Ironi Relawan Prabowo
Politik | 2026-05-14 01:20:58
Ketika Barisan Perjuangan Dilupakan: Catatan Ironi Demokrasi dari Seorang Relawan
Oleh: Indria Febriansyah
Demokrasi seharusnya berdiri di atas keberanian rakyat untuk bersuara, bukan di atas ketakutan rakyat untuk berbicara. Namun hari ini, saya menyaksikan sendiri bagaimana kritik perlahan diperlakukan layaknya ancaman, sementara pujian dipelihara seperti syarat utama memperoleh tempat di lingkar kekuasaan.
Ironinya, mereka yang dahulu berdiri di garis depan perjuangan, mengetuk pintu rakyat dari gang sempit hingga pelosok desa, justru perlahan dilupakan ketika kemenangan telah dirayakan. Simpul-simpul massa hanya dipandang penting saat musim pertarungan tiba. Setelah kekuasaan berdiri tegak, sebagian dianggap usai masa pakainya.
Kami pernah berdarah-darah menjaga keyakinan politik. Kami menghadapi cibiran, tekanan, bahkan perpecahan sosial demi memperjuangkan kemenangan yang diyakini akan membawa perubahan bagi bangsa. Namun hari ini, ketika kritik disampaikan sebagai bentuk kecintaan dan pengingat moral, justru muncul intimidasi, pembunuhan karakter, hingga dugaan serangan digital yang menyerang kehormatan pribadi.
Saya menulis opini berjudul “Relawan Prabowo: Mending Jadi Lawan Politik Lebih Dihargai daripada Relawan Loyalis” sebagai bentuk kegelisahan terhadap nasib relawan non-partai yang sejak tahun 2014 ikut memperjuangkan kemenangan politik dengan tenaga, pikiran, bahkan pengorbanan sosial. Tulisan itu tidak berisi ajakan kebencian, melainkan kritik sosial-politik agar kekuasaan tidak melupakan akar perjuangannya sendiri.
Namun setelah tulisan tersebut tersebar melalui jaringan relawan dan organisasi, saya mulai menerima serangkaian intimidasi melalui pesan WhatsApp dari nomor-nomor yang tidak dikenal. Saya menerima ancaman bernada kekerasan dengan kalimat seperti, “Lo jangan macem-macem ya bisa di eksekusi,” hingga ancaman lain yang menyebut “pasukan kandang menjangan.”
Tidak berhenti di situ, saya juga menerima video bermuatan asusila yang wajahnya diduga telah dimanipulasi menggunakan teknologi deepfake menyerupai diri saya. Bagi saya, ini bukan sekadar serangan digital biasa, tetapi bentuk pembunuhan karakter yang menyerang martabat pribadi dan psikologis keluarga.
Teror kemudian berkembang ke ruang yang lebih mengkhawatirkan. Pada malam hari, beberapa orang tidak dikenal mendatangi tempat tinggal saya tanpa identitas dan tanpa prosedur yang jelas. Mereka masuk hingga area dalam kos dengan dalih mencari telepon genggam yang hilang. Situasi tersebut menimbulkan ketakutan bagi penghuni kos dan memperlihatkan bagaimana intimidasi dapat bergerak dari ruang digital menuju tekanan fisik.
Belum selesai sampai di situ, keluarga saya di Yogyakarta juga menerima paket misterius berupa sebilah keris melalui sistem COD dari luar daerah. Dalam kultur masyarakat tertentu, benda seperti itu tidak lagi dipahami sekadar barang biasa, melainkan dapat dimaknai sebagai simbol ancaman psikologis.
Atas seluruh rangkaian kejadian tersebut, saya merasa ada upaya sistematis untuk membungkam kritik melalui tekanan mental, serangan reputasi, dan rasa takut.
Inilah ironi politik Indonesia.
Kekuasaan sering kali begitu sibuk merayakan dirinya sendiri hingga lupa siapa yang dahulu membantu menyalakan api perjuangan. Ada oknum yang membangun citra seolah mereka paling berjasa, paling setia, paling layak mendapat panggung sejarah, sementara barisan yang bekerja dalam sunyi perlahan disingkirkan dari narasi besar kemenangan.
Lebih menyedihkan lagi, kritik yang seharusnya menjadi vitamin demokrasi justru dianggap racun kekuasaan. Padahal negara yang sehat bukanlah negara yang dipenuhi tepuk tangan, melainkan negara yang mampu mendengar suara berbeda tanpa rasa takut.
Saya percaya Presiden Prabowo Subianto menginginkan persatuan dan pemerintahan yang kuat. Namun dalam praktik di lapangan, ada kelompok-kelompok yang justru memperlihatkan watak anti kritik. Mereka membangun sekat, memelihara kultus, dan memainkan narasi demi menjaga kenyamanan politik mereka sendiri.
Pertanyaannya sederhana: seberapa kuat negara ini bisa berdiri jika kritik terus dianggap ancaman?
Jika relawan yang dahulu ikut memperjuangkan kemenangan saja dapat mengalami tekanan sosial, intimidasi digital, bahkan serangan karakter, bagaimana nasib rakyat kecil yang tidak memiliki akses, jaringan, maupun keberanian untuk melawan?
Jangan sampai demokrasi berubah menjadi panggung selebrasi segelintir orang yang sibuk memoles citra diri sambil menutup ruang kritik dari masyarakat. Sebab sejarah telah berkali-kali mengajarkan, kekuasaan yang alergi terhadap kritik pada akhirnya akan kehilangan kemampuan mendengar suara rakyat.
Saya mengajak masyarakat untuk menilai dengan jernih. Jangan hanya melihat siapa yang paling sering tampil di layar, tetapi lihatlah siapa yang tetap berani berbicara ketika keadaan mulai tidak sehat. Demokrasi tidak boleh diwariskan dalam bentuk ketakutan. Demokrasi harus dijaga dengan keberanian moral untuk saling mengingatkan.
Bangsa ini terlalu besar untuk dipenuhi ego kelompok dan permainan citra. Negara harus berdiri di atas keadilan, bukan di atas kepentingan mereka yang hanya ingin dekat dengan kekuasaan. Karena sejatinya, loyalitas tanpa ruang kritik hanyalah jalan sunyi menuju kemunduran demokrasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
