Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image dwi sulistya wati

Panic Buying: Pas Lagi Langka, Malah Makin Heboh!

Bisnis | 2026-05-13 17:12:56
Ilustrasi: Panic Buying: Pas Lagi Langka, Malah Makin Heboh!

Pernah lihat orang rebutan minyak goreng atau masker sampai borong berlebihan? Itu namanya panic buying. Singkatnya, ini kondisi saat orang mendadak belanja gila-gilaan karena takut barang bakal habis atau harganya naik di masa depan.

Fenomena panic buying pada dasarnya disebabkan oleh kombinasi antara ketakutan dan kecemasan individu mengenai ketersediaan kebutuhan pokok di rumah. Hal ini kemudian diperkuat oleh kecenderungan psikologis untuk meniru perilaku orang banyak ketika melihat orang lain melakukan pembelanjaan berlebihan. Situasi ini sering kali diperburuk oleh penyebaran informasi palsu di media sosial yang merusak realitas dan menambah tekanan mental, sehingga emosi lebih mendominasi akal sehat dalam pengambilan keputusan saat menghadapi krisis. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik tentang konsumsi dan komunikasi yang jelas untuk mengurangi kepanikan bersama ini.

Untuk mengurangi rasa panik, masyarakat harus menerapkan prinsip membeli secukupnya dengan hanya mengambil barang yang benar-benar dibutuhkan agar tidak menyebabkan penimbunan yang merugikan orang lain. Selain itu, mengecek informasi juga sangat penting agar tidak terjebak dalam kabar bohong, sehingga setiap berita perlu dipastikan melalui sumber resmi atau otoritas terkait. Terakhir, semangat kebersamaan dan sikap saling menjaga antara warga harus diutamakan untuk menjamin bahwa semua lapisan masyarakat merasa aman dan mendapat akses yang adil terhadap kebutuhan dasar.

Pembelian secara mendesak dapat berdampak negatif yang besar terhadap stabilitas masyarakat, yang dimulai dengan munculnya kekurangan barang-barang penting seperti makanan, peralatan kesehatan, dan bahan bakar akibat pembelian yang berlebihan. Keadaan ini memicu prinsip ekonomi di mana lonjakan permintaan yang tiba-tiba meningkatkan harga secara signifikan, yang semakin menyulitkan akses bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Selain dampak ekonomi, situasi ini juga berdampak pada kesehatan psikologis karena tingkat stres dan kecemasan yang meningkat, karena masyarakat merasa harus bersaing dengan keras untuk mendapatkan kebutuhan dasar.

Pada akhirnya, ketegangan semacam ini sering kali memunculkan perselisihan sosial di sekitar mereka akibat persaingan untuk mendapatkan barang yang merusak keharmonisan antar warga.Oleh karena itu, panic buying adalah perilaku konsumen yang muncul akibat kombinasi dari faktor psikologis, tekanan sosial, dan informasi yang berlebihan. Tindakan memborong barang ini tidak hanya tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah menambah kesulitan dalam ketersediaan barang, mengubah harga pasar, dan menimbulkan ketegangan di dalam masyarakat.

Dari sudut pandang perilaku organisasi, fenomena ini menunjukkan bahwa emosi sering kali mengalahkan logika dalam pengambilan keputusan, terutama ketika orang terdorong untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain (perilaku kelompok) di saat situasi tidak pasti. Penting untuk mengadopsi metode yang melibatkan kesadaran individu agar berbelanja dengan bijak sesuai kebutuhan yang sebenarnya, keyakinan pada sistem distribusi yang resmi, serta tanggung jawab bersama dalam menyebarkan informasi yang benar. Dengan membangun kebersamaan dalam masyarakat dan meningkatkan pemahaman tentang konsumsi, masyarakat dapat menghadapi krisis dengan cara yang lebih tenang, logis, dan adil bagi semua golongan.

Penulis : Dwi Sulistya Wati, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen, Universitas Pamulang

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image