Ungkapan 'Zaman Kebalik'
Eduaksi | 2026-04-23 07:43:02
Ungkapan "Zaman Kebalik"
Oleh: Dr. Heru Siswanto, M. Pd.I*
Adanya ungkapan "zaman kebalik" sering menggambarkan kondisi di mana nilai moral dan kebenaran terdistorsi.
Dalam hal ini, perilaku buruk dianggap lumrah dan perilaku baik justru sulit atau bahkan disalah artikan.
Sehingga pada akhirnya memunculkan fenomena: "orang yang berkata benar harus berani membayar, orang yang berkata bohong justru dibayar, orang benar sering kali dalam posisi tidak diuntungkan oleh kebenarannya, orang yang memiliki hati jahat mendapatkan keuntungan dari bualannya, orang yang berprinsip dan bersama kebenaran tidak cukup menyampaikan bahkan menyerukan kebenaran, akan tetapi harus bisa membiayai kebenaran itu, orang yang memiliki hati jahat bisa populer dengan bermodalkan kedustaannya, bahkan bisa menjadi alat kekuasaan dan ia akan dibayar dengan harga yang tinggi".
Ini menjadi cermin situasi di mana kejujuran, kebenaran atau tindakan lurus menjadi komoditas langka yang sangat mahal harganya.
Fenomena ini sebetulnya mengingatkan pada kita, bahwa kondisi sosial di mana integritas itu penting, meskipun sulit, tetap menjadi hal yang harus diperjuangkan meskipun dalam kondisi yang tidak mendukung.
Mari Merenungi Diri......
*Ketua Program Studi dan Dosen Pascasarjana IAI Al-Khoziny Sidoarjo; Dosen PAI Politeknik Pelayaran Surabaya; Dosen Aswaja UNUSIDA
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
