Ketika AI Berkampanye: Pelajaran dari Pilpres Indonesia 2024
Politik | 2026-05-17 23:02:47
Pemilihan Presiden Indonesia 2024 bukan hanya pertarungan antarkandidat, melainkan juga ajang debut besar kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam panggung politik nasional. Pasangan Prabowo-Gibran menjadi sorotan bukan semata karena strategi politik konvensional mereka, melainkan karena penggunaan gambar-gambar berbasis AI yang viral di Instagram menampilkan sosok-sosok kartun menggemaskan dengan label "Gemoy" yang kemudian menjadi identitas kampanye mereka. Fenomena ini dikaji secara mendalam oleh Yudistio dan Prawira (2024) dalam sebuah artikel ilmiah yang menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk membedah makna di balik citra-citra AI tersebut. Kajian ini menawarkan cermin yang penting bagi kita untuk memahami ke mana arah demokrasi di era kecerdasan buatan.
Penelitian yang menganalisis 427 unggahan Instagram pada periode Oktober–Desember 2023 ini menemukan bahwa gambar-gambar AI dalam kampanye Prabowo-Gibran tidak sekadar hiburan visual. Yudistio dan Prawira mengidentifikasi tiga lapis makna dalam setiap gambar: denotasi (makna harfiah), konotasi (makna tersirat), dan mitos (narasi budaya). Pada level denotasi, gambar-gambar tersebut menampilkan tokoh anak kecil menggemaskan yang memeluk kucing, berkuda, atau berpakaian formal. Pada level konotasi, gambar-gambar ini memancarkan pesan kelembutan, kerakyatan, dan kepemimpinan yang peduli. Sedangkan pada level mitos, citra-citra tersebut membangun narasi bahwa Prabowo seorang jenderal purnawirawan dari keluarga elite adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat jelata (Yudistio & Prawira, 2024). Di sinilah letak kecerdikan sekaligus problematika dari penggunaan AI dalam kampanye politik.
Dari sisi komunikasi politik, temuan penelitian ini mengonfirmasi bahwa AI generatif telah menjadi alat pembentuk citra yang sangat efektif. Dengan hanya mengetikkan perintah teks, tim kampanye dapat memproduksi ratusan konten visual yang terstandarisasi, konsisten, dan secara emosional mengena bagi audiens lintas generasi. Cara ini jauh lebih efisien ketimbang produksi konten konvensional yang membutuhkan fotografer, desainer grafis, dan waktu produksi yang panjang. Menariknya, penelitian ini juga mengungkap bagaimana AI dimanfaatkan secara strategis untuk "meredam" kontroversi. Sosok Prabowo yang identik dengan latar belakang militer dan berbagai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia seperti kasus Trisakti dan Timor-Timur dikemas ulang melalui citra AI menjadi figur yang lucu, menggemaskan, dan tak berbahaya. Fenomena ini selaras dengan apa yang oleh para ilmuwan komunikasi disebut sebagai "image softening", yakni upaya memperlunak persepsi publik terhadap tokoh yang memiliki rekam jejak kontroversial.
Dari perspektif etika demokrasi, penggunaan AI dalam kampanye politik membuka pertanyaan yang tidak bisa diabaikan: apakah pemilih berhak mengetahui bahwa citra yang mereka konsumsi adalah produk algoritma, bukan realitas? Penelitian Yudistio dan Prawira secara tidak langsung menyentuh isu ini ketika mengungkap jarak antara narasi yang dibangun citra AI kedekatan dengan rakyat dengan realitas historis latar belakang Prabowo yang berasal dari keluarga bangsawan dan pernah mengecap pendidikan di luar negeri sejak kecil. Demikian pula dengan Gibran yang menapaki karier politik dengan mulus karena faktor dinasti Joko Widodo. Ketika AI digunakan untuk mengaburkan jarak sosial ini, ia tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen manipulasi simbolik. Di banyak negara demokrasi maju, isu transparansi konten AI dalam kampanye politik sudah mulai diregulasi. Indonesia, dengan populasi pemilih digital yang sangat besar, semestinya bergerak ke arah yang sama.
Penelitian ini juga memperlihatkan bagaimana platform Instagram telah menjadi arena kontestasi makna yang sesungguhnya. Dengan jumlah likes yang mencapai puluhan ribu per unggahan gambar close-up Prabowo dan Gibran dalam wujud anak kecil di akun @jktgo misalnya meraih 78.704 likes, jelas bahwa konten AI ini berhasil melampaui sekadar perhatian, tetapi juga menyentuh dimensi afektif pemilih. Hal ini memperkuat argumen bahwa dalam ekosistem komunikasi politik kontemporer, resonansi emosional sebuah pesan sering kali lebih menentukan ketimbang substansi program kerja. Masyarakat jatuh hati pada Gemoy sebelum sempat bertanya tentang visi-misi konkret. Inilah yang perlu menjadi perhatian serius: AI bukan sekadar merevolusi cara berkampanye, tetapi berpotensi menggeser tolok ukur keputusan politik dari rasionalitas ke emosionalitas.
Secara metodologis, penggunaan semiotika Barthes dalam penelitian ini adalah pilihan yang tepat dan konsisten. Namun, kajian ini bisa diperkuat lebih lanjut jika disertai dengan analisis respons audiens secara langsung, misalnya melalui wawancara mendalam dengan pemilih muda yang terpapar konten tersebut untuk mengukur sejauh mana makna yang dikonstruksi oleh peneliti benar-benar sejalan dengan penerimaan aktual masyarakat. Selain itu, pendekatan komparatif dengan kampanye pasangan kandidat lain dalam Pilpres 2024 akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang ekosistem penggunaan AI di seluruh spektrum kampanye politik Indonesia.
Pada akhirnya, penelitian Yudistio dan Prawira (2024) adalah kontribusi akademis yang relevan dan tepat waktu. Ia tidak hanya mendokumentasikan sebuah fenomena baru dalam sejarah demokrasi Indonesia, tetapi juga menyediakan kerangka analitis untuk memahaminya. Bagi para pemilih, jurnal ini adalah pengingat bahwa di balik gambar-gambar menggemaskan yang berseliweran di layar ponsel, selalu ada konstruksi makna yang sengaja dirancang untuk mempengaruhi pilihan. Bagi para pembuat kebijakan, ini adalah sinyal bahwa regulasi penggunaan AI dalam kampanye politik sudah menjadi kebutuhan mendesak bukan kemewahan akademis. Dan bagi para akademisi, ini adalah undangan untuk terus menggali lebih dalam: bagaimana kecerdasan buatan, kekuasaan, dan demokrasi akan saling membentuk satu sama lain di masa depan.
Referensi
Yudistio, S.A., & Prawira, I. (2024). The use of artificial intelligence in political campaign: Study case of Prabowo and Gibran presidential campaign on Instagram. Jurnal Komunikasi Massa, Binus University, Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
