Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Andry Setyawan

Dikejar Umur, Dikejar Restu: Ketika Menikah Bukan Lagi Sekadar Pilihan

Curhat | 2026-05-06 22:12:03

Di usia 28 tahun, hidup seharusnya terasa mulai stabil. Pekerjaan sudah ada, penghasilan meski belum besar tapi cukup untuk bertahan, dan arah hidup perlahan mulai terlihat. Namun ternyata, ada satu hal yang diam-diam terus mengejar: pertanyaan tentang menikah.

Pertanyaan itu tidak selalu datang dengan nada menekan. Kadang justru dibungkus dengan kepedulian. “Kamu kerjaan sudah ada, mulailah nabung, kemudian cari pasangan.” Kalimat sederhana itu, ketika diucapkan oleh orang tua sendiri, tidak terdengar seperti tuntutan. Tapi entah mengapa, ia meninggalkan gema panjang di kepala.

Bukan karena menolak. Bukan juga karena tidak ingin menikah. Semuanya terasa normal saja. Mengalir tanpa penolakan berarti. Tapi justru di situlah letak kebingungannya. Ketika tidak ada penolakan, tetapi juga tidak ada keyakinan penuh, maka yang tersisa adalah ruang kosong bernama ragu.

Apakah ini memang waktunya? Ataukah hanya karena waktunya “terlihat” sudah tiba?

Di satu sisi, hidup memang berjalan dengan ritme sosial yang tidak tertulis. Ada fase sekolah, bekerja, lalu menikah. Seolah-olah ada garis lurus yang harus diikuti agar dianggap “selesai” sebagai manusia dewasa. Ketika satu fase terasa lebih lambat, pertanyaan mulai berdatangan.

Dan sering kali, pertanyaan itu tidak benar-benar berasal dari luar. Ia tumbuh di dalam diri sendiri.

Kalimat orang tua tadi perlahan berubah menjadi suara dalam kepala: Apakah aku belum cukup baik sampai harus diingatkan seperti ini? Apakah aku tidak akan bahagia jika sendiri? Dan yang paling dalam, yang paling sulit diakui: apakah aku mengecewakan mereka?

Di titik ini, menikah tidak lagi terasa seperti pilihan hidup, melainkan seperti jawaban atas ekspektasi.

Padahal, jika ditarik lebih jujur lagi, generasi hari ini hidup dalam kondisi yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Stabilitas bukan lagi sesuatu yang mudah dicapai. Harga kebutuhan naik, ketidakpastian karier tinggi, dan tekanan hidup datang dari berbagai arah yang bahkan tidak pernah dialami oleh orang tua kita dulu.

Menikah bukan hanya soal kesiapan hati. Ia juga soal kesiapan mental, finansial, bahkan kesiapan untuk bertahan di tengah ketidakpastian yang panjang.

Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang tua. Bagi mereka, menikah adalah bentuk keamanan. Bentuk keberlanjutan. Bentuk harapan bahwa anaknya tidak akan berjalan sendirian menghadapi hidup.

Mereka tidak sedang menekan. Mereka hanya ingin memastikan kita tidak terlambat bahagia—meskipun definisi bahagia itu mungkin berbeda.

Di sinilah konflik itu terjadi. Antara ingin membahagiakan diri sendiri, dan takut mengecewakan orang tua.

Banyak dari kita akhirnya berada di posisi yang serba tanggung. Tidak benar-benar siap, tapi juga tidak berani menunda terlalu lama. Tidak sepenuhnya yakin, tapi juga tidak ingin kehilangan kesempatan. Kita berjalan di antara dua dunia: harapan pribadi dan ekspektasi keluarga.

Dan sering kali, kita tidak tahu harus condong ke mana.

Mungkin yang perlu kita sadari adalah ini: menikah bukanlah perlombaan waktu. Ia bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling siap bertahan.

Menikah juga bukan satu-satunya bentuk kebahagiaan. Ia adalah salah satu jalan, bukan satu-satunya tujuan.

Dan yang sering terlupakan, orang tua mungkin ingin kita bahagia—tetapi mereka juga manusia yang melihat dunia dari pengalaman mereka sendiri. Wajar jika cara pandangnya berbeda.

Di usia 28, mungkin kita memang sedang berada di persimpangan itu. Bukan karena kita terlambat, tetapi karena kita sedang berpikir lebih dalam.

Dan mungkin, itu bukan tanda kita kurang siap. Melainkan tanda bahwa kita sedang mencoba bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Pada akhirnya, keputusan menikah seharusnya lahir dari keyakinan, bukan sekadar jawaban atas tekanan. Karena hidup setelah menikah tidak berhenti pada akad, melainkan baru benar-benar dimulai.

Jadi jika hari ini masih ada ragu, mungkin itu bukan kelemahan. Bisa jadi, itu justru bentuk keberanian—untuk tidak asal melangkah.

Dan kepada orang tua, mungkin satu hal yang perlu kita percaya: mereka tidak sedang menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin melihat kita baik-baik saja.

Hanya saja, kadang cara kita memahami “baik-baik saja” tidak selalu sama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image