dengan kebiasaan kita hari ini. Pilihan olahannya pun makin beragam, mulai dari pempek, otak-otak, bakso ikan, sampai nugget berbahan dasar ikan yang terasa lebih “bersahabat” di lidah dan cara makannya.

Pada akhirnya, kalau sama duri ikan saja kita masih sering malas berjuang, mungkin mulai beralih ke olahan kreatif ini bisa jadi jalan ninja. Lagipula, masa hidup yang katanya keras ini harus kalah cuma sama bau amis atau duri yang sebenarnya bisa kita jinakkan?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image