Hujan Merefleksi Para Penyintas Malam
Agama | 2026-05-15 02:58:39
Hujan Malam;Refleksi para penyintas Malam.
Kala itu sudah memasuki Jum'ar dini hari, tepatnya, 15 Mei 2025 saat saya melakukan rutinitas sebagai mahasiswa semester akhir yang bergulat dengan urusan proposal yang menjadi legalitas untuk menuju tahap2 penyelesaian untuk mendapatkan legalitas sebagai sarjana pendidikan di salah satu kampus di kota palopo, Sulawesi Selatan. Seperti biasanya malam itu tenang-tenang saja dengan berbagai huru haranya terkait urusan keduniaan, waktu bagi mereka yang hidup dari waktu malam, mahasiswa yang sibuk dengan urusan diskusi dan laptopnya, para pencari nafkah, para anak muda yang mencari eksistensi dirinya dan berbagai penyintas waktu malam yang bagi mereka yang hidup sebagai anak-anak matahari adalah waktu istirahat.
Dalam kitab Fadhillah Amal dan beberapa kitab lainnya disebut kan tentang keutamaan menghidupkan waktu malam dengan ibadah, para Ulama terdahulu menjadikan waktu malam sebagai waktu untuk beribadah mengadu kepada Allah, serta waktu produktif untuk menimba ilmu dari kitab dan menuliskan karya-karya mereka. Bahkan para ilmuwan terdahulu seperti Karl Marx, Einstein, dan beberapa ilmuwan terdahulu. Tapi malam juga menyimpan misteri dan rahasianya tersendiri sebagai mana malam hadir membawa gelap.. Namun bagaimana kita mampu membawa terang dalam malam itu.
Sebab malam juga digunakan mereka untuk bermaksiat PSK, minum minuman keras, dan sebagainya. Malam itu hujan turun deras membanjiri Bumi Sawerigading membawa kesejukan di Bumi Sawerigading, self Healing tanpa harus kedokter untuk mereka yang sedang jiwanya tersibukkan dengan pikiran-pikiran dunia. Bagi sebagian orang , hujan adalah masalah , sebab apalagi mereka yang sedang dalam perjalanan malam harus memilih untuk singgah atau melanjutkan perjalanannya dengan tubuh basah kuyup oleh guyuran hujan. Dan bagi mereka yang hidup dalam kondisi yang kekurangan air, hujan adalah anugerah dan keriangan bagi mereka.
Tak bisakah kita bersyukur dan berhenti sejenak menikmati Hujan apalagi yang turun di malam hari sejenak saja untuk merefleksi diri kita dan banyak bersyukur? Saya berkenalan dengan panjangnya malam dan menjadi penyintas malam sejak menuju kelas 3 SMA, yah pada waktu itu dunia sedang di istirahat kan oleh tuannya tepatnya tahun 2020 dan waktu itu saya mengalami gangguan tidur dalam istilah medis disebut Insomnia. Hingga Ibu saya mengeluarkan sebuah pepata”Allo di pabongi, bongi di pa' Allo”(Siang dijadikan malam, malam dijadikan pagi).
Mengingat aktivitas saya kala itu sampai sekarang justru di waktu manusia istirahat dan beristirahat di waktu manusia lain beraktivitas. Kemudian di tahun 2021 saya memasuki bangku kuliah di salah satu kampus swasta di kota Palopo, Sulawesi Selatan menjadi mahasiswa baru(Maba) yang masih dalam tahap banyak belajar dengan para sepuh dunia perkuliahan. Saya pun bergabung di beberapa organisasi mahasiswa yang membuat saya kembali bercinta dengan dunia malam, dalam tanda kutip dunia malam yang di hiasan dengan menuntut ilmu,saya disuruh membaca buku dan berdiskusi sehingga terbawa sampai sekarang menjadi habbits saya ketika tidak bisa tidur malam dan tak punya kesibukan di esok Hari nya yang terbawa sampai sekarang. Saya terdoktrin dengan perkataan Buya Hamka “Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.” Dan bahkan Rasulullah SAW. Dan para sahabat nya menjadi kan malam bukan sebagai waktu untuk bermalas-malasan apalagi terlelap dalam kenikmatan dunia sehingga lupa pertemuan dengan hari akhir. Dikisahkan dalam kita Fadhilah Amal, salah satu kitab yang selalu dibacakan oleh teman-teman dari tabligh. Bahwa Rasulullah menghabiskan malam nya dengan sholat malam sampai kaki beliau bengkak. Kemudian dari kalangan sahabat Radiyallahu antum sendiri, ada Khalifah kedua sang singa gurun pasir, Amirul mukminin Umar bin Khattab ra. Pernah dikisahkan Saat malam hari beliau berkeliling desa untuk melihat sendiri kondisi rakyat nya. Apakah masih ada pemimpin atau pejabat yang mau seperti ini selain berleha-leha menikmati nikmat nya hujan malam dalam rumah-rumah dinas mereka. Singkat cerita, umar berkeliling mekkah kemudian menemukan sebuah tenda yang mengepul sebuah asap, kemudian beliau mendatangi nya karena penasaran dan menemukan seorang ibu yang sedang memasak sesuatu sambil menenangkan anaknya yang kelaparan . umar pun bertanya, apa yang engkau masak? Dari tadi tidak matang-matang sehingga anakmu terlelap menunggu masakan mu. Kemudian betapa terkejutnya beliau saat melihat apa yang dimasak ibu itu adalah beberapa buah batu yang dimasak. Kemudian ibu itu berkata “ini semua gara-gara Umar yang tidak becus mengurus rakyatnya, menzolimi kami”.tanpa ia ketahui bahwa orang yang ia cela justru laki-laki yang sedang berada didepannya. Kemudian umar bergegas menuju baitul mal untuk mengambil beberapa makanan pokok, lalu mengangkatnya sendiri tanpa ingin di bantu siapa pun untuk menebus ke khilafannya, kemudian beliau memberikan kepada ibu dan anak itu lalu beliau pulalah yang memasaknya dengan tangan sindiran lalu menghidangkan untuk ibu dan anak itu lalu memberikan beberapa dirham . Kemudian ibu itu berkata “Engkau lebih layak menjadi ulul amri daripada Umar”.kemudian umar hanya berkata datang lah besok ke istana dan pasti engkau akan menjumpai ku”. Demikian malam menjadi teman bagi orang-orang soleh yang tidak terlelap dengan kenyamanan dunia dan semoga kita bisa menjadi penyintas malan dalam kebaikan bukan sebaliknya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
