Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nabila Fahm

Bandung Surga Kuliner

Kuliner | 2026-04-29 19:32:51

Apa rahasianya? Mengapa di tahun 2026 ini, ketika inflasi membuat harga kopi susu saja sudah setara makan siang, Sidodadi tetap bertahan dengan harga yang "tidak masuk akal" namun kualitas yang tetap terjaga?

Kebanyakan bisnis kuliner saat ini menjual experience atau suasana. Kita membayar mahal untuk desain interior dan kemasan yang cantik. Sidodadi melakukan hal sebaliknya. Mereka fokus pada produk. Dengan tetap mempertahankan kesederhanaan tokonya, mereka berhasil memangkas biaya overhead yang tidak perlu, sehingga harga roti tetap merakyat. Ini adalah bentuk keberpihakan pada konsumen yang nyata. Harga rotinya juga unik, seperti Rp5,400.

Di Bandung, tren kuliner datang dan pergi secepat unggahan Instagram Story. Mulai dari croissant berlapis emas hingga donat dengan topping absurd. Namun, di Jalan Otto Iskandardinata, antrean tetap mengular di sebuah toko sederhana bernama Roti Sidodadi.

Sidodadi tidak menggunakan bahan pengawet atau pelembut kimiawi yang berlebihan. Tekstur rotinya padat dan mengenyangkan—tipe roti "jadul" yang jujur. Keberanian untuk tidak mengubah resep demi mengikuti selera pasar yang serba instan justru menjadi nilai unik. Bagi generasi lama, ini adalah nostalgia; bagi generasi Z, ini adalah "penemuan" autentik yang langka.

Banyak tempat mendadak viral karena influencer, lalu meredup dalam hitungan bulan. Sidodadi viral secara organik. Orang-orang rela antre dari jam 6 pagi bukan karena ingin pamer foto, tapi karena rasa takut kehabisan Roti Cokelat atau Roti Jagung kesukaan mereka. Viralitas Sidodadi adalah pengakuan atas ketahanan (resilience) sebuah bisnis keluarga.

"Sidodadi membuktikan bahwa integritas pada kualitas dan empati pada kantong pelanggan adalah strategi pemasaran terbaik yang pernah ada."

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image