Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rudi Ahmad Suryadi

Ketika Api Membakar Ilmu: Kisah Tiga Cendekiawan Muslim yang Karyanya Dibumihanguskan

Agama | 2026-05-17 03:56:44

Dalam panggung sejarah peradaban Islam, buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan, melainkan simbol pencapaian intelektual tertinggi. Namun, sejarah tidak selalu ramah pada pemikiran yang mendahului zamannya. Ketika gagasan dianggap mengancam kemapanan status quo, penguasa dan faksi keagamaan sering kali memilih jalan pintas yang destruktif: membakar buku.

Tiga pemikir besar Islam—Ibnu Hazm, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd—pernah mengalami tragedi pahit ini. Karya-karya monumental mereka yang membentuk lanskap keilmuan Islam hari ini, dulunya pernah dilemparkan ke dalam kobaran api akibat pusaran politik, fanatisme mazhab, dan kecurigaan teologis.

Sumber: dokumen pribadi

1. Ibnu Hazm Al-Andalusi: Ketajaman Pena yang Menantang Arus Utama.

Ibnu Hazm (994–1064 M) adalah raksasa intelektual dari Andalusia (Spanyol Islam). Kecerdasannya diakui secara luas. Imam As-Suyuthi memujinya sebagai puncak kecerdasan dan pemilik cakrawala keilmuan terluas di masanya. Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengakui bahwa kedalaman riset Ibnu Hazm mengenai perbandingan mazhab fikih hampir tidak tertandingi oleh fukaha lainnya.

Mengapa Karyanya Dibakar?

Tragedi pembakaran buku Ibnu Hazm dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, perlawanan terhadap Mazhab Arus Utama. Andalusia saat itu didominasi secara mutlak oleh Mazhab Maliki. Ibnu Hazm, yang berpegang teguh pada Mazhab Zhahiri (tekstualis-rasional), kerap melayangkan kritik tajam terhadap metode analogi (qiyas) dan taklid yang dipraktikkan para ahli fikih lokal.Kedua, gaya Kritik yang Konfrontatif. Ibnu Hazm terkenal dengan bahasanya yang lugas dan cenderung keras saat mendebat ulama-ulama besar pada zamannya.

Gerah dengan kritiknya, para fukaha lokal memprovokasi penguasa. Akibatnya, atas perintah sultan, buku-buku Ibnu Hazm dikumpulkan dan dibakar di hadapan publik.

Menanggapi kehancuran fisik karya-karyanya, Ibnu Hazm menggubah syair yang melegenda:

"Jika kalian membakar kertasnya, kalian tidak akan bisa membakar apa yang terkandung di dalamnya.Sebab ia ada di dalam dadaku, bergerak bersamaku ke mana pun kafilahku pergi.Ia singgah bersamaku saat aku singgah, dan akan ikut terkubur di dalam kuburku nanti.Berhentilah membakar perkamen dan kertas, bicaralah dengan ilmu agar manusia melihat cahayaku!"

Menariknya, sejarah mencatat sebuah ironi politik. Di kemudian hari, Sultan Al-Mansur justru berbalik mengagumi pemikiran Ibnu Hazm. Sang sultan kemudian memerintahkan pembakaran buku-buku cabang (furu') Mazhab Maliki dan mengarahkan masyarakat untuk beralih ke Mazhab Zhahiri.

2. Imam Al-Ghazali: "Sang Hujjatul Islam" yang Terjebak Badai Kritik.

Abu Hamid Al-Ghazali (1058–1111 M) adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah Islam, hingga dijuluki Hujjatul Islam (Pembela Islam). Imam Adz-Dzahabi menggambarkan Al-Ghazali sebagai "samudra ilmu" dan keajaiban zaman karena kecerdasannya yang luar biasa.

Setelah mencapai puncak karier akademis dan politik, Al-Ghazali mengalami krisis spiritual yang membuatnya meninggalkan segala kemewahan untuk menempuh jalan sufisme (tasawuf). Dari kontemplasi inilah lahir karya masterpiece-nya, Ihya Ulumiddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama).

Meski diakui membawa pembaruan spiritual, Kitab Ihya memicu polarisasi yang ekstrem. Pertama, Kritik Tajam. Sebagian ulama mengkritik keras kitab ini karena dianggap memasukkan hadis-hadis lemah (dhaif) bahkan palsu (maudhu'), serta doktrin tasawuf yang dinilai kebablasan. Kritikus ekstrem bahkan memplesetkan judul kitab ini menjadi Imatatu Ulumuddin (Mematikan Ilmu-Ilmu Agama).

Kedua, sebaliknya, kelompok pendukungnya sangat memuja kitab ini hingga muncul ungkapan populer, "Siapa yang belum membaca Kitab Ihya, maka dia belum benar-benar hidup."

Ketiga, Ibnu Taimiyah mengambil posisi tengah. Ia menilai Ihya memiliki banyak manfaat, namun memperingatkan adanya unsur filsafat sekuler yang menyusup ke dalam pembahasan tauhid dan kenabian—efek dari kedalaman Al-Ghazali saat mempelajari filsafat Ibnu Sina. Ibnu Taimiyah menyebutnya seperti "mengambil musuh kaum muslimin lalu memakaikannya baju muslim."

Puncak dari penolakan ini terjadi di wilayah Maghrib (Afrika Utara dan sebagian Andalusia) di bawah pemerintahan Dinasti Murabitun. Sekitar tahun 1106 M, di masa pemerintahan Amir Ali bin Tashfin, desakan para fukaha yang ortodoks membuat sang penguasa memerintahkan agar karya-karya Al-Ghazali dikumpulkan dan dibakar.

3. Ibnu Rusyd: Korban Polarisasi Politik dan Sentimen Anti-Filsafat

Averroes, atau yang kita kenal sebagai Ibnu Rusyd (1126–1198 M), adalah seorang ahli hukum Islam (fukaha) terkemuka penulis kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, sekaligus komentator filsafat Aristoteles paling berpengaruh di dunia.

Mengapa Karyanya Dibakar?

Tragedi yang menimpa Ibnu Rusyd di akhir abad ke-12 di Cordoba merupakan kombinasi rumit antara intrik politik dan kecurigaan ideologis. Pertama,Intrik dan Fitnah Politik. Ibnu Rusyd awalnya sangat dekat dengan Dinasti Muwahhidun. Namun, musuh-musuh politiknya memanfaatkan kedekatan ini untuk memfitnahnya dengan tuduhan zindik dan sesat. Khalifah Abu Yusuf Yaqub Al-Mansur, yang saat itu membutuhkan dukungan militer dan moral dari para fukaha konservatif untuk menghadapi perang melawan kerajaan Kristen, terpaksa mengorbankan Ibnu Rusyd demi stabilitas politiknya.

Kedua, sentimen Anti-Filsafat. Pada masa itu, iklim intelektual Andalusia mulai bergeser menjadi sangat anti terhadap filsafat Yunani. Upaya Ibnu Rusyd mendamaikan agama dan filsafat dipandang sebagai bid'ah yang menyesatkan akidah.

Ketiga, beliau dituduh melakukan takwil rasional terhadap ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya dalam masalah-masalah metafisika seperti kebangkitan fisik dan keluasan ilmu Tuhan.

Akibatnya, Ibnu Rusyd diasingkan, dan buku-buku filsafatnya dibakar secara massal. Kendati demikian, menjelang akhir hayatnya, Khalifah Al-Mansur menyadari kekeliruannya, memaafkan Ibnu Rusyd, dan mengundangnya kembali ke istana Marrakesh sebelum sang filsuf wafat.

Sejarah pembakaran buku ini memberikan kita satu pelajaran berharga yaitu pikiran tidak bisa dimusnahkan dengan api. Meskipun ribuan lembar kertas milik Ibnu Hazm, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd telah menjadi abu di alun-alun kota, ide-ide mereka tetap hidup, disalin secara sembunyi-sembunyi, dan melintasi abad demi abad hingga membentuk peradaban manusia saat ini. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berpikir yang bertanggung jawab adalah aset peradaban yang harus selalu dijaga dari ego politik dan kefanatikan buta.

Wallahu A'lam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image