Perguruan Tinggi Indonesia: Berdampak atau Berkelanjutan?
Kebijakan | 2026-05-06 21:04:33Perguruan tinggi yang sesungguhnya berkualitas bukanlah yang hanya unggul dalam akreditasi, jumlah publikasi, atau jumlah mahasiswa, melainkan yang mampu menciptakan dampak nyata (tangible impact) bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan.
Di Indonesia, pertanyaan mendasar ini semakin relevan: Apakah perguruan tinggi kita sekadar impactful (berdampak) dalam arti kontribusi sesaat, ataukah ia mampu mewujudkan sustainability (keberlanjutan) yang mendalam dan jangka panjang?
Dua konsep ini tidak bertentangan, melainkan harus saling menguatkan dalam kerangka kebijakan nasional terkini sustainability.
Peluncuran Diktisaintek Berdampak oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada Hari Pendidikan Nasional 2025 menandai babak baru transformasi pendidikan tinggi Indonesia. Program ini merupakan kelanjutan sekaligus evolusi dari semangat Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).
Jika Kampus Merdeka menekankan kebebasan belajar dan fleksibilitas kurikulum, maka Diktisaintek Berdampak menggeser fokus ke outcome dan impact yang terukur, menjadikan perguruan tinggi sebagai motor kemajuan ekonomi daerah, solusi permasalahan sosial, inovasi teknologi, serta penopang pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Kebebasan dan Dampak Berkelanjutan
Kampus Merdeka telah berhasil membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat, tetapi kebebasan tersebut kerap berhenti pada tingkat aktivitas tanpa jaminan dampak substantif.
Diktisaintek Berdampak hadir untuk menjawab kekurangan ini dengan menempatkan dampak sosial, ekonomi, ekologis, dan budaya sebagai ukuran keberhasilan utama. Perguruan tinggi dituntut menjadi simpul ekosistem inovasi yang menghilirisasi riset, memberdayakan UMKM, membangun desa, dan mendukung transisi ekonomi hijau.
Dalam perspektif ini, keberlanjutan menjadi ruh sekaligus tujuan akhir dari berdampak. Kerangka Times Higher Education (THE) Impact Rankings yang selaras dengan 17 Sustainable Development Goals (SDGs) PBB menawarkan tolok ukur global yang rigorus.
Pencapaian Universitas Airlangga yang menduduki peringkat ke-9 dunia pada THE Impact Rankings 2025 menunjukkan potensi Indonesia. Tetapi pencapaian ini masih menjadi pengecualian, bukan representasi mayoritas.
Pilar-Pilar Dampak yang Berkelanjutan
Pilar pertama yang menjadi fondasi adalah riset dan inovasi berdampak. Riset tidak boleh lagi berorientasi semata pada kuantitas publikasi di jurnal internasional, melainkan harus menghasilkan solusi konkret yang dapat dihilirisasi.
Di bawah Diktisaintek Berdampak, perguruan tinggi didorong untuk mengembangkan riset terapan yang menjawab tantangan nasional, seperti pengembangan energi terbarukan berbasis potensi daerah, teknologi adaptasi perubahan iklim untuk pertanian kecil, restorasi ekosistem gambut dan bakau, serta inovasi bioeconomy yang memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia.
Hilirisasi riset menjadi paten, startup, dan produk yang diadopsi industri serta masyarakat harus menjadi ukuran keberhasilan, bukan sekadar jumlah sitasi.
Pilar kedua adalah pengajaran dan pembelajaran yang kontekstual serta berorientasi keberlanjutan. Literasi keberlanjutan harus menjadi kompetensi wajib bagi seluruh mahasiswa, terlepas dari program studinya.
Melalui program magang berdampak dan proyek kolaboratif Kampus Merdeka yang terus dikembangkan, mahasiswa diajak tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam penyelesaian masalah nyata di lapangan, mulai dari pendampingan UMKM dalam penerapan circular economy hingga penyusunan kebijakan daerah berbasis data.
Kurikulum perlu didesain secara interdisipliner, mengintegrasikan pengetahuan sains, teknologi, sosial, dan kearifan lokal agar lulusan menjadi agen perubahan yang adaptif dan bertanggung jawab.
Pilar ketiga mencakup stewardship institusi, outreach, serta kolaborasi multipihak. Kampus harus menjadi teladan (leading by example) melalui praktik operasional berkelanjutan, seperti penerapan green campus, pengelolaan limbah zero-waste, efisiensi energi, dan pembangunan infrastruktur rendah karbon.
Di luar kampus, perguruan tinggi dituntut memperkuat kemitraan strategis jangka panjang dengan pemerintah daerah, industri, NGO, dan komunitas.
University-Community Engagement tidak boleh bersifat sporadis, melainkan dirancang dengan target dampak terukur, seperti peningkatan indeks pembangunan manusia di desa binaan atau kontribusi nyata terhadap target SDGs daerah.
Tantangan dan Rekomendasi
Meski Diktisaintek Berdampak memberikan arah strategis yang tepat, implementasinya menghadapi tantangan struktural yang tidak boleh disembunyikan. Kesenjangan kualitas antar-perguruan tinggi masih sangat lebar.
Segelintir PTN elite di Jawa mendominasi peringkat internasional dan akses pendanaan, sementara ribuan PTS dan perguruan tinggi di daerah tertinggal berjuang dengan sumber daya minim.
Program berdampak berisiko menjadi slogan kosong jika tidak disertai alokasi dana yang proporsional dan mekanisme insentif yang adil.
Lebih kritis lagi, budaya akuntabilitas dan pengukuran dampak masih lemah. Banyak perguruan tinggi cenderung sibuk dengan indikator administratif dan publikasi demi pemeringkatan, tetapi abai terhadap dampak riil di masyarakat, seperti adopsi teknologi oleh UMKM, perbaikan indeks pembangunan manusia daerah, atau penurunan emisi karbon kampus yang terukur.
Kolaborasi multipihak sering kali bersifat formalitas, tanpa komitmen jangka panjang dan distribusi manfaat yang setara. Akibatnya, inisiatif pemerintah yang visioner berpotensi terjebak dalam jebakan proyek jangka pendek yang bersifat sporadis.
Untuk mengatasi ini, diperlukan langkah-langkah konstruktif dan berani: Reformasi pendanaan berbasis dampak yang progresif, penguatan tata kelola dan akuntabilitas melalui Sustainability and Impact Office, program mentoring nasional antar-perguruan tinggi, serta integrasi metrik global dan lokal yang seimbang.
Berdampak atau Berkelanjutan?
Perguruan tinggi Indonesia tidak perlu memilih antara berdampak atau berkelanjutan, keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama. Diktisaintek Berdampak sebagai kelanjutan Kampus Merdeka menawarkan momentum historis yang sangat berharga.
Tanpa reformasi struktural yang tajam, keberanian mengatasi kesenjangan, dan komitmen akuntabilitas yang konsisten, program ini berisiko menjadi sekadar repackaging kebijakan lama.
Saatnya perguruan tinggi Indonesia berhenti menjadi ranking chaser yang terobsesi pada prestise semu dan metrik kosong, lalu bertransformasi secara radikal menuju impact-driven and sustainability-oriented universities yang genuine.
Jika Diktisaintek Berdampak hanya menjadi lapisan retorika baru di atas struktur lama yang birokratis dan timpang, maka kita akan kehilangan momentum emas menuju Indonesia 2045.
Masa depan bangsa ini sangat bergantung pada keberanian perguruan tinggi hari ini untuk keluar dari zona nyaman: Meninggalkan budaya publikasi demi publikasi, proyek demi proyek, dan formalitas demi formalitas, menuju penciptaan dampak yang terukur, inklusif, dan abadi.
Hanya dengan mengintegrasikan keberlanjutan sebagai DNA institusi, bukan sekadar program tambahan, perguruan tinggi dapat melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab terhadap bumi dan sesama. Itulah pilihan yang kita hadapi: berdampak sesaat atau berkelanjutan selamanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
