Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ariefdhianty Vibie

Kuliah untuk Peradaban Manusia atau Sekadar Suku Cadang Industri?

Pendidikan | 2026-05-12 09:51:11
Ilustrasi oleh AI

Oleh: Aisyah Farha (Pendidik Generasi)

Dunia pendidikan kita baru saja diguncang oleh wacana pemerintah yang berencana menghapus jurusan atau program studi (prodi) di kampus-kampus yang dianggap tidak lagi relevan dengan pasar kerja. Mengutip berita dari Kompas.com berjudul "Pemerintah Akan Tutup Prodi Kuliah yang Tak Relevan dengan Kebutuhan Masa Depan" (25/04/2026), kebijakan ini diambil demi mengejar target pertumbuhan ekonomi dan menyesuaikan lulusan dengan kebutuhan industri. Meski banyak rektor yang keberatan dan mengingatkan bahwa kampus bukanlah pabrik pekerja, arah kebijakan ini sudah jelas: pendidikan tinggi kita sedang digiring untuk menjadi pelayan kepentingan pemilik modal, bukan lagi tempat mencetak manusia yang berkualitas secara utuh.

Fenomena ini mengajak kita berpikir lebih dalam; mau dibawa ke mana generasi kita jika standar keberhasilan pendidikan hanyalah seberapa cepat lulusannya terserap pabrik? Saat pendidikan hanya berfokus pada kebutuhan industri, maka negara sebenarnya sedang lepas tangan dari tanggung jawabnya mencetak sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengurus urusan rakyat secara mandiri. Kebijakan ini lahir dari cara pandang sekuler-liberal yang melihat manusia hanya sebagai angka produksi dan tenaga kerja murah. Akibatnya, kurikulum kampus terus berubah-ubah mengikuti selera pasar, sementara nilai-nilai kepribadian dan pemikiran yang luhur justru dikesampingkan. Negara seolah hanya bertindak sebagai "agen penyalur kerja" bagi kepentingan korporasi, bukan sebagai pelindung dan pendidik rakyatnya sendiri.

Dalam pandangan Islam yang jernih, pendidikan tinggi adalah tanggung jawab penuh negara. Negaralah yang seharusnya menentukan visi, misi, dan kurikulum pendidikan dengan tujuan mencetak para ahli di berbagai bidang—mulai dari ilmuwan, ulama, hingga teknokrat—yang semuanya didedikasikan untuk melayani kepentingan umat, bukan sekadar memuaskan industri. Negara harus mandiri dalam mengelola pendidikan tanpa perlu tunduk pada tekanan kepentingan dalam maupun luar negeri. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan ilmu adalah untuk meningkatkan derajat dan kesadaran manusia sebagai hamba Allah, sehingga setiap ilmu yang dipelajari harusnya menjadi alat untuk menebar manfaat bagi masyarakat luas.

Masalah prodi yang mau ditutup ini hanyalah puncak gunung es dari rusaknya sistem pendidikan kita yang sudah terlalu jauh dari tuntunan agama. Kita butuh perubahan mendasar yang mengembalikan fungsi kampus sebagai tempat lahirnya pemimpin dan pemikir, bukan sekadar tempat pelatihan tukang. Sudah saatnya kita sadar dan semakin semangat mengkaji Islam secara kaffah agar kita paham bagaimana cara membangun sistem pendidikan yang benar-benar memuliakan manusia. Mari kita bersatu dan berjuang agar generasi mendatang mendapatkan pendidikan yang layak, di mana negara hadir sebagai pengurus yang amanah, menyediakan sarana prasarana terbaik secara cuma-cuma, dan mencetak SDM yang benar-benar berbakti bagi kemaslahatan umat dunia dan akhirat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image