Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Misbahul Akrom

Menyelami Budaya Gandrung di Taman Gandrung Terakota Banyuwangi

Agama | 2026-05-11 11:41:53
dua penari sedang performdok. penulis

Setelah hampir 13 jam perjalanan di atas Kereta Sri Tanjung, kesadaran saya perlahan bergeser. Waktu yang panjang itu rupanya bukan sekadar jeda fisik, melainkan ruang kontemplasi awal bagi saya dan rekan-rekan mahasiswa pascasarjana ISI Yogyakarta. Perjalanan menuju Banyuwangi ini tidak lagi terasa sebagai kegiatan kuliah lapangan biasa, melainkan sebuah pencarian pribadi untuk berhadapan langsung dengan "jiwa" budaya sebagai pengalaman yang akan terus diingat dan dirasakan.

Lansekap yang Hidup di Kaki Gunung

Setibanya di Taman Gandrung Terakota, kami disambut oleh dosen pengampu kami Dr. Yohana Ari Ratnaningtyas, S.E., M.Si, serta Bapak Sigit Pramono S.E, M.Sc, sang penggagas tempat ini. Saat matahari mulai menampakkan cahayanya, tempat ini memamerkan wajah aslinya: sebuah ruang yang disusun dengan perencanaan matang di mana seni dan alam menyatu secara serasi.

Lansekap Taman Gandrung Terakota berlatar Gunungdoc : Penulis

Di sini, seribu patung penari Gandrung dihamparkan di tengah persawahan produktif dan aliran sungai kecil, dengan latar megah Gunung Ranti dan Merapi. Tubuh-tubuh itu membeku, seragam namun tidak sepenuhnya sama, menciptakan pengalaman visual yang unik, seperti sebuah keramaian pertunjukan yang tiba-tiba membeku dalam keheningan yang hidup. Di titik ini, saya menyadari bahwa yang dihadirkan bukan sekadar objek, melainkan sebuah cara melihat budaya yang berakar pada tanah.

Filosofi Terakota: Merayakan Kerapuhan

Satu hal yang paling mendalam adalah alasan di balik pemilihan materialnya. Terakota tidak dipilih karena kekuatannya, melainkan justru karena kerapuhannya. Seperti yang diungkapkan sang penggagas, patung-patung ini sengaja dibuat "ringkih dan mudah pecah" agar suatu saat nanti bisa kembali menyatu dengan tanah.Ini adalah sebuah pernyataan filosofis tentang siklus kehidupan manusia. Di Taman Gandrung Terakota, material menjadi simbol bahwa budaya, seperti halnya manusia, tidak bersifat abadi. Ia bersifat rapuh dan justru karena itulah ia harus terus "diruwat" dan dirawat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

salah satu lokasi patung Gandrung dari bahan terakotadoc : Penulis

Ekosistem, Maestro, dan Akar Budaya

Tempat ini lebih dari sekadar galeri terbuka; ia adalah sebuah ekosistem budaya yang menjaga hubungan antara manusia, alam, dan tradisi agraris suku Osing. Pemahaman konseptual ini menjadi semakin cair saat kami berdiskusi dengan budayawan Aekanu Hariyono di Jiwa Jawa Resort, di mana pengetahuan budaya disampaikan secara hangat melalui cerita, nyanyian, dan wayang. Beliau juga menceritakan dengan sangat piawai tentang dongen tentang Sri Tanjung yang konon merupakan asal-usul dari penamaan Banyuwangi.

Bincang bersama Mbok Temu Mesti (tengah) di TGT, Banyuwangi

Puncaknya adalah saat kami bertemu langsung dengan Mbok Temu Mesti, sang maestro tari Gandrung, yang sejak umur 12 tahun mengabdikan diri sebagai seorang Gandrung. Di antara ribuan patung tanah liat yang diam, satu tubuh Mbok Temu yang bergerak memberikan makna nyata tentang keberlanjutan budaya,. Suaranya membawa sejarah dan ingatan kolektif yang membuat budaya tidak lagi terasa sebagai konsep, melainkan sesuatu yang benar-benar dijalani.

Sebagai mahasiswa seni, momen ini menjadi pengingat betapa krusialnya bagi kami untuk kembali mempelajari akar budaya. Melalui ruang diskusi dan interaksi langsung seperti ini, terjadi proses bertukar seni yang mampu mempertajam serta menambah pengetahuan melampaui teori di ruang kelas. Kami belajar untuk tidak hanya mengagumi permukaan estetik sebuah karya, tetapi juga mengambil nilai filosofis mendalam yang menjadi fondasinya. Pengalaman ini mengajarkan bahwa seni yang bermakna adalah seni yang berakar kuat pada identitas dan praktik hidup masyarakatnya.

Tradisi yang Terus Bergerak

lokakarya Gamelan Gandrung

Pengalaman kami semakin konkret melalui lokakarya tarian dan gamelan Gandrung. Di sana saya merasakan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis; ia bergerak, diwariskan, dan dihidupkan melalui praktik nyata. Keterlibatan masyarakat lokal sebagai pelaku utama menunjukkan bahwa budaya di sini benar-benar dirawat dalam ekosistemnya, bukan sekadar dipamerkan untuk kebutuhan eksotisme semata.

Budaya yang Menghidupi

Perjalanan ini akhirnya mengubah cara saya memandang budaya. Budaya Osing dan Gandrung hadir bukan sebagai sesuatu yang jauh dan asing, melainkan sebagai praktik hidup yang dekat dan terus berlangsung. Saya menyadari bahwa budaya, seperti tanah, bersifat rapuh dan berubah, namun sekaligus menghidupi. Ia tidak cukup hanya dilihat; ia harus dialami, dijaga, dan terus dihidupkan. Karena justru ketika budaya itu dialami secara langsung, ia menjadi lebih dekat dan memberikan makna yang mendalam bagi jiwa kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image