Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image FAUZIA PUTRI

Makna di Balik Tombol Like: Interaksi Simbolik dalam Story Instagram

Teknologi | 2026-05-07 23:38:18
Sumber: Getty Images

Pernahkah seseorang merasa senang hanya karena story Instagram-nya diberi like oleh orang tertentu? Atau justru merasa bingung dan bertanya-tanya, “Apa maksudnya dia nge-like story aku?” Di era media sosial saat ini, satu klik sederhana ternyata mampu menimbulkan berbagai emosi dan interpretasi. Tombol “like” yang tampak sepele kini bukan lagi sekadar fitur digital, melainkan telah menjadi bagian dari cara manusia berkomunikasi dan membangun hubungan sosial.

Kehadiran media sosial telah mengubah pola interaksi manusia secara besar-besaran. Menurut laporan Digital 2024 dari We Are Social, Indonesia termasuk salah satu negara dengan pengguna media sosial paling aktif di dunia. Instagram menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan, terutama oleh generasi muda. Fitur story yang hanya bertahan selama 24 jam membuat komunikasi terasa lebih spontan, personal, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di balik kesederhanaannya, fitur like pada story Instagram menyimpan makna sosial yang kompleks. Banyak orang menganggap like story sebagai tanda ketertarikan romantis atau bentuk flirting digital. Namun, dalam kenyataannya, makna tersebut tidak selalu sesederhana itu. Bagi sebagian orang, like dapat berarti dukungan emosional, tanda perhatian, basa-basi sosial, atau sekadar penanda bahwa seseorang “masih hadir” dalam hubungan pertemanan.

Fenomena ini dapat dipahami melalui teori interaksi simbolik, salah satu pendekatan penting dalam sosiologi yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan kemudian dipopulerkan oleh Herbert Blumer. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memberikan makna terhadap sesuatu melalui proses interaksi sosial. Dengan kata lain, manusia tidak hanya bereaksi terhadap tindakan, tetapi juga menafsirkan makna di balik tindakan tersebut.

Dalam konteks media sosial, tombol like bukan lagi simbol yang netral. Ia telah berubah menjadi simbol sosial yang sarat makna emosional dan relasional. Seseorang bisa merasa diperhatikan, diingat, bahkan disukai hanya karena story-nya diberi like oleh orang tertentu. Sebaliknya, tidak adanya respons juga dapat menimbulkan rasa diabaikan atau tidak dihargai.

Herbert Blumer menjelaskan bahwa manusia bertindak berdasarkan makna yang mereka miliki terhadap suatu objek. Makna tersebut muncul dari interaksi sosial dan kemudian diinterpretasikan kembali secara subjektif oleh individu. Hal ini terlihat jelas dalam fenomena like story Instagram. Makna sebuah like tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh hubungan sebelumnya antara pemberi dan penerima like.

Misalnya, like dari sahabat dekat tentu akan dimaknai berbeda dibanding like dari mantan pasangan atau seseorang yang baru dikenal. Riwayat hubungan, intensitas komunikasi, hingga kondisi emosional seseorang dapat memengaruhi penafsiran tersebut. Karena itu, satu tindakan yang sama bisa menghasilkan interpretasi yang sangat berbeda.

Bagi sebagian orang, like story dapat dianggap sebagai sinyal ketertarikan. Namun, bagi orang lain, hal tersebut hanyalah formalitas sosial atau kebiasaan digital semata. Bahkan ada pula yang merasa bingung ketika seseorang hanya memberi like tanpa mengirim komentar atau pesan langsung. Variasi penafsiran ini menunjukkan bahwa makna tidak melekat pada simbol itu sendiri, melainkan dibentuk melalui proses interpretasi individu.

Fenomena ini menjadi lebih menarik ketika dikaitkan dengan kondisi emosional tertentu. Ketika seseorang mengunggah story berisi curhatan, kesedihan, atau kegagalan, like dari teman dekat dapat dirasakan sebagai bentuk empati dan dukungan moral. Dalam situasi seperti ini, like berfungsi layaknya “pelukan virtual” yang menyampaikan pesan tidak langsung: aku ada untukmu.

Konsep taking the role of the other dari George Herbert Mead juga terlihat dalam interaksi digital sehari-hari. Individu sering mencoba membayangkan maksud orang lain sebelum memberikan makna terhadap tindakan mereka. Karena itu, penerima like mungkin bertanya dalam hati: “Apakah dia benar-benar perhatian, atau hanya sekadar iseng memberi like?” Proses berpikir seperti ini menunjukkan bahwa interaksi sosial di media digital tetap melibatkan interpretasi aktif dan imajinasi sosial.

Menariknya, simbol like sering kali tidak berhenti sebagai bentuk respons pasif. Like justru dapat menjadi awal dari interaksi yang lebih jauh, seperti membalas story dengan emoji, memulai percakapan melalui DM, atau meningkatkan intensitas komunikasi. Dalam beberapa kasus, jumlah like bahkan memengaruhi rasa percaya diri seseorang. Tidak sedikit pengguna media sosial yang merasa kecewa ketika unggahannya mendapat respons minim, sebuah kondisi yang sering disebut sebagai like drought.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa media sosial bukan sekadar ruang berbagi foto atau video, melainkan arena pembentukan makna sosial. Interaksi kecil yang tampak sederhana ternyata memiliki pengaruh besar terhadap emosi, hubungan interpersonal, dan cara individu memandang dirinya sendiri.

Pada akhirnya, like story Instagram merupakan contoh nyata bagaimana teori interaksi simbolik masih relevan di era digital. Satu tombol kecil mampu menjadi ruang tempat manusia membangun, menegosiasikan, dan menafsirkan hubungan sosial mereka. Like bukan hanya tanda “suka”, tetapi juga simbol perhatian, validasi, empati, hingga kedekatan emosional.

Di tengah dunia yang semakin terhubung namun sekaligus semakin anonim, memahami makna di balik simbol-simbol digital menjadi keterampilan sosial yang penting. Interaksi manusia mungkin kini berlangsung melalui layar ponsel, tetapi kebutuhan untuk dimengerti, dihargai, dan diperhatikan tetap menjadi bagian mendasar dari kehidupan sosial manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image