Di Hulu yang Terlupa, Hilir Menanggung Luka
Dunia islam | 2026-04-27 10:45:31
Sering kali perhatian publik tertuju pada genangan di hilir, rumah yang terendam, jalan yang lumpuh, dan warga yang mengungsi. Padahal, cerita sesungguhnya kerap dimulai jauh di hulu: pada ruang-ruang yang pelan-pelan berubah fungsi, pada tanah yang kehilangan daya serapnya, dan pada aliran air yang tak lagi menemukan jalur alaminya.
Peristiwa banjir yang kembali terjadi di Kabupaten Bandung pada April 2026 menguatkan kenyataan tersebut. Hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu memicu meluapnya Sungai Citarum hingga merendam sejumlah permukiman. Ribuan warga terdampak, sementara penanganan darurat kembali digerakkan. (Koran-gala.id, 12 April 2026)
Jika ditarik lebih jauh, kejadian ini bukanlah peristiwa tunggal. Ia merupakan bagian dari pola berulang yang muncul setiap musim hujan. Ada semacam kesinambungan antara keputusan-keputusan masa lalu dengan dampak yang dirasakan hari ini. Sayangnya, kesinambungan itu sering kali luput dari pembacaan yang utuh.
Dalam kerangka pikir Islam, realitas semacam ini tidak dipandang sebagai kebetulan semata. Al-Qur’an memberikan petunjuk yang tegas, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki andil dalam terciptanya kerusakan. Ia mengajak untuk melihat bencana tidak hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai konsekuensi dari relasi yang tidak seimbang antara manusia dan lingkungannya.
Ketika kawasan hulu mengalami tekanan, baik karena perubahan tata guna lahan, pengurangan vegetasi, maupun aktivitas lain yang mengganggu keseimbangan, maka hilir akan menerima dampaknya. Air yang seharusnya terserap akan mengalir deras, membawa serta sedimen, dan meluap ketika kapasitas sungai terlampaui. Dalam konteks ini, banjir bukan sekadar “datang”, tetapi “diundang” oleh rangkaian sebab yang panjang.
Menariknya, Islam telah lama menekankan pentingnya menjaga keseimbangan. Dalam QS. Ar-Rahman ayat 7–8, Allah Swt. berfirman bahwa Dia meninggikan langit dan meletakkan keseimbangan (mizan), agar manusia tidak melampaui batas dalam menjaga keseimbangan tersebut. Konsep mizan ini sangat relevan dalam membaca persoalan lingkungan. Ia mengisyaratkan bahwa setiap unsur memiliki proporsi yang harus dijaga, termasuk dalam pengelolaan alam.
Dalam praktik keseharian, ajaran ini diterjemahkan melalui sikap tidak berlebih-lebihan dan tidak merusak. Rasulullah saw. bahkan melarang tindakan yang mengganggu lingkungan, termasuk dalam hal yang tampak sederhana. Dalam sebuah riwayat, beliau melarang buang hajat di sumber air atau tempat berteduh manusia, menunjukkan bahwa kebersihan dan kelestarian lingkungan adalah bagian dari etika hidup seorang Muslim.
Namun, dalam realitas yang berkembang, sering kali orientasi pengelolaan ruang lebih menekankan aspek pemanfaatan daripada penjagaan. Alam dipandang sebagai ruang yang dapat diolah tanpa batas, selama memberikan manfaat yang terukur secara cepat. Pertimbangan jangka panjang kerap tersisih oleh kebutuhan sesaat. Di sinilah letak persoalan yang perlu direnungkan bersama.
Pendekatan penanganan yang dominan saat ini juga masih berfokus pada hilir persoalan—bagaimana mengatasi dampak, bukan mencegah sebab. Evakuasi, bantuan logistik, dan perbaikan infrastruktur memang penting, tetapi tanpa diiringi pembenahan di hulu, upaya tersebut akan selalu berulang dalam siklus yang sama.
Islam menawarkan cara pandang yang lebih menyeluruh. Manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), yang berarti memiliki tanggung jawab untuk mengelola, bukan sekadar memanfaatkan. Tanggung jawab ini mencakup kemampuan untuk membaca dampak, menimbang maslahat, dan menjaga keseimbangan.
Dari sudut pandang ini, pengelolaan lingkungan seharusnya tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam nilai-nilai moral dan spiritual. Keputusan yang diambil tidak hanya diukur dari sisi manfaat langsung, tetapi juga dari dampaknya terhadap keberlanjutan dan keadilan bagi generasi berikutnya.
Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai ajakan untuk meninjau kembali cara pandang yang selama ini digunakan. Bahwa mungkin, ada aspek-aspek yang perlu disempurnakan, ada kebijakan yang perlu ditinjau ulang, dan ada kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Pada akhirnya, banjir bukan hanya tentang air yang meluap. Ia adalah narasi panjang tentang hubungan manusia dengan alam. Ketika hubungan itu dibangun di atas keseimbangan dan tanggung jawab, maka alam akan menjadi sahabat. Namun, ketika ia diabaikan, alam memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan.
Hilir mungkin yang pertama terlihat, tetapi hulu adalah tempat segalanya bermula. Dan di sanalah, seharusnya perhatian utama diarahkan, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih terjaga.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
