Tuhan Ada di dalam Diri Siapa Saja
Eduaksi | 2026-05-11 20:48:40Ada sebuah kisah sederhana yang layak direnungkan bersama. Seorang ibu sedang antre di restoran cepat saji pada pagi yang dingin, ketika dua orang tunawisma berdiri di belakangnya. Satu per satu, orang-orang di sekitarnya menyingkir, bukan karena mereka sudah menyelesaikan makannya, melainkan karena bau badan dan penampilan kedua lelaki itu dianggap tidak layak berbagi ruang.
Sang ibu tidak menyingkir. Ia membalas senyum, mempersilakan mereka memesan duluan, lalu diam-diam membelikan makanan untuk keduanya.
Kisah itu tampak biasa. Tetapi ada satu detail yang paling berbicara, yaitu bukan kebaikan sang ibu, melainkan reaksi orang-orang di sekitarnya. Dalam hitungan detik, satu antrean penuh orang sehat, berpakaian rapi, dan mampu membeli makanan, memilih untuk menggeser diri, membangun jarak, dan berpura-pura tidak melihat.
Itulah cermin yang sesungguhnya: bukan sosok sang ibu, melainkan kerumunan yang memilih untuk tidak peduli.
Cermin itu juga adalah wajah zaman ini.
Masyarakat yang Semakin Sibuk
Umat manusia kini hidup di era yang secara bersamaan paling terhubung dan paling terisolasi dalam sejarah. Miliaran pesan dikirim setiap hari, namun tetangga sebelah kamar tidak saling kenal nama. Media sosial memungkinkan seseorang menyaksikan penderitaan orang di belahan dunia lain dalam hitungan detik, namun respons yang paling umum adalah menekan tombol "like" lalu menggeser layar ke konten berikutnya.
Para sosiolog menyebut gejala ini sebagai hyper-individualism, yaitu sebuah kondisi di mana nilai tertinggi dalam kehidupan sosial adalah kepentingan, kenyamanan, dan citra diri sendiri. Orang tidak lagi bertanya "Apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain?" melainkan "Apa yang orang lain bisa berikan kepada saya?" Relasi sosial bergeser dari ikatan menjadi transaksi. Komunitas bergeser dari tempat berbagi menjadi arena persaingan.
Di Indonesia, gejala ini tumbuh dengan wajahnya sendiri. Budaya pamer semakin terbuka, dan bukan hanya di kalangan orang kaya, tetapi di semua lapisan. Empati pun semakin selektif: banyak orang mudah tergerak oleh kisah viral yang dramatis, tetapi tidak tergerak oleh orang yang duduk di sebelahnya dalam angkot.
Kepercayaan sosial perlahan melemah, padahal modal itulah yang paling dibutuhkan oleh masyarakat yang ingin maju bersama.
Sikap itu kini tidak lagi terasa salah. Ia telah menjadi norma. Orang yang menyingkir dari tunawisma di antrean itu tidak merasa bersalah. Mereka merasa wajar. Kewajaran itulah yang paling perlu diperhatikan.
Ada yang Dipertaruhkan
Masyarakat yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri tidak hanya kehilangan kehangatan, tetapi telah kehilangan fungsinya. Ada tiga konsekuensi serius yang perlu disadari bersama.
Pertama, erosi kepercayaan sosial. Robert Putnam, sosiolog Harvard, telah mendokumentasikan selama puluhan tahun bagaimana melemahnya ikatan komunitas secara langsung berkorelasi dengan meningkatnya kriminalitas, melemahnya demokrasi, dan turunnya kesehatan mental kolektif.
Ketika orang tidak lagi saling percaya, seluruh tatanan sosial menjadi rapuh, mulai dari sistem ekonomi yang bergantung pada kejujuran, hingga sistem demokrasi yang bergantung pada tanggung jawab bersama.
Kedua, krisis kesehatan mental yang tersembunyi. Paradoks terbesar dari individualisme yang ekstrem adalah bahwa ia tidak membuat orang lebih bahagia, justru sebaliknya. Tingkat kesepian, kecemasan, dan depresi terus meningkat di masyarakat yang paling individualistis.
Manusia adalah makhluk relasional, dirancang untuk memberi dan menerima, bukan hanya untuk mengakumulasi. Ketika dimensi sosial itu dikerdilkan, ada sesuatu di dalam diri yang layu.
Ketiga, dan mungkin paling jauh dampaknya: kemiskinan moral yang mewariskan dirinya sendiri. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana orang dewasa tidak menunjukkan empati, tidak akan tahu bagaimana berempati. Generasi yang terbiasa melihat orang dewasa menyingkir dari kaum lemah akan menganggap menyingkir sebagai hal yang normal, bahkan bijak.
Dengan cara itu, kekeringan empati bukan hanya masalah hari ini; ia adalah warisan yang disiapkan untuk generasi berikutnya.
Tuhan Berbisik, Manusia Mendengarkan
Kembali ke kisah sang ibu. Ada satu kalimat yang ia ucapkan kepada kedua tunawisma, setelah meletakkan nampan makanan di hadapannya: "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian. Tuhan juga ada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya."
Terlepas dari latar belakang keyakinan masing-masing, kalimat itu menyimpan sebuah kebenaran antropologis yang mendalam: Ada suara di dalam diri manusia yang mendorong untuk peduli, untuk memberi, untuk hadir bagi orang lain. Suara itu selalu ada. Pertanyaannya adalah apakah seseorang cukup sunyi untuk mendengarnya.
Masyarakat modern yang bising, dengan notifikasi pesan tanpa henti, tekanan untuk selalu produktif dan terlihat sukses, serta kebiasaan mengisi setiap detik keheningan dengan stimulasi digital, adalah masyarakat yang semakin sulit mendengar bisikan itu. Bukan karena suaranya melemah, melainkan karena kebisingan di sekitarnya semakin keras.
Sang ibu dalam kisah itu bisa merespons dengan cepat bukan karena ia lebih baik dari orang lain, melainkan karena ia hadir sepenuhnya di momen itu. Ia tidak sedang menelusuri ponselnya. Ia tidak sedang memikirkan rapat berikutnya. Ia ada dan dalam kehadiran itulah, bisikan itu terdengar. Tuhan ada di dalam dirinya, dan juga di dalam diri mereka. Tuhan ada di di dalam diri siapa saja.
Memilih untuk Tidak Menyingkir
Bukan hanya kisah tentang kebaikan seorang perempuan yang tersimpan dalam cerita itu. Tersimpan pula sebuah pelajaran tentang efek berantai dari satu tindakan keberanian moral yang kecil.
Satu orang yang memilih untuk tidak menyingkir menggerakkan seluruh ruangan. Satu senyum yang tulus mengubah suasana yang dingin menjadi hangat. Satu nampan makanan yang diantarkan dengan rendah hati meninggalkan pelajaran yang tidak terlupakan.
Orang-orang baik tidak pernah benar-benar langka di negeri ini. Keberanian untuk menampakkan kebaikan itu, di tengah tekanan sosial yang mendorong untuk diam, menyingkir, dan tidak melibatkan diri, itulah yang kadang perlu dipupuk lebih serius. Sebab melibatkan diri terasa berisiko. Terasa tidak efisien. Terasa bukan urusan sendiri.
Tetapi jika bukan urusan setiap orang, lalu urusan siapa?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
