Masyarakat Desa Memang Tidak Memakai Dolar, Tetapi Mereka Tetap Membayar Dampaknya
Politik | 2026-05-19 14:22:10
Pelemahan nilai mata uang rupiah yang semakin mendekati angka Rp 18.000 per-dolar, sering kali hanya dianggap sebagai persoalan ekonomi yang tidak begitu besar pengaruhnya. Perbincangan publik biasanya lebih banyak berfokus pada kurs, pasar global, dan kondisi ekonomi negara. Padahal di balik angka-angka tersebut, memiliki realitas sosial yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat. Harga barang ataupun kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari semakin tinggi, dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup mulai menurun. Kondisi ini menjadi sebuah tekanan ekonomi yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk masyarakat kelas menengah ke bawah, pelemahan nilai mata uang rupiah bukan hanya sekadar urursan dalam pasar keuangan. Dampaknya turut hadir secara nyata melalui kenaikan harga bahan pokok, biaya transportasi, tarif kebutuhan dalam rumah tangga, sampai pada meningkatnya biaya hidup yang naik secara perlahan. Pada kondisi ini, masyarakat dipaksa untuk tetap terus menyesuaikan diri dengan keadaan. Banyak keluarga mulai mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan tertentu, hingga harus memilih kebutuhan mana yang dianggap paling penting untuk diprioritaskan dan dipenuhi terlebih dahulu.
Fenomena ini menunjukkan jika pelemahan nilai mata uang rupiah di Indonesia sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan ekonomi saja, akan tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat. Dilihat dari perspektif sosiologi, krisis ekonomi tidak pernah berdampak secara merata. Ada beberapa kelompok yang masih memiliki tabungan, investasi, atau asset untuk bertahan hidup saat kondisi ekonomi mulai buruk. Namun disisi lain, ada sejumlah masyarakat yang memiliki penghasilan terbatas justru menjadi kelompok yang paling rentan untuk menerima dampak dari penurunan nilai mata uang rupiah.
Jika dilihat dari sudut pandang Karl Max, kondisi seperti ini menunjukkan bagaimana sistem ekonomi menciptakan perbedaan dampak bagi setiap kelas sosial. Kelompok masyarakat yang memiliki modal ekonomi lebih besar akan cenderung untuk memiliki perlindungan yang lebih kuat terhadap krisis yang terjadi. Sedangkan, kelompok masyarakat dengan kelas menengah ke bawah akan menjadi pihak yang pertama kali merasakan sebuah tekanan saat kondisi ekonomi tidaklah stabil. Pada waktu harga kebutuhan pokok sehari-hari naik, kelompok yang rentan tidak memiliki banyak pilihan selain mengurangi penggunaan kebutuhan dan menekan kebutuhan hidup mereka masing-masing.
Kondisi tersebut, akhirnya memunculkan berbagai fenomena sosial di tengah masyarakat. Banyak orang mulai hidup dalam perasaan cemas terhadap kondisi ekonomi yang sangat tidak menentu. Generasi muda saat ini mulai menghadapi kesulitan dalam mencari sebuah pekerjaan yang stabil, sedangkan biaya hidupnya terus naik dari waktu ke waktu. Tidak jarang masyarakat akhirnya memilih untuk bertahan hidup dengan pola bertahan daripada memilih untuk berkembang. Penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari tanpa adanya rasa aman terhadap masa depan yang akan datang.
Tekanan ekonomi memengaruhi hubungan sosial masyarakat. Pada beberapa kondisi, persoalan ekonomi juga dapat memicu berbagai konflik dalam rumah tangga, stress, serta munculnya rasa frustasi karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Hal seperti ini menunjukkan jika pelemahan nilai mata uang rupiah bukan hanya berdampak pada angka pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga memengaruhi kualitas hodup dalam bermasyarakat secara sosial dan psikologis.
Beberapa waktu lalu, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan jika masyarakat Indonesia yang tinggal di desa tidak akan menggunakan dolar sehingga hal tersebut tidak akan berdampak bagi masyarakat desa. Pernyataan yang terdengar sangat sederhana, namun persoalannya bukan terletak pada apakah masyarakat menggunakan dolar secara langsung atau tidak. Pada kenyatannya, masyarakat tetap hidup dalam sistem ekonomi yang saling terhubung.
Masyarakat memang tidak bertransaksi langsung menggunakan mata uang dolar ketika membeli kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari, tetapi pelemahan mata uang rupiah tetap akan memengaruhi harga pupuk, bahan bakar, distribusi barang, hingga kebutuhan pokok lainnya. Artinya, masyarakat kelas menengah ke bawah tetap menjadi kelompok yang harus menanggung dampak dari melemahnya nilai rupiah, meskipun mereka tidak pernah terlibat secara langsung dalam aktivitas global.
Dalam pandangan sosiologi, kondisi ini menunjukkan jika masyarakat kecil sering kali menjadi pihak yang paling rentan dalam sistem ekonomi. Mereka tidak memiliki kuasa terhadap perubahan dalam pasar global, tetapi tetap harus menerima dampak yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat kondisi ekonomi melemah dan memburuk, kelompok masyarakat kelas bawah dipaksa agar menyesuaikan hidup dengan keadaan yang semakin sulit.
Sering kali pembahasan mengenai pelemahan nilai mata uang rupiah di Indonesia ini hanya terpaku pada stabilitas ekonomi dan angka-angka statistik. Padahal kondisi ekonomi dapat dikatakan stabil, belum tentu dirasakan oleh seluruh masyarakat pada kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian besar masyarakat, ukuran kondisi ekonomi bukanlah tentang pertumbuhan negara, tetapi juga tentang apakah harga kebutuhan masih mampu untuk dijangkau dan apakah hidup masih bisa dijalani dengan tenang.
Oleh karena itu, pelemahan nilai mata uang rupiah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai persoalan ekonomi semata. Negara perlu melihat jika setiap krisis ekonomi yang terjadi akan membawa dampak sosial yang nyata, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Stabilitas ekonomi seharusnya tidak hanya diukur melalui angka pertumbuhan atau nilai tukar mata uang, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat untuk hidup dengan layak tanpa harus dibebani dengan tekanan-tekanan ekonomi.
Dan pada akhirnya, masyarakat memang tidak menggunakan mata uang dolar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saat mata uang rupiah melemah mereka tetap menjadi pihak yang paling merasakan terlebih dahulu dampak yang terjadi. Hal ini karena yang melemah bukan hanya nilai mata uang saja, tetapi juga rasa aman sosial dalam bermasyarakat yang hidup dalam kondisi ekonomi paling rentan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
