Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image pina hendriana

Banjir Banten: Bukan Takdir Alam, Melainkan Gagal Tata Kelola

Info Terkini | 2026-05-06 16:03:08

Awal 2026, banjir kembali merendam Pandeglang dan Lebak, Banten, dan berdampak pada ribuan warga. Lagi-lagi, penjelasan yang muncul berkutat pada curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem. Narasi ini bukan hanya dangkal, tetapi juga menyesatkan—karena menutupi fakta bahwa banjir ini adalah hasil dari keputusan manusia.

Banjir di Banten bukan kejadian alam yang berdiri sendiri. Ia adalah akumulasi kerusakan lingkungan yang berlangsung lama dan, lebih parahnya, kerap dilegalkan. Polanya berulang setiap tahun. Jika bencana terus datang dengan pola yang sama, maka yang gagal bukan alam, melainkan tata kelola.

Masalah utamanya ada di hulu. Degradasi hutan telah melumpuhkan fungsi resapan air. Hujan yang seharusnya menjadi berkah berubah menjadi ancaman karena tidak lagi terserap, melainkan langsung mengalir ke hilir. Alih fungsi lahan—dari hutan dan daerah aliran sungai menjadi permukiman, perkebunan, dan industri—mempercepat kerusakan ini.

Ironisnya, sebagian praktik tersebut justru mendapat legitimasi kebijakan. Ketika regulasi membuka jalan bagi eksploitasi dan penegakan hukum dibiarkan lemah, kerusakan bukan lagi insiden, melainkan sistem. Dalam kondisi seperti ini, menyebut banjir sebagai “bencana alam” bukan sekadar keliru, tetapi juga bentuk pembenaran.

Perubahan iklim memang memperparah intensitas hujan. Namun menjadikannya kambing hitam adalah cara mudah untuk menghindari tanggung jawab. Hujan hanyalah pemicu. Tanpa kerusakan lingkungan, dampaknya tidak akan sedestruktif ini.

Seperti biasa, yang paling menderita adalah masyarakat kecil. Mereka kehilangan rumah, penghidupan, dan rasa aman—padahal bukan mereka yang merusak. Inilah wajah nyata ketidakadilan ekologis: kerugian ditanggung yang lemah, keuntungan dinikmati yang kuat.

Selama banjir terus dilabeli sebagai “bencana alam”, solusi yang diambil akan tetap dangkal—sekadar tambal sulam di hilir. Padahal, persoalan sesungguhnya ada di hulu: hutan yang rusak, tata ruang yang dilanggar, dan kebijakan yang abai.

Banjir di Banten bukan sekadar peringatan. Ia adalah bukti bahwa kita gagal mengelola lingkungan dan memilih untuk menutup mata. Ini bukan takdir. Ini konsekuensi.

Dan selama kita terus bersembunyi di balik istilah “bencana alam”, selama itu pula kita ikut melanggengkan kerusakan. Ketika banjir berikutnya datang—dan itu pasti—yang perlu dipertanyakan bukan lagi alam, melainkan siapa yang harus bertanggung jawab.

Identitas PenulisNama: Pina HendrianaAfiliasi: Mahasiswa Biologi Universitas Pamulang Kampus SerangDomisili: Kota SerangEmail: pina.hendriana9@gmail.com

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image