Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Di Antara Keterampilan dan Tujuan Vokasi

Iptek | 2026-05-01 14:19:07

Di sebuah ruang praktik yang dipenuhi suara mesin dan instruksi teknis, pendidikan vokasi menemukan wajahnya yang paling nyata, yaitu melatih, menyiapkan, dan mengarahkan. Di sana, masa depan sering dipersepsikan dalam bentuk keterampilan yang terukur dan kesiapan yang dapat diuji. Dalam konteks inilah, kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi di Jawa Barat hadir sebagai upaya memperkuat jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Pemerintah melalui sinergi lintas sektor antara pusat, daerah, Balai Latihan Kerja (BLK), dan industri, berupaya memastikan bahwa lulusan vokasi selaras dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. (Biroadpim.jabarprov.go.id, 24 April 2026).

Gagasan ini tampak logis, mengurangi kesenjangan antara lulusan dan lapangan kerja, serta meningkatkan efisiensi penyerapan tenaga kerja.

Namun, dalam ruang refleksi yang lebih tenang, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah keterhubungan dengan dunia kerja sudah cukup untuk menjelaskan makna pendidikan itu sendiri?

*Pandangan Islam*

Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak berdiri di atas kebutuhan praktis semata. Ia bertumpu pada kesadaran tentang hakikat manusia dan tujuan penciptaannya.

Allah Swt. berfirman,

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini memberikan arah yang mendasar bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada produktivitas, melainkan pada pengabdian. Dalam kerangka ini, bekerja menjadi bagian dari ibadah, tetapi bukan satu-satunya orientasi. Ia harus berjalan seiring dengan pemahaman nilai dan tanggung jawab yang lebih luas.

Pendidikan vokasi, dengan segala keunggulannya dalam membekali keterampilan teknis, tetap membutuhkan fondasi nilai agar tidak kehilangan arah. Tanpa fondasi tersebut, ada kemungkinan keterampilan hanya menjadi alat yang berdiri sendiri, tanpa keterikatan pada tujuan yang lebih tinggi.

Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakannya." (HR. Thabrani)

Hadis ini sering dipahami sebagai dorongan untuk profesionalitas. Namun, profesionalitas dalam Islam bukan hanya soal kualitas hasil kerja, melainkan juga tentang niat, kejujuran, dan dampak dari pekerjaan itu sendiri.

Dengan kata lain, kualitas teknis harus berjalan beriringan dengan kualitas moral. Ketika pendidikan terlalu difokuskan pada kebutuhan pasar kerja yang terus berubah, ada kecenderungan bahwa arah pendidikan menjadi reaktif. Kurikulum disesuaikan dengan permintaan saat ini, sementara pembentukan karakter yang bersifat jangka panjang bisa terpinggirkan.

Akibatnya, peserta didik mungkin siap menghadapi dunia kerja hari ini, tetapi belum tentu memiliki ketahanan nilai untuk menghadapi perubahan di masa depan.

Di sisi lain, penting untuk diakui bahwa dunia kerja memang membutuhkan tenaga terampil. Tidak ada yang keliru dengan upaya meningkatkan kompetensi.

Namun, ketika pendidikan sepenuhnya mengikuti dinamika tersebut, muncul risiko bahwa manusia dipandang sebatas fungsi ekonominya.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan berpotensi kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi ruhiyah, aqliyah, dan jasadiyah. Ketiganya harus dibangun secara seimbang.

Pendidikan yang hanya menekankan aspek keterampilan tanpa memperkuat dimensi ruhiyah dan aqliyah akan menghasilkan individu yang mungkin cakap secara teknis, tetapi rapuh dalam menghadapi persoalan nilai.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab, bukan hanya terhadap dirinya, tetapi juga terhadap lingkungan sekitarnya. Pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran tanggung jawab ini. Ia tidak cukup hanya mencetak pekerja, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial.

Revitalisasi pendidikan vokasi di Jawa Barat dapat dilihat sebagai langkah strategis jika diposisikan secara proporsional. Keterhubungan dengan dunia industri dapat menjadi sarana, bukan tujuan akhir. Ia membantu membuka akses kerja, tetapi tidak boleh menggeser orientasi pendidikan yang lebih luas.

Penting untuk memastikan bahwa dalam setiap program pelatihan dan pembelajaran, nilai-nilai integritas, kejujuran, dan kesadaran spiritual tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Peserta didik perlu diajak untuk memahami bahwa keterampilan yang mereka miliki bukan sekadar alat untuk mencari nafkah, tetapi juga amanah yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Selain itu, pendekatan pendidikan yang terlalu berorientasi pada kebutuhan eksternal perlu diimbangi dengan penguatan internal peserta didik. Kemampuan berpikir kritis, daya adaptasi, serta keteguhan prinsip menjadi bekal penting di tengah perubahan yang cepat.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap kebijakan yang ada, melainkan sebagai upaya menghadirkan perspektif yang lebih utuh. Setiap kebijakan tentu memiliki tujuan baik, namun tetap memerlukan ruang evaluasi agar tidak kehilangan arah.

Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang manusia, bukan sekadar tentang pekerjaan yang akan ia jalani, tetapi tentang makna hidup yang akan ia pahami.

Revitalisasi vokasi akan menemukan kekuatannya yang sejati ketika ia tidak hanya menjawab kebutuhan dunia kerja, tetapi juga menjaga tujuan hakiki pendidikan, yakni membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan menyadari perannya dalam kehidupan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image