Gejolak Selat Hormuz: Intelektual IPB Peringatkan Krisis Energi
Event | 2026-04-26 23:39:23Bogor-Forum Akademisi Muslim (FAM) IPB kembali menyelenggarakan Forum Diskusi Intelektual Muslim ke-3 pada Ahad, 26 April 2026, yang bertempat di Ruang Danau 2, Gedung Sekolah Pascasarjana IPB University, Dramaga. Kegiatan yang dihadiri oleh 36 peserta dari berbagai kalangan ini mengangkat isu krusial mengenai gejolak Selat Hormuz pasca penutupan jalur strategis tersebut oleh Iran pada Februari 2026. Penutupan ini merupakan respons atas eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, yang kemudian memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia. Melalui forum ini, para intelektual muda IPB berupaya membedah situasi secara komprehensif, sekaligus merumuskan perspektif strategis bagi Indonesia di tengah krisis global yang berkembang.
Pembahasan diawali oleh Muh Syabril Diandra, Presiden Dewan Energi Mahasiswa IPB University, yang menyoroti krisis Hormuz sebagai manifestasi dari ketidakadilan dalam ekologi politik global. Ia menekankan bahwa persoalan mendasar terletak pada bagaimana aturan global menentukan distribusi dan akses terhadap sumber daya. Dalam konteks tersebut, Syabril mengangkat konsep “keadilan antar generasi” sebagai prinsip penting yang harus dijaga. Menurutnya, generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya tidak mengorbankan masa depan. Indonesia, sebagai negara yang rentan terhadap perubahan iklim dan kenaikan muka air laut, perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga kualitas lingkungan dan keberlanjutan sumber daya demi generasi mendatang.
Analisis kemudian dilanjutkan oleh Farhan Ramdhani, S.Pi., M.Si., selaku Lurah BPI-PDDI 0.5 IPB dan Mahasiswa S3 TPL IPB yang memfokuskan pembahasan pada dampak langsung terhadap sektor perikanan nasional. Ia menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global (chokepoint), sehingga gangguan di kawasan ini akan berdampak signifikan terhadap harga energi dunia. Bagi Indonesia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional nelayan dan menurunkan hasil tangkapan hingga 10–30 persen. Farhan menegaskan bahwa dampak ini tidak hanya berdimensi ekonomi, tetapi juga mengancam ketahanan pangan nasional serta berpotensi mendorong urbanisasi nelayan. Oleh karena itu, ia mendorong adanya langkah konkret berupa diversifikasi energi, peningkatan efisiensi bahan bakar kapal, serta penguatan sistem logistik perikanan nasional guna menghadapi tekanan geopolitik yang semakin kompleks.
Sebagai penutup, Dr. Erus Rustami, M.Si., Dosen Departemen Fisika IPB University memberikan perspektif yang lebih luas dengan menyoroti posisi umat Islam dalam dinamika global. Ia mengangkat analogi “buih di lautan” untuk menggambarkan kondisi umat yang besar secara jumlah, namun lemah dalam kekuatan kolektif. Melalui pendekatan ilmiah, ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut serupa dengan atom-atom yang tidak terorganisasi sehingga kehilangan daya tarik. Menurutnya, diperlukan “medan magnet luar” berupa visi bersama dan kepemimpinan global yang mampu menyatukan potensi negara-negara Muslim. Ia menegaskan bahwa kebangkitan umat hanya dapat terwujud apabila terdapat kesatuan arah dalam kepemimpinan yang mandiri dan kuat.
Diskusi berlangsung dinamis dan mendapat respons positif dari para peserta yang memenuhi ruangan. Sesi tanya jawab menjadi ruang interaksi yang hidup, di mana berbagai pandangan kritis dan reflektif disampaikan. Salah satu peserta menyebut bahwa forum ini tidak hanya menyajikan data teknis terkait krisis energi dan perikanan, tetapi juga membuka wawasan tentang akar persoalan geopolitik serta solusi yang lebih mendasar. Peserta lainnya menilai bahwa diskusi ini berhasil mengaitkan isu sains dan teknologi dengan realitas sosial-politik secara tajam dan relevan dengan kondisi global saat ini.
Secara keseluruhan, FAM ke-3 menyimpulkan bahwa krisis Selat Hormuz harus dimaknai sebagai momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan energi dan pangan. Lebih dari itu, forum ini juga menegaskan pentingnya kesadaran kolektif dalam membangun persatuan global umat Islam guna menjaga sumber daya alam serta mempertahankan kedaulatan dari berbagai bentuk intervensi penjajahan gaya baru. Diskusi ini sekaligus menegaskan peran penting intelektual muda dalam merespons tantangan global secara kritis, sistematis, dan solutif.[]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
