Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ariefdhianty Vibie

Kerja Serabutan Jadi Pilihan, Di Mana Peran Negara?

Kolom | 2026-05-12 09:39:25
Ilustrasi oleh AI

Oleh: Aisyah Farha (Pendidik Generasi)

Pernahkah kita perhatikan di sekitar kita, makin hari makin banyak orang yang harus banting tulang jadi ojek online, jualan asongan, atau jadi tenaga lepas (freelancer) demi menyambung hidup? Fenomena ini bukan cuma soal gaya hidup anak muda, tapi tanda bahwa cari kerja yang stabil itu susahnya minta ampun. Mengutip berita dari Antara News yang berjudul "Anggota DPR Minta Pemerintah Segera Bahas dan Sahkan RUU Pekerja Gig" (01/05/2026), banyak pekerja di sektor ini yang nasibnya tidak jelas. Mereka bekerja tanpa jaminan kesehatan atau perlindungan hukum yang kuat. Kalau ada apa-apa di jalan, mereka harus tanggung sendiri. Padahal, mereka adalah tulang punggung keluarga yang tiap hari berjuang di tengah daya beli masyarakat yang juga makin lesu.

Kondisi ini sebenarnya adalah bukti kalau negara belum berhasil menyediakan lapangan kerja yang layak buat rakyatnya. Lapangan kerja makin sempit, sementara orang yang butuh kerja makin membeludak. Akibatnya, posisi tawar kita sebagai pekerja jadi rendah; mau dikasih upah kecil atau aturan yang berat pun terpaksa diambil daripada tidak makan. Inilah hasil dari sistem ekonomi yang lebih mementingkan keuntungan pemilik modal besar daripada urusan perut rakyat kecil. Kebijakan yang ada seringkali cuma "manis di atas kertas", tapi di lapangan, rakyat tetap dibiarkan bertarung sendirian tanpa perlindungan yang nyata. Seolah-olah, urusan cari kerja adalah urusan masing-masing, bukan lagi tanggung jawab penguasa.

Dalam pandangan Islam yang lurus, penguasa itu sebenarnya adalah pengurus rakyat. Negara punya kewajiban utama memastikan setiap laki-laki dewasa bisa punya pekerjaan supaya bisa menafkahi keluarganya dengan tenang. Islam mengatur hubungan kerja itu harus adil, tidak boleh ada yang dizalimi, baik dari segi upah maupun beban kerja. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "...maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya..." (QS. Al-Mulk: 15). Ayat ini memerintahkan kita untuk berusaha, tapi di sisi lain, negara wajib memfasilitasi agar "berjalan mencari rezeki" itu jadi mudah, bukan malah dipersulit dengan aturan yang hanya menguntungkan orang kaya saja.

Jadi, masalah susahnya lapangan kerja ini tidak akan selesai kalau cuma berharap pada janji-janji manis saat kampanye saja. Kita butuh perubahan yang lebih dalam, yaitu kembali pada cara Islam mengelola ekonomi dan pendidikan agar setiap orang punya keahlian dan lapangan kerja yang luas. Sudah saatnya kita sadar dan lebih semangat belajar Islam secara menyeluruh (kaffah). Hanya dengan aturan dari Allah, kita tidak akan lagi merasa asing di negeri sendiri dan bisa bekerja dengan tenang serta terhormat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image