Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Nilai Tinggi, Adab Rendah? Menuju Pendidikan yang Memanusiakan

Eduaksi | 2026-05-02 19:39:24

Oleh Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Muliadi Saleh, Penulis

Setiap kali Hari Pendidikan Nasional datang, bangsa ini seperti berdiri di depan cermin besar. Menatap dalam dan berharap bayangan yang muncul adalah wajah pendidikan terbaik bangsa. Namun tahun ini, ada wajah paradoks. Nilai-nilai akademik meningkat, tetapi adab seperti berjalan tertatih, bahkan tertinggal.

Angka menjadi legitimasi utama. Nilai ujian, IPK, akreditasi, skor literasi semuanya menjadi ukuran keberhasilan. Sementsrs laporan nasional tentang karakter pelajar menunjukkan meningkatnya kasus perundungan, intoleransi, dan krisis integritas di lingkungan pendidikan. Kita seperti membangun gedung tinggi tanpa fondasi yang cukup dalam.

Di sinilah ironi itu bermula. Pendidikan kita semakin terukur, tetapi semakin kehilangan makna. Kita menghasilkan lulusan yang fasih menjawab soal, tetapi kerap gagap menghadapi kehidupan.

Padahal, jauh sebelum republik ini berdiri, telah mengingatkan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak—bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan budi pekerti. Dalam napas yang sama, tradisi sufistik mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kehampaan yang berisik. menulis, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Tetapi hari ini, kita bahkan melangkah lebih jauh: ilmu diajarkan, amal dilupakan, dan adab ditangguhkan.

Pendidikan perlahan berubah menjadi transaksi. Guru mengajar, murid membayar, institusi mengejar target. Relasi yang dahulu penuh keteladanan kini direduksi menjadi hubungan administratif. Dalam logika pasar, ilmu menjadi komoditas, bukan cahaya. Dan di titik ini, kita mulai kehilangan arah.

Namun, di tengah kabut itu, masih ada nyala-nyala kecil yang menolak padam.

Di pelosok negeri—di wilayah 3T—ada guru yang berjalan berjam-jam menembus hutan dan sungai hanya untuk memastikan satu kelas tetap hidup. Mereka mengajar tanpa kepastian gaji, tetapi dengan keyakinan bahwa satu anak yang tercerahkan lebih berharga dari seribu angka statistik. Di ruang-ruang sederhana, mereka menulis masa depan dengan kapur yang hampir habis.

Di kota-kota, ada dosen yang memilih tetap jujur di tengah godaan plagiarisme dan industrialisasi akademik. Mereka menolak menjadikan kampus sebagai pabrik gelar. Mereka menghidupkan diskusi, merawat nalar kritis, dan menghadirkan ilmu sebagai jalan pembebasan.

Dan di antara para murid, kita menemukan kisah-kisah yang menghangatkan harapan: siswa yang menggalang dana untuk temannya agar tetap sekolah, santri yang merawat gurunya yang sakit, mahasiswa yang kembali ke desa untuk mengajar anak-anak tanpa bayaran. Mereka mungkin tidak viral, tetapi mereka nyata—dan justru di situlah pendidikan menemukan maknanya.

Inilah wajah pendidikan yang memanusiakan: ketika ilmu tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga melembutkan. Ketika belajar tidak hanya mengasah logika, tetapi juga menumbuhkan empati. Ketika sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh nilai, tetapi ruang untuk menemukan diri.

Agama dan budaya kita telah lama menyediakan fondasi itu. Dalam Islam, adab bahkan didahulukan sebelum ilmu. Tradisi pesantren mengajarkan bahwa keberkahan ilmu lahir dari penghormatan kepada guru. Dalam budaya Nusantara, sopan santun bukan sekadar etika sosial, tetapi cara menjaga harmoni hidup. Pendidikan yang memanusiakan berarti kembali merajut dua sumber ini: wahyu dan kearifan lokal.

Seorang sufi besar, , pernah berbisik: “Didiklah jiwamu, karena jika jiwa itu baik, dunia akan ikut membaik.” Kalimat ini terasa seperti teguran lembut bagi sistem pendidikan kita yang terlalu sibuk membangun dunia luar, tetapi lupa merawat dunia dalam.

Maka Hardiknas 2026 seharusnya tidak berhenti pada upacara dan pidato. Ia harus menjadi momentum evaluasi yang jujur—tentang ketimpangan akses yang masih menganga, tentang guru yang belum sepenuhnya dimuliakan, dan tentang kurikulum yang kadang terlalu padat tetapi kurang dalam.

Kita perlu keberanian untuk menggeser orientasi: dari sekadar “mencetak lulusan” menjadi “membentuk manusia.” Dari mengejar capaian kognitif semata menuju keseimbangan antara intelektual, emosional, dan spiritual. Dari pendidikan yang transaksional menuju pendidikan yang relasional—yang menghidupkan kembali makna perjumpaan antara guru dan murid sebagai peristiwa kemanusiaan yang sakral.

Jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi yang pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi ragu untuk hidup dalam kebenaran itu sendiri.

Dan pada akhirnya, pertanyaan itu akan terus menggema di ruang-ruang kelas kita: nilai boleh tinggi, tetapi jika adab rendah—apakah kita benar-benar sedang mendidik?

Mungkin jawabannya sederhana, tetapi menuntut keberanian: kembalilah pada jiwa. Karena pendidikan sejatinya bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan seberapa dalam kita menjadi manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image