Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Susi Hendarti

Belajar dari Banyuurip: Menguatkan Adab di Tengah Ambisi Akademik

Guru Menulis | 2026-05-07 12:00:22

Tidak sedikit orang tua merasa bangga ketika anak usia empat tahun sudah mampu membaca lancar atau berhitung cepat. Lembaga pendidikan pun berlomba menawarkan berbagai capaian akademik sejak dini. Namun di tengah ambisi itu, ada satu pertanyaan yang perlahan mulai terlupakan: apakah anak-anak kita sedang benar-benar dididik menjadi manusia, atau sekadar dipersiapkan menjadi mesin prestasi?

Di ruang-ruang kelas pendidikan anak usia dini, kecerdasan sering kali diukur dari angka dan kemampuan akademik. Padahal, kemampuan meminta maaf, menghargai teman, menunggu giliran, hingga belajar bertanggung jawab justru menjadi pondasi penting yang menentukan bagaimana seorang anak akan tumbuh di masa depan.

Kegelisahan inilah yang muncul dalam wawancara bersama Ibu Ika Mery Widharningsih, S.Pd., Ketua Korwilcambidik Kecamatan Banyuurip. Bagi beliau, pendidikan adab bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari seluruh proses pendidikan anak usia dini.

Pendidikan anak usia dini sering kali terjebak dalam perdebatan klasik: mana yang lebih penting, kemampuan akademik atau pembentukan karakter? Dalam wawancara bersama beliau, saya menemukan jawaban yang tegas bahwa adab bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama.

“Pendidikan adab dan membangun karakter sangat penting.” Kalimat itu terucap saat mengemukakan apa yang menjadi prioritas di fase usia dini. Pada fase ini, anak berada dalam masa emas perkembangan, di mana karakter terbentuk paling kuat. Apa yang ditanamkan pada masa ini akan menetap dan memengaruhi kehidupan mereka ke depan. Jika akademik adalah bangunan, maka adab adalah pondasinya. Tanpa pondasi kokoh, bangunan setinggi apa pun akan rapuh.

Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda. Banyak lembaga pendidikan justru berlomba menonjolkan capaian akademik sejak dini. Anak didorong untuk cepat membaca, berhitung, bahkan menguasai berbagai konsep, tanpa memastikan apakah mereka sudah mampu bersikap jujur, sabar, atau menghargai orang lain. Pertanyaannya menjadi relevan: apakah kita sedang mendidik anak untuk menjadi pintar, atau hanya tampak pintar?

Menurut Ibu Ika, membangun karakter tidak bisa instan. “Mendidik dan membangun karakter paling kuat adalah dengan pembiasaan yang membutuhkan waktu.” Artinya, pendidikan adab adalah proses panjang yang konsisten, bahkan bisa dimulai dari PAUD hingga jenjang pendidikan tertinggi.

Pembiasaan menjadi kunci utama. Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami setiap hari. Ketika mereka terbiasa mengucapkan terima kasih, meminta maaf, menunggu giliran, atau bertanggung jawab atas hal kecil, maka nilai-nilai itu akan melekat tanpa harus selalu diajarkan secara verbal. Inilah pendidikan yang hidup yang hadir dalam keseharian, bukan sekadar teori.

Namun, pembiasaan tidak akan berjalan tanpa figur yang konsisten. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Ibu Ika menegaskan bahwa nilai yang ingin ditanamkan pada anak harus terlebih dahulu dimiliki oleh guru. Guru tidak cukup hanya memahami konsep karakter, tetapi juga harus mempraktikkannya.

Guru adalah cermin. Anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat. Ketika guru mengajarkan kesabaran, ia harus bersikap sabar. Ketika mengajarkan kejujuran, ia harus jujur. Tanpa keteladanan, pendidikan kehilangan maknanya. Sebaliknya, ketika guru hidup dalam nilai-nilai yang diajarkan, setiap tindakannya menjadi pelajaran yang bermakna.

Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional. Semangat keteladanan dan penguatan karakter saat ini semakin ditekankan dalam berbagai kebijakan pendidikan nasional, termasuk implementasi Kurikulum Merdeka dan penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dalam kerangka tersebut, guru memiliki tiga peran utama: fasilitator, teladan, dan mentor.

Sebagai fasilitator, guru menciptakan lingkungan belajar yang memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi. Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi mengalami proses belajar, bertanya, mencoba, dan bahkan gagal. Di sinilah pembelajaran menjadi bermakna.

Sebagai teladan, guru menjadi contoh nyata dari nilai yang diajarkan. Peran ini menuntut konsistensi antara ucapan dan tindakan. Keteladanan tidak bisa dibuat-buat; ia harus lahir dari kesadaran diri. Tanpa ini, nilai yang diajarkan hanya akan menjadi slogan.

Sebagai mentor, guru mendampingi anak dalam proses belajarnya. Ketika anak melakukan kesalahan, guru tidak langsung menyalahkan, tetapi membimbing mereka memahami proses dan menemukan solusi. Pendekatan ini membantu membangun rasa percaya diri dan ketahanan mental anak.

Ketiga peran ini saling melengkapi dan menjadi dasar bagi pendidikan yang utuh, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter. Harapan besar dari semua ini adalah agar pendidikan anak usia dini benar-benar memberi perhatian serius pada pembentukan adab. Jangan sampai fase penting ini terlewat karena terlalu fokus pada target akademik. Pondasi yang kuat akan memudahkan anak melangkah ke jenjang berikutnya dengan lebih siap.

Di akhir wawancara, Ibu Ika menyampaikan pesan penting bagi para guru. Dalam membangun adab dan kepemimpinan anak, guru harus mampu menjadi role model. Bukan sekadar mengajar, tetapi menunjukkan.

Guru juga perlu memberi ruang eksplorasi yang luas bagi anak. Dunia anak adalah dunia mencoba. Ketika mereka diberi kesempatan, mereka belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab. Sebaliknya, jika ruang itu dibatasi, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang ragu.

Selain itu, afirmasi positif menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Hal-hal kecil yang berhasil dilakukan anak perlu diapresiasi. Ini bukan sekadar pujian, tetapi bentuk penguatan bahwa usaha mereka berarti. Dari sinilah rasa percaya diri tumbuh.

Yang tak kalah penting, guru tidak seharusnya menyalahkan anak ketika gagal. Fokusnya bukan pada kesalahan, tetapi pada bagaimana anak belajar menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Anak perlu didorong untuk mencoba lagi tanpa rasa takut.

Pada akhirnya, pendidikan adab bukanlah tambahan, melainkan inti dari pendidikan itu sendiri. Ketika adab tertanam dengan baik, maka kemampuan akademik akan berkembang dengan lebih bermakna. Anak tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga bijak.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah adab itu penting, tetapi sudah sejauh mana kita benar-benar memprioritaskannya. Apakah kita sudah menjadi teladan? Apakah kita sudah memberi ruang bagi anak untuk tumbuh?

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang anak ketahui, tetapi tentang siapa mereka akan menjadi. Dan semuanya bermula dari satu hal paling mendasar: adab sebagai pondasi. Sebagai Ketua Korwilcambidik Kecamatan Banyuurip, Ibu Ika Mery Widharningsih menegaskan bahwa penguatan pendidikan adab tidak bisa dibebankan pada sekolah semata. Semua komponen pendidikan dalam hal ini guru, orang tua, lingkungan, hingga pemangku kebijakan harus terlibat dan berjalan bersama agar fase pondasi anak benar-benar dibangun dengan kuat.

*****

Ditulis oleh guru yang sedang meningkatkan kompetensi dengan kuliah di STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image